Gugurnya seorang relawan pemadam kebakaran hutan dan lahan (karhutla), Nordin alias Mang Udin, di Barito Kuala, Kalimantan Selatan, menyisakan keprihatinan mendalam sekaligus mengungkap minimnya jaminan keselamatan dan dukungan logistik bagi para petugas di lapangan.
Almarhum Nordin mengembuskan napas terakhirnya usai mengalami sesak napas dan nyeri dada sewaktu berjibaku memadamkan api di garda terdepan kawasan Handil Bakti, Barito Kuala. Peristiwa tragis ini menjadi sorotan utama dalam dialog mengenai keselamatan para relawan pemadam karhutla.
Ketua Damkar Sungai Andai, Mat Jupri, mengungkapkan bahwa para relawan di lapangan harus bekerja menembus asap pekat dengan perlengkapan keselamatan seadanya. Bahkan untuk operasional harian seperti bahan bakar minyak (BBM), alat pelindung diri (APD), hingga makanan, para relawan kerap menggunakan dana pribadi.
"Kalau untuk APD, kita menyediakan masker seadanya karena kemarin ada bantuan dari rekan-rekan Banjarbaru. Belum ada bantuan apa-apa dari pemerintah kota. Untuk BBM, APD, dan konsumsi, selama ini kita menggunakan dana pribadi," ungkap Mat Jupri dalam tayangan Primetime News Metro TV, Kamis, 22 Oktober 2026.
Menanggapi situasi tersebut, Kepala Subbidang Kesiapsiagaan BPBD Kalimantan Selatan, Ariansyah, menjelaskan bahwa wilayah Barito Kuala dan Kabupaten Banjar kini berstatus tanggap darurat akibat maraknya titik api di lahan gambut yang kering setelah lebih dari 100 hari tanpa hujan.
Ariansyah mengonfirmasi adanya kelompok Barisan Pemadam Kebakaran (BPK) swadaya yang bergerak mandiri tanpa jangkauan bantuan penuh dari pemerintah daerah.
"Memang ada beberapa BPK Swadaya masyarakat yang melaksanakan kegiatan secara mandiri karena kemanusiaan. Namun tidak seluruhnya bisa ter-cover karena luasan penanganan dan jumlah personel yang cukup banyak," terang Ariansyah.
Baca Juga :
Diduga Keracunan Asap, Relawan Pemadam Karhutla Nordin Gugur
Dari sisi medis, Ketua Majelis Kehormatan Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PP PDPI), Prof. Tjandra Yoga Aditama, memaparkan beberapa kemungkinan penyebab kematian akibat paparan asap pekat, mulai dari asfiksia (tercekik asap), penyempitan saluran napas, hingga serangan jantung akibat beban fisik dan stres tinggi di lokasi.
Prof. Tjandra menekankan pentingnya jaminan perlindungan dan pelayanan medis maksimal bagi para pejuang pemadam di garis depan.
"Sangat ironis kalau sampai petugas harus membeli konsumsi sendiri. Paling tidak ada perlindungan: pemeriksaan kesehatan sebelum dan saat bertugas, APD standar respirator atau N95, asupan logistik yang dijamin, serta pelayanan medis maksimal," tegas Prof. Tjandra.




