Sebanyak 11 orang ditangkap karena diduga hendak menyusupi dan memicu kerusuhan dalam aksi demonstrasi mahasiswa di depan Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Kamis (22/10).
Kapolda Jawa Timur, Irjen Pol. Dekananto Eko Purwono, mengatakan para pelaku yang terdiri dari mahasiswa dan anak putus sekolah tersebut diciduk polisi di sejumlah titik akses menuju lokasi unjuk rasa sebelum aksi berlangsung.
Adapun, menurut Dekananto, aksi unjuk rasa yang digelar kelompok mahasiswa memperingati dua tahun masa pemerintahan Prabowo-Gibran tersebut berlangsung aman dan tertib. Massa membubarkan diri secara mandiri sebelum pukul 18.00 WIB.
"Sebelum pelaksanaan unjuk rasa, kami mengamankan 11 orang yang diduga akan menunggangi penyampaian aspirasi. Saat ini, terkait 11 orang tersebut, dua di antaranya mahasiswa, yang lainnya putus sekolah," kata Dekananto di Mapolrestabes Surabaya, Kamis (22/10).
Berdasarkan hasil pemeriksaan sementara, kata dia, mereka tidak terdaftar dalam pemberitahuan resmi aksi unjuk rasa. Sebanyak sembilan orang merupakan warga Surabaya, sementara dua orang sisanya berasal dari Sidoarjo.
"Mereka kita amankan di beberapa titik yang mengarah ke lokasi gedung Grahadi, ya, di antaranya di depan Grahadi Simpang, kemudian di Gang Setan, kemudian air mancur Alun-Alun Surabaya dan Taman Apsari. Jadi memang mereka bukan bagian daripada mahasiswa yang memang menyampaikan pemberitahuan untuk melakukan aksi unjuk rasa," ucapnya.
Terkait langkah penyekatan dan sweeping, Dekananto menyampaikan bahwa prosedur tersebut dilakukan untuk menjamin keselamatan massa aksi utama yang menyuarakan aspirasi secara damai.
"Kita tidak ingin adik-adik kita, teman-teman kita, saudara-saudara kita yang menyampaikan aspirasi dengan damai justru menjadi korban karena ada beberapa oknum yang menunggangi aksi itu," ujar Dekananto.
Adapun barang bukti yang diamankan yakni tiner yang diduga akan digunakan untuk melakukan pembakaran, minuman keras jenis arak, knucle, dan beberapa ponsel.
"Dari pendalaman Direktorat Siber, terdapat komunikasi untuk ajakan membuat kerusuhan. Ini yang sangat kami sayangkan," ungkap dia.
Saat ini, mereka masih menjalani pemeriksaan intensif di Mapolrestabes Surabaya. Penyidik juga masih mendalami motif, aktor intelektual, serta potensi keterlibatan jaringan kelompok perusuh dari luar daerah.
"Nanti akan kami sampaikan apa motifnya. Apakah ada jaringan dari luar Jawa Timur dan juga terlibat di dalam kelompok-kelompok yang mencoba untuk membuat kerusuhan di Jawa Timur," kata dia.





