Kepala Sekolah Dituntut Melek Digital, Harus Jadi Nakhoda Perubahan

harianfajar
2 jam lalu
Cover Berita

HARIAN.FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Kepala sekolah dituntut tidak hanya memiliki kompetensi manajerial, tetapi juga mampu memimpin transformasi digital di lingkungan pendidikan. Perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan (AI) mengharuskan kepala sekolah mengubah pola kepemimpinan agar guru mampu menghadirkan pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan generasi saat ini.

Hal tersebut mengemuka dalam kegiatan Pengembangan Kompetensi Manajerial Kepala Sekolah SD yang diselenggarakan Dinas Pendidikan Kota Makassar di Hotel Karebosi Premier, Makassar, Rabu-Kamis (21-22/10/2026).

Kegiatan tersebut dibagi dalam dua angkatan. Angkatan pertama berlangsung Rabu (21/10/2026), sedangkan angkatan kedua dilaksanakan Kamis (22/10/2026). Peserta merupakan kepala sekolah dasar dari berbagai kecamatan di Kota Makassar.

Kepala Balai Besar Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Provinsi Sulawesi Selatan, Dr Arman Agung, M.Pd., menegaskan kepala sekolah memegang peran strategis dalam mengarahkan satuan pendidikan menghadapi perubahan metode pembelajaran di era digital.

Menurut dia, perkembangan teknologi membuat dunia pendidikan mengalami perubahan signifikan. Guru yang selama ini terbiasa dengan metode konvensional kini harus menyesuaikan diri dengan pemanfaatan teknologi dalam proses pembelajaran.

Dalam situasi tersebut, kepala sekolah tidak boleh hanya berperan sebagai administrator. Mereka harus menjadi pemimpin perubahan yang mampu membangun kesiapan seluruh warga sekolah untuk beradaptasi.

“Kepala sekolah itu seperti nakhoda kapal. Dia harus punya kearifan dan kebijakan untuk mengantarkan sekolah yang dipimpinnya agar mampu menerapkan era digital secara bijak,” ujar Arman.

Dia menjelaskan, digitalisasi pembelajaran menawarkan berbagai keuntungan, termasuk efisiensi waktu dan kemudahan mengakses sumber belajar. Guru juga tidak lagi menjadi satu-satunya sumber pengetahuan, melainkan berperan sebagai fasilitator yang membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir dan menerapkan ilmu.

Namun, transformasi digital tidak cukup hanya dengan menyediakan teknologi. Perubahan pola pikir guru menjadi salah satu tantangan yang harus dihadapi kepala sekolah.

Arman menilai, kepala sekolah perlu mampu mendorong guru untuk terus belajar, termasuk mereka yang telah lama mengajar dengan metode konvensional dan merasa kesulitan mengikuti perkembangan teknologi.

“Guru yang berhenti belajar seharusnya berhenti jadi guru. Kepala sekolah yang tidak mau juga belajar, harusnya tidak layak jadi kepala sekolah,” tegasnya.

Menurut Arman, pembelajaran sepanjang hayat menjadi kebutuhan mendasar bagi pendidik dan tenaga kependidikan. Perubahan persoalan pendidikan saat ini menuntut kemampuan beradaptasi yang berbeda dibandingkan satu dekade lalu.

Di sisi lain, dia mengingatkan agar digitalisasi tidak menghilangkan nilai-nilai kemanusiaan dalam pendidikan. Pemanfaatan teknologi harus tetap memperhatikan proses belajar, kerja keras guru, serta hubungan antara pendidik dan peserta didik.

Arman menyebut risiko dehumanisasi perlu diantisipasi apabila teknologi hanya digunakan untuk mengejar hasil tanpa menghargai proses. Karena itu, kepala sekolah harus memastikan transformasi digital tetap berpijak pada nilai-nilai pendidikan.

“Jangan sampai karena teknologi, nilai-nilai kearifan lokal kita hilang. Budaya sipakatau, sipakalebbi, dan sipakainge tetap penting dipahami kepala sekolah,” ujarnya.

Dia juga menekankan pentingnya pendekatan yang mengedepankan hubungan emosional dalam memimpin guru. Kepala sekolah perlu merangkul, memahami kondisi, dan membangun kepercayaan sebelum mendorong perubahan.

Menurutnya, kepemimpinan yang efektif tidak hanya bertumpu pada instruksi. Perubahan akan lebih mudah diterapkan apabila seluruh warga sekolah memahami manfaatnya dan terlibat secara sadar.

“Kepala sekolah itu pemimpin, bukan penguasa,” katanya.

