PKB Jatim Serukan Jihad Melawan Karhutla saat Hari Santri, 5.000 Bibit Pohon Dibagikan

jpnn.com
2 jam lalu
Cover Berita

jatim.jpnn.com, SURABAYA - DPW Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Jawa Timur menggelar apel peringatan Hari Santri Nasional di Lapangan Grha Gus Dur, Gayungsari, Surabaya, Kamis (22/10). Momentum ini dimanfaatkan untuk mengobarkan semangat pengabdian santri, khususnya dalam menjaga kelestarian lingkungan dan mencegah kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Sekretaris DPW PKB Jatim Multazamudz Dzikri yang bertindak sebagai pembina apel menegaskan, perjuangan santri tidak boleh hanya berfokus pada penguasaan ilmu agama dan pengabdian sosial. Santri juga harus mengambil peran dalam menjaga bumi dan menyelamatkan lingkungan.

BACA JUGA: Hadiah Rp1 Miliar Menanti! PKB Award 2026 Buka Apresiasi untuk Santri Kreatif

Menurut Multazam, di tengah ancaman karhutla, kepedulian terhadap alam harus diwujudkan melalui tindakan nyata.

“Di tengah tantangan zaman ini, salah satu medan pengabdian yang harus menjadi perhatian kita adalah menjaga bumi, menyelamatkan lingkungan, serta mencegah kebakaran hutan dan lahan,” tutur Multazam di hadapan peserta apel.

BACA JUGA: Patah Tulang, Santri Korban Penganiayaan 7 Senior di Pamekasan Hanya Bisa Terbaring di Kasur

Anggota DPRD Jatim itu mengingatkan, kebakaran hutan bukan sekadar menyebabkan kerusakan pepohonan. Bencana tersebut juga mengancam kesehatan masyarakat, merusak lingkungan, serta menghilangkan sumber penghidupan warga.

“Kita tidak boleh membiarkan hutan terbakar, udara tercemar, rakyat kehilangan sumber penghidupan, kesehatan masyarakat terancam asap, dan anak-anak kita mewarisi lingkungan yang rusak,” ujarnya.

BACA JUGA: Aksi 2 Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran di Malang, Sorot Penanganan Karhutla

Dia menilai, semangat jihad santri harus mampu menjawab persoalan nyata yang dihadapi masyarakat. Apabila dahulu perjuangan santri identik dengan mempertahankan kemerdekaan dan melawan penjajahan, kini semangat tersebut juga perlu diwujudkan melalui upaya menjaga kelestarian alam.

“Berarti, jihad santri hari ini adalah melawan karhutla,” ucapnya.

Multazam menambahkan tanggung jawab menjaga lingkungan tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah dan petugas di lapangan. Santri juga dapat berkontribusi melalui edukasi kepada masyarakat, membangun kepedulian lingkungan, serta mencegah praktik yang berpotensi memicu kebakaran hutan dan lahan.

“Menjaga alam adalah tanggung jawab kita sebagai manusia. Menjaga hutan berarti menjaga kehidupan, menjaga lingkungan berarti menjaga masa depan generasi mendatang,” katanya.

Dia pun mengajak para santri menjadikan peringatan Hari Santri Nasional sebagai momentum membangun gerakan kepedulian lingkungan yang berkelanjutan, bukan sekadar seruan seremonial.

“Kalau belum mampu memadamkan api, jangan menjadi penyebab kebakaran. Kalau belum mampu meredakan bencana, setidaknya jangan ikut menciptakannya,” ujarnya.

Selain menyoroti persoalan lingkungan, Multazam mengingatkan pentingnya menerjemahkan tema Hari Santri Nasional tahun ini, yakni Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas, menjadi kerja nyata yang berdampak bagi masyarakat.

Menurut dia, tema tersebut tidak boleh berhenti sebagai tulisan di spanduk atau slogan dalam pidato. Semangat Hari Santri harus diwujudkan melalui tekad, gerakan, dan kontribusi nyata untuk masa depan bangsa.

“Jangan biarkan tema ini berhenti menjadi tulisan di spanduk atau sekadar menjadi slogan di panggung. Jadikan ia tekad, jadikan ia gerakan, jadikan ia kerja nyata. Sebab, Indonesia Emas tidak akan lahir nyata dari pidato yang indah,” ujarnya.

Menurutnya, cita-cita Indonesia Emas membutuhkan fondasi yang kuat, mulai dari pendidikan berkualitas, ekonomi berkeadilan, politik bermartabat, hingga kepemimpinan yang berpihak kepada rakyat.

Dalam konteks tersebut, santri memiliki tanggung jawab untuk terus mengembangkan kapasitas diri sekaligus mengambil bagian dalam menyelesaikan berbagai persoalan bangsa. Nilai-nilai keagamaan, kata dia, harus hadir melalui tindakan yang menjawab kebutuhan masyarakat.

“Santri tidak boleh hanya menjadi penonton ketika sejarah ditulis. Santri harus tampil sebagai penentu arah zaman,” pungkasnya.

Sebagai penutup rangkaian peringatan Hari Santri Nasional, DPW PKB Jatim menyerahkan secara simbolis 5.000 bibit pohon kepada peserta apel. Penyerahan bibit tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong kepedulian terhadap lingkungan sekaligus mengajak santri mengambil peran dalam menjaga kelestarian alam. (mcr12/jpnn)


Redaktur & Reporter : Arry Dwi Saputra


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Mengenang Resolusi Jihad di Gedung Bersejarah NU Surabaya
• 4 jam lalukompas.id
thumb
Paus Leo XIV Tak Perlu Jalani Terapi Lanjutan Usai Operasi Kanker Paru-paru
• 6 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Menlu RI ingatkan WNI tak ikut-ikut dalam unjuk rasa di Eropa
• 6 jam laluantaranews.com
thumb
Cuaca Panas Masih Melanda Jatim, Suhu Udara Diprakirakan Capai 37 Derajat Celsius
• 12 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Jadwal Pertandingan Super League 2026-2027 Hari Ini: Persib Bandung Tantang Madura United
• 13 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.