Mesin Pengering Padi TEP ITS Hemat Waktu 8 Jam, Petani Manokwari Lepas dari Jerat Tengkulak

erabaru.net
2 jam lalu
Cover Berita

Manokwari Selatan – Petani di kawasan transmigrasi Distrik Oransbari, Kabupaten Manokwari Selatan, selama ini menghadapi kendala klasik pascapanen: pengeringan gabah yang bergantung cuaca. Saat cerah, penjemuran butuh sekitar lima hari; ketika hujan atau mendung, prosesnya bisa molor hingga dua minggu. Belum lagi petani harus bolak-balik menutup dan membuka terpal. Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) hadir dengan solusi teknologi tepat guna berupa mesin pengering padi.

Ketua TEP 12 ITS Ir Joko Susila MT mengatakan, proses pascapanen konvensional membuat petani berisiko kehilangan kualitas gabah akibat pengeringan terlalu lama. “Selama prosesnya, petani harus mengawasi gabah, menutupnya dengan terpal kalau hujan, kemudian dibuka saat cuaca cerah,” ujarnya.

Mesin pengering rancangan tim ITS telah diuji coba bersama petani setempat menggunakan 36 karung gabah dengan berat total sekitar 1,4 ton. Hasilnya, pengeringan hanya membutuhkan waktu 8–10 jam. “Dengan mesin, petani akan hemat biaya tenaga kerja 2–3 orang dengan upah sekitar Rp150.000 per hari,” jelas Joko.

Mesin berukuran sekitar 3,5 x 4 meter itu tidak hanya mengandalkan sekam padi. Tim ITS memakai pembakaran berlapis dengan campuran kayu bakar di bagian bawah dan limbah gergaji agar api bertahan lebih lama. Pengoperasiannya dilengkapi instrumen pengukur kadar air untuk memastikan tingkat kelembapan gabah sesuai standar sebelum masuk proses penggilingan.

Pada sisi pemberdayaan, tim telah melakukan sosialisasi alat dan akan melanjutkan pelatihan teknis kepada 18 perwakilan kelompok tani. Pelatihan dipusatkan di gedung Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Margorukun. Joko menuturkan, alur produksi dirancang utuh, mulai dari pengeringan, penggilingan gabah menjadi beras, hingga pengolahan beras menjadi tepung bersama TEP 9 dan TEP 19 ITS. “Pengelolaan seluruh fasilitas ini akan kami serahkan ke BUMDes dengan dukungan tim teknis lokal serta penerapan model bisnis yang berkelanjutan,” tuturnya.

Kemitraan dengan BUMDes Margorukun dipilih karena lembaga itu dinilai memiliki kinerja kelembagaan yang baik. Selama ini petani kerap terikat rantai utang dengan tengkulak atau pemodal kecil. “Petani jadi sering tertekan untuk menjual hasil panen kepada mereka dengan nilai jual yang rendah,” papar Joko.

Melalui sistem sirkulasi baru, BUMDes didorong menyerap dan membeli hasil panen petani, mengolah hasil panen bernilai tinggi, sekaligus menyediakan pembiayaan modal untuk musim tanam berikutnya. Bagi petani, ini berarti posisi tawar yang lebih kuat dan pendapatan yang lebih stabil.

Inovasi ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), terutama poin ke-8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, poin ke-9 tentang Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, serta poin ke-17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. Di tingkat lokal, mesin pengering padi ini bukan sekadar alat, melainkan jalan keluar dari ketergantungan cuaca dan tekanan tengkulak.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Industri Halal Membutuhkan Kepastian Pasar
• 14 jam lalukatadata.co.id
thumb
IHSG Ditutup Menguat 0,94% ke Level 5.328, Saham Kesehatan Memimpin
• 20 jam lalukatadata.co.id
thumb
Hubungan Bruno Fernandes dan Michael Carrick Memanas usai MU Ditekuk Como
• 8 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Iwa K Ingatkan Pentingnya Peran Keluarga dalam Pergaulan Anak, Bekal Pertama Justru dari Rumah
• 12 jam lalugrid.id
thumb
Sejarah Hari Santri 22 Oktober, Berawal dari Resolusi Jihad 1945
• 11 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.