BBagi warga Kota Makassar dan Sulawesi Selatan, jeruk nipis bukan sekadar pelengkap makanan. Rasa asam dan kecut adalah ”bumbu” utama sekaligus pengalaman kultural yang melekat dalam kehidupan sehari-hari. Di tengah harga yang melejit dan kekeringan yang melanda, jeruk nipis perlahan menghilang dari meja makan.
Warung Coto Tamalanrea di Kota Makassar masih terbilang sepi, Kamis (22/10/2026). Hanya ada tiga orang yang tengah menyantap coto menjelang tengah hari itu. Padahal, saat jam makan tiba, biasanya sulit mendapatkan tempat di warung tersebut.
Syahril (33) salah satunya. Karyawan swasta ini menyantap coto seharga Rp 13.000 per porsi, harga yang masih cukup terjangkau bagi banyak kalangan. ”Tapi, dari tadi cari jeruk nipis tidak ada. Biasanya banyak di piring di setiap meja,” ujarnya. ”Kalau tidak pakai jeruk kan aneh rasanya.”
Baru setelah meminta, pelayan mengeluarkan sepiring jeruk nipis. Buahnya tampak menguning dan mulai mengering. Pada hari-hari sebelumnya, jeruk nipis biasanya segar dan gemuk, penuh air.
Bagi ayah empat anak ini, seperti halnya warga lain, jeruk nipis adalah bumbu terakhir sebelum makan. Semangkuk coto biasanya membutuhkan dua iris jeruk atau sekitar setengah buah. Sebagian orang bahkan menggunakan satu buah atau lebih.
”Pokoknya, makan tanpa jeruk nipis itu rasanya tidak lengkap. Baru sempurna kalau sudah ada jeruknya,” tambahnya.
Norma, penanggung jawab warung coto tersebut, mengatakan, jeruk nipis menjadi salah satu bahan yang nyaris tidak boleh hilang dari meja makan. Namun, kondisi saat ini membuat pihaknya kesulitan memenuhi kebutuhan tersebut.
Ia menyebutkan, harga jeruk nipis kini mencapai Rp 1 juta per karung berukuran sekitar 50 kilogram. ”Dua bulan lalu harga satu karung hanya Rp 80.000. Sekarang Rp 800.000 hingga Rp 1 juta,” katanya.
Menurut Norma, kenaikan harga berlangsung terus-menerus. Dari Rp 80.000 per karung, harga naik menjadi Rp 100.000, kemudian melonjak ke Rp 200.000, hingga mencapai harga saat ini.
Padahal, pihaknya membutuhkan satu karung jeruk nipis untuk kebutuhan sekitar dua hari. Stok tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan dua warung coto yang dikelola.
Kenaikan harga itu mau tidak mau disikapi dengan penghematan. Jika biasanya jeruk nipis dikeluarkan dalam jumlah banyak, kini penyajiannya dilakukan secara bertahap. Selain pasokannya terbatas, kualitas buah yang tersedia juga menurun. Jeruk lebih cepat kering dan kandungan airnya lebih sedikit sehingga penggunaannya justru bisa lebih boros.
”Bukan hanya jeruk nipis, tapi cabai juga tinggi sekali harganya. Semua harga naik. Makanya, bos pusing atur kebutuhan,” lanjutnya.
Di Pasar Daya, Biringkanaya, harga jeruk nipis memang melonjak. Satu kilogram jeruk nipis dijual sekitar Rp 28.000. Delapan buah jeruk nipis berukuran lebih kecil dari ukuran bola golf bisa mencapai Rp 10.000.
Muji, salah seorang pedagang, mengatakan, harga jeruk nipis mulai naik sejak sekitar dua bulan lalu. Kenaikan terjadi secara bertahap seiring dengan pasokan yang terus berkurang.
Menurut dia, berkurangnya pasokan, antara lain, dipengaruhi kemarau panjang dan distribusi yang terhambat. Akibatnya, harga terus meningkat dari waktu ke waktu.
”Daun jeruk saja kami jual Rp 10.000 per kilogram. Dulu kalau cuma ambil sedikit, kami kasih gratis saat ada yang beli jeruknya,” ujarnya.
Izzah (38), pembeli sekaligus pengelola usaha makanan rumahan, berharap situasi segera membaik. Ia harus memutar otak agar kebutuhan bahan baku tetap terpenuhi dan dagangannya tetap laku.
