Nilai Keagamaan Pesantren Modal Besar Cegah Generasi Muda Terpapar Paham Radikal

jpnn.com
4 jam lalu
Cover Berita

jakarta.jpnn.com - Guru Besar Sejarah Peradaban Islam UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon Didin Nurul Rosidin mengatakan nilai-nilai keagamaan dan kebangsaan yang diajarkan di pesantren memiliki potensi besar untuk membentuk imunitas generasi muda terhadap paham radikal. 

"Kekuatan utama santri itu terletak pada pertemuan antara kedalaman ilmu, pendidikan akhlak, pengalaman hidup bersama, dan kesadaran kebangsaan," kata Didin, Kamis (22/10). 

BACA JUGA: 2 Tahun Prabowo-Gibran, Fondasi Ekonomi Menguat, Investasi Terus Tumbuh

Didin menjelaskan, ketika keempatnya berjalan dengan baik, pesantren mempunyai modal penting membentuk ketahanan terhadap intoleransi, ekstremisme, dan kekerasan.

Meskipun demikian, dia mengingatkan bahwa ketahanan tersebut bukan sesuatu yang instan. 

BACA JUGA: Presiden Prabowo Minta KSP Listyo Sigit Kawal Program Strategis Pemerintah

Menurut dia, karakter moderat harus terus dipupuk melalui pendidikan yang konsisten dan berkesinambungan.

"Kita juga harus menyadari bahwa status sebagai santri itu tidak otomatis membuat mereka menjadi kebal terhadap propaganda. Inilah yang kemudian harus kita jadikan refleksi bahwa ketahanan itu merupakan hasil pendidikan yang harus terus dirawat," jelas Didin.

BACA JUGA: Ketum DPP FOKSI: 2 Tahun Asta Cita Prabowo, Kemajemukan Jadi Kekuatan Kemajuan Bangsa

Menurutnya, tradisi keilmuan di pesantren melatih para santri untuk tidak terburu-buru mengambil kesimpulan keagamaan yang sempit. 

Melalui metode belajar sorogan, bandongan, dan musyawarah, santri terbiasa melihat dinamika perbedaan pandangan secara bijaksana.

Didin menjelaskan santri belajar bahasa, membaca kitab, kemudian memahami penjelasan guru, dan mengenali perbedaan pendapat ulama. 

"Nah, ini tentunya diharapkan membuat santri berlatih lebih berhati-hati menghadapi kesimpulan keagamaan yang terlalu instan dan terlalu mudah, terutama yang suka mengafirkan, suka menyesatkan, atau menghalalkan kekerasan terhadap orang lain,” kata Didin.

Dia menjelaskan kehidupan berasrama turut menanamkan sikap tawadu, tasamuh, tawazun, tawassuth, dan itidal. 

Menurut dia, nilai-nilai etis itu mengajarkan toleransi dan keseimbangan dalam berinteraksi sosial sehingga perbedaan tidak dijadikan alasan untuk saling merendahkan atau melakukan tindakan kekerasan.

Menghadapi tantangan pada era digital, kerja sama antara lembaga pendidikan dan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menjadi sangat krusial. 

BNPT diharapkan terus membangun ekosistem pencegahan yang memungkinkan generasi muda belajar, berdialog, dan menyikapi perbedaan secara damai.

"BNPT masih sangat relevan hingga kini karena memang secara faktual kita masih menghadapi persoalan itu," kata Didin.

Didin mengusulkan agar BNPT membangun lingkungan atau ekosistem yang memungkinkan generasi muda belajar, bertanya, merasa dihargai, dan menyelesaikan perbedaan secara damai.

Untuk mewujudkan hal tersebut, terdapat beberapa langkah konkret yang bisa diimplementasikan. 

Di antaranya ialah membangun kemitraan pendidikan berkelanjutan antara pengasuh pesantren, akademisi, dan BNPT.

Langlah lainnya ialah menerapkan pembelajaran berbasis kasus nyata agar anak muda mampu mengidentifikasi narasi provokatif.

Didin juga mengusulkan agar BNPT menyusun pembelajaran berbasis kasus. Sebab, hal itu sangat sesuai dengan substansi yang dimiliki BNPT. 

Dengan demikian, peserta atau anak-anak muda bisa berlatih menghadapi potongan ceramah provokatif, berita konflik tanpa sumber, atau ajakan yang membenarkan penyerangan terhadap kelompok lain.

Didin Nurul Rosidin mendorong penerapan konsep kewaspadaan epistemik (epistemic vigilance) sebagaimana dirumuskan oleh Dan Sperber. 

Konsep ini menekankan pentingnya sikap kritis dan kehati-hatian dalam memfilter setiap informasi yang diterima di media sosial sebelum memercayai atau menyebarkannya.

"Dengan generasi muda yang moderat dan kritis itulah, akan muncul generasi yang kuat keyakinannya, jernih pertimbangannya, luas pergaulannya, dan yang lebih penting lagi ialah bertanggung jawab atas tindakannya," ujar Didin. (Jos/jpnn)


Redaktur & Reporter : Ragil


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Prabowo Sebut Negara Asing Hina Indonesia soal Karhutla
• 21 jam lalukatadata.co.id
thumb
Indonesia dan Singapura Luncurkan Project NUSA untuk Bangun Tata Kelola AI Terbuka dan Aman
• 23 jam lalupantau.com
thumb
IHSG Menguat, Fundamental Emiten BUMN Jadi Perhatian Investor
• 1 jam lalutvonenews.com
thumb
Sejumlah Tokoh Terima Penghargaan di Hari Museum Indonesia 2026
• 23 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Anggaran Promosi dan Diplomasi Luar Negeri Dipangkas Hampir Nol, Ini Risikonya
• 15 menit lalukatadata.co.id
Berhasil disimpan.