Jakarta, VIVA – Respons darurat PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) dalam menangani kebakaran Kapal Motor Penyeberangan (KMP) Batumandi mendapat apresiasi dari Koordinator Komunitas Pengguna Kapal Penyeberangan Nusantara (KPK-PN), Maruly Hendra Utama. Menurutnya, prioritas utama dalam insiden pelayaran adalah keselamatan penumpang dan awak kapal, disertai upaya memadamkan api serta mengantisipasi risiko lanjutan.
Maruly menilai, penanganan kapal yang terbakar tidak cukup diukur dari kondisi akhir kapal. Proses evakuasi, pemberian pertolongan medis, pengendalian kebakaran, perlindungan lingkungan laut, hingga investigasi penyebab kejadian juga perlu menjadi bagian dari evaluasi.
“Dalam situasi darurat seperti kebakaran KMP Batumandi, ukuran paling mendasar adalah bagaimana keselamatan jiwa diprioritaskan dan risiko lanjutan dikendalikan. Penanganan tidak cukup hanya memadamkan api, tetapi juga harus memperhitungkan keamanan alur pelayaran, potensi pencemaran laut, kondisi kapal, dan kebutuhan investigasi. Dari perspektif itu, langkah-langkah tanggap darurat ASDP patut diapresiasi,” ujar Maruly.
Salah satu aspek yang menjadi perhatian dalam penanganan kebakaran KMP Batumandi adalah proses penyelamatan penumpang. Berdasarkan informasi yang dihimpun KPK-PN, seluruh penumpang kapal dilaporkan berhasil dievakuasi, meskipun tiga orang mengalami cedera dan mendapatkan penanganan medis.
Informasi mengenai jumlah penumpang yang berhasil dievakuasi dan korban cedera tersebut perlu dipastikan melalui keterangan resmi pihak berwenang. Meski demikian, Maruly menekankan bahwa evakuasi dan pemberian pertolongan kepada korban merupakan indikator penting dalam menilai respons awal terhadap keadaan darurat.
Menurutnya, keselamatan manusia harus menjadi prioritas tertinggi dalam setiap insiden pelayaran. Keberhasilan proses evakuasi bergantung pada kesiapan peralatan keselamatan, kemampuan awak kapal menjalankan prosedur darurat, komunikasi yang efektif, serta koordinasi dengan petugas penyelamat dan pihak terkait.
“Penyelamatan jiwa merupakan prioritas yang tidak bisa ditawar. Ketika penumpang berhasil dievakuasi dan mendapatkan pertolongan medis, hal tersebut menjadi bagian penting dari keberhasilan respons darurat. Kita harus memberikan apresiasi kepada awak kapal dan seluruh unsur yang terlibat, sekaligus memastikan evaluasi dilakukan agar kesiapsiagaan semakin kuat,” katanya.
Maruly yang pernah mengikuti pelatihan kesehatan, keselamatan kerja (K3), dan health, safety, and environment (HSE) menambahkan, kesiapan menghadapi kebakaran kapal perlu dibangun sebelum insiden terjadi. Latihan evakuasi, penguasaan prosedur keselamatan, dan kesiapan peralatan menjadi unsur penting agar awak kapal dapat bertindak cepat ketika menghadapi situasi kritis.





