Pantau - Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Tengah (Jateng) dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) melarang pembelian bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite secara berulang untuk dijual kembali menyusul meningkatnya antrean kendaraan di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU).
Kebijakan tersebut diterapkan untuk mengurangi antrean panjang yang terjadi akibat meningkatnya permintaan Pertalite, terutama setelah sebagian konsumen beralih dari BBM nonsubsidi jenis Pertamax.
Area Manager Communication, Relation dan CSR Pertamina Patra Niaga Jateng DIY, Taufiq Kurniawan, mengatakan bahwa peningkatan antrean pembelian Pertalite mulai terlihat di sejumlah SPBU dalam beberapa waktu terakhir.
"Kami juga akan memetakan beberapa SPBU yang rawan antrean, dan kami juga sudah mengeluarkan himbauan ya untuk larangan pembelian secara berulang," kata Taufiq di Yogyakarta, Kamis.
Pertamina secara khusus melarang pembelian Pertalite secara berulang menggunakan jerigen maupun kendaraan bermotor berkapasitas tangki besar apabila bahan bakar tersebut ditujukan untuk dijual kembali.
Larangan itu diberlakukan untuk menjaga ketertiban pelayanan sekaligus memastikan masyarakat yang membutuhkan Pertalite untuk penggunaