Ratusan massa aksi menggelar demonstrasi memperingati dua tahun pemerintahan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka Presiden dan Wakil Presiden RI di kawasan Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Kamis (22/10/2026) sore.
Pantauan suarasurabaya.net, massa aksi tiba di Gedung Grahadi menjelang pukul 15.00 WIB sambil mengenakan pakaian serba hitam. Para demonstran tersebut berasal dari berbagai kalangan, mulai dari mahasiswa hingga masyarakat sipil.
Setibanya di Grahadi, massa aksi langsung membentuk barisan dan menyampaikan berbagai orasi tuntutan mereka terhadap jalannya pemerintahan Prabowo-Gibran selama dua tahun.
Selain itu, nampak sejumlah aparat kepolisian mengenakan jaket bertuliskan Siber yang berjaga di luar area aksi. Mereka menanyai sejumlah orang yang sedang menuju ke titik aksi terkait identitas dan tujuan mereka. Sementara itu Jalan Gubernur Suryo ditutup total selama jalannya demonstrasi.
Daniel Sumorang mahasiswa Universitas Airlangga (Unair), salah satu koordinator lapangan (korlap) sekaligus juru bicara aksi, mengatakan dua tahun pemerintahan seharusnya menjadi waktu bagi pemerintah untuk mengevaluasi pelaksanaan program-programnya.
Namun, menurut dia, sejumlah program pemerintah belum menunjukkan dampak positif yang dirasakan masyarakat.
“Dua tahun itu waktu yang cukup bagi mereka untuk bisa merefleksikan, apakah program-program yang dijalankan itu sudah sesuai, sudah nyata adanya, sudah dirasakan dampaknya yang positif oleh rakyat Indonesia, sudah tepat sasaran atau belum? Tapi nyatanya hingga hari ini belum,” kata Daniel.
Terlihat salah satu peserta aksi menunjukan foto Soeharto Presiden ke-2 RI bertuliskan “di atas janji reformasi, orde baru bangkit kembali” saat menggelar demonstrasi memperingati 2 tahun pemerintahan Prabowo-Gibran di depan Gedung Negara Grahadi sambil menunjukkan spanduk tuntutan, Kamis (22/10/2026). Foto: Wildan suarasurabaya.netDia menilai pelaksanaan program MBG dan Koperasi Desa Merah Putih belum memberikan hasil sesuai harapan. Ia juga mengkritik penggunaan anggaran pendidikan untuk program MBG, yang menurutnya mengurangi alokasi bagi sektor pendidikan.
“MBG, Koperasi Desa Merah Putih, zonk semuanya. Dan sampai hari ini, sampai detik ini masih berjalan. Anggaran pendidikan 20 persen yang dicatat di undang-undang, di konstitusi kita, dipotong untuk program makan beracun gratis, seperti itu,” ujarnya.
Daniel juga menilai penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) oleh pemerintah belum maksimal. Ia menyoroti dampak asap kebakaran yang telah meluas hingga ke negara tetangga, seperti Singapura dan Malaysia.
“Menurut mahasiswa ya, menurut saya juga belum masif, belum maksimal. Karena data juga menunjukkan ya, beberapa negara asing yang menawarkan untuk memberikan bantuan kepada Republik Indonesia itu bahkan tidak diindahkan, bukan ditolak, tidak diindahkan,” katanya.
Dia juga mengkritik pernyataan pemerintah yang meminta masyarakat menunggu hujan untuk membantu memadamkan kebakaran. Menurutnya, pemerintah seharusnya mengambil langkah konkret untuk menghentikan karhutla.
“Kalau memang dari pemerintah belum ada langkah konkrit untuk bagaimana untuk menghentikan Karhutla ini. Pemerintah bilang, tinggal tunggu hujan aja. Anak SD juga bisa ngomong gitu. Menurut saya ya, kepada rekan-rekan wartawan sekalian ya. Anak SD juga bisa ngomong gitu, ‘Tunggu hujan aja, Pak, nanti apinya juga padam’,” ujarnya.
Daniel mengatakan, penetapan karhutla sebagai bencana nasional menjadi salah satu tuntutan utama massa aksi.
“Dan kami menuntut agar bencana Karhutla ini ditetapkan sebagai bencana nasional statusnya. Seperti itu. Enggak usah tetek bengek ada syarat administratifnya, ‘Oh, kalau mau bencana nasional harus gini, harus itu, harus begini, harus gitu’,” kata Daniel.
Sementara itu, Daniel menyebut jumlah massa yang mengikuti demonstrasi di Grahadi mencapai sekitar 300 orang dan berpotensi bertambah.
Dia menyatakan aksi lanjutan akan digelar setelah demonstrasi tersebut. Konsolidasi dengan sejumlah aliansi perguruan tinggi di beberapa kota besar di Pulau Jawa juga telah dilakukan untuk mempersiapkan gerakan berikutnya.
“Akan ada aksi lanjutan. Akan ada aksi lanjutan. Entah itu di Surabaya, entah itu serentak di dari dari Sabang sampai Merauke, entah itu terpusat juga di Jakarta, pokoknya tetap akan ada aksi lanjutan, seperti itu,” tandas Daniel.(wld/bil/ham)