Sementara itu, Ketua Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S) Kecamatan Ujung Pandang, Burhanuddin Talib, S.Pd., M.Pd., menilai pengembangan kompetensi manajerial penting untuk membantu kepala sekolah mengelola sumber daya dan menghadapi tantangan pendidikan yang semakin kompleks.

Dia mengatakan, kepala sekolah harus mampu menjembatani perbedaan karakteristik antara guru yang terbiasa dengan metode pembelajaran lama dan peserta didik yang tumbuh di tengah perkembangan teknologi digital.

Selain tantangan adaptasi teknologi, Burhanuddin mengungkapkan persoalan kekurangan tenaga pendidik masih menjadi kendala yang dihadapi sejumlah sekolah dasar di Makassar.

Dia mencontohkan, sekolah yang dipimpinnya masih membutuhkan guru olahraga dan guru bahasa Inggris. Kebutuhan tersebut menjadi tantangan tersendiri dalam memastikan hak belajar siswa tetap terpenuhi.

“Di sekolah kami masih ada kekurangan guru, terutama guru olahraga dan bahasa Inggris. Bagaimana kami mengelola kondisi ini agar anak-anak tetap mendapatkan hak belajarnya dan proses pembelajaran tetap berjalan,” ujarnya.

Burhanuddin menjelaskan, upaya memenuhi kebutuhan tenaga pendidik juga menghadapi kendala administratif. Menurut dia, sekolah memiliki keterbatasan dalam merekrut dan membayar tenaga guru melalui dana Bantuan Operasional Satuan Pendidikan (BOSP), terutama terkait persyaratan pencatatan dalam Data Pokok Pendidikan (Dapodik).

Kondisi tersebut, kata dia, membutuhkan perhatian agar kebutuhan tenaga pendidik dapat dipenuhi tanpa mengabaikan ketentuan administrasi dan penggunaan anggaran.

Selain persoalan jumlah guru, Burhanuddin menyoroti perlunya perubahan pendekatan pembelajaran. Guru diharapkan tidak terus bertahan pada metode ceramah, tetapi mulai menerapkan pembelajaran mendalam yang mendorong siswa memahami, mengaplikasikan, dan merefleksikan pengetahuan.

Dia berharap pengembangan kompetensi manajerial dapat membantu kepala sekolah mengawal peningkatan kualitas guru, mulai dari perencanaan pengembangan kompetensi hingga penerapan pembelajaran di kelas.

“Target kami adalah bagaimana guru-guru memiliki kemampuan menerapkan pembelajaran mendalam di kelas sehingga berdampak pada kualitas belajar siswa,” katanya.

Burhanuddin juga berharap pengembangan kompetensi guru berjalan beriringan dengan peningkatan kesejahteraan dan pemenuhan kebutuhan tenaga pendidik, baik dari sisi jumlah maupun kualitas.

Kegiatan yang digelar Dinas Pendidikan Kota Makassar ini diharapkan menjadi bekal bagi kepala sekolah untuk memperkuat kepemimpinan, mengelola sumber daya satuan pendidikan, serta mengarahkan guru menghadapi perubahan metode pembelajaran.

Tantangan berikutnya adalah memastikan pengetahuan yang diperoleh selama pelatihan diterapkan dalam pengelolaan sekolah. Evaluasi dan pemantauan oleh penyelenggara menjadi penting untuk melihat sejauh mana materi pelatihan berdampak pada kepemimpinan kepala sekolah dan kualitas pembelajaran.

Dengan kompetensi manajerial yang kuat, kepala sekolah diharapkan mampu menyeimbangkan pemanfaatan teknologi, penguatan karakter, serta pemenuhan kebutuhan belajar siswa. Transformasi digital pun tidak sekadar menjadi perubahan penggunaan alat, tetapi juga perbaikan cara sekolah mengelola pendidikan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
KDM Pimpin Pemadaman Karhutla di Gunung Ciremai, Beri Bonus Warga yang Bantu
• 4 jam lalukumparan.com
thumb
Albanese Peringatkan Indonesia: Niat Baik di BoP Bisa Berujung Petaka bagi Palestina
• 18 jam lalurepublika.co.id
thumb
Di Bali, Bahlil Pastikan Cadangan BBM Nasional Aman Hingga 18 Hari ke Depan
• 17 jam lalukumparan.com
thumb
DPR Ungkap Syarat Penting bagi Pansel KPU
• 1 jam laluliputan6.com
thumb
Dua Tahun Pemerintahan, Menko Pangan: Alhamdulillah Ikhtiar Tunjukkan Hasil
• 19 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.