Persoalannya, harga bahan baku terus naik dan sebagian bahan semakin sulit ditemukan. Di sisi lain, ia enggan menaikkan harga jual makanan di tengah tekanan ekonomi yang juga dirasakan konsumennya.
”Karakter orang Bugis-Makassar itu suka makanan pedas dan asam. Kita upayakan rasanya tetap sama dengan bahan baku yang diatur sedemikian rupa,” ujar Izzah yang menjual palekko, makanan khas Sulawesi Selatan.
Upaya ”downgrade” dengan melakukan substitusi, adaptasi, atau penurunan standar bahan baku juga sejalan dengan telaah tim Jurnalisme Data Harian Kompas. Tim membandingkan rata-rata nasional bulanan harga sejumlah bahan pangan pada September 2025 dan September 2026.
Data harga pangan bersumber dari Sistem Pemantauan Pasar Kebutuhan Pokok Kementerian Perdagangan. Sementara itu, berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik, inflasi tercatat 4,37 persen. Hasil telaah menunjukkan, harga 15 komoditas pangan meningkat melampaui inflasi dalam setahun terakhir. Rata-rata kenaikan harga 15 bahan pangan tersebut mencapai 12,6 persen.
Sosiolog Universitas Hasanuddin Rahmad Muhammad mengatakan, lonjakan harga komoditas pangan esensial seperti cabai rawit dan jeruk nipis di pasar-pasar lokal Makassar bukan sekadar persoalan inflasi atau dinamika penawaran dan permintaan akibat faktor cuaca. Menurut dia, kondisi tersebut juga menyentuh persoalan mendasar dalam kesejahteraan masyarakat.
Bagi masyarakat lokal, lanjut Rahmad, cabai dan jeruk nipis memiliki nilai kultural dan sosiologis yang kuat, terutama dalam tradisi kuliner. Keduanya menjadi bagian penting dalam berbagai hidangan, mulai dari coto, pallubasa, sop saudara, hingga aneka sambal.
Kenaikan harga dua bahan tersebut, menurut dia, langsung berdampak pada pengeluaran rumah tangga dan kelangsungan usaha mikro informal.
”Dalam budaya makan lokal, cita rasa asam-pedas segar dari jeruk nipis asli dan cabai rawit segar bukan pelengkap opsional, melainkan komponen inti. Ketika bahan-bahan ini menjadi barang mahal, terjadi penurunan kualitas pengalaman konsumsi harian masyarakat,” jelas Rahmad.
Terlebih, di tengah pendapatan yang cenderung stagnan, inflasi bahan pangan membuat proporsi pengeluaran rumah tangga kelas menengah-bawah membengkak. Pada akhirnya, untuk memenuhi kebutuhan makan, sebagian rumah tangga harus mengurangi alokasi untuk tabungan atau kebutuhan sekunder lainnya.
Fenomena substitusi, adaptasi, atau penurunan kualitas bahan juga mulai terjadi. Sebagian pedagang dan rumah tangga mulai mengombinasikan atau mengganti jeruk nipis dengan cuka makanan atau asam jawa meskipun menyadari adanya perubahan pada cita rasa autentik.
Menurut Rahmad, adaptasi yang dilakukan warga menunjukkan kelenturan sosial yang tinggi dalam menghadapi tekanan ekonomi sehari-hari. Namun, adaptasi tersebut lebih bersifat bertahan hidup dan kerap dibayar dengan penurunan kualitas konsumsi masyarakat.
”Langkah yang lebih serius dibutuhkan agar ketahanan pangan terjaga. Mulai dari stabilisasi rantai pasok, bantuan terhadap UMKM, hingga kedaulatan pangan dari rumah dalam jangka panjang,” ucapnya.
Sementara itu, analisis lain mengaitkan kenaikan harga dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Menteri Pertanian dan Kedaulatan Pangan Kabinet Bayangan Isnawati Hidayah berpendapat, permintaan sejumlah komoditas pangan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi dalam jumlah besar menimbulkan persaingan mendapatkan pasokan dengan kebutuhan masyarakat di pasar.
Bagi warga seperti Syahril dan Izzah, pilihan yang tersedia saat ini adalah beradaptasi dengan kondisi yang semakin sulit. Mereka berharap situasi tidak terus memburuk hingga bahan-bahan yang selama ini menjadi bagian dari cita rasa sehari-hari benar-benar menghilang dari meja makan.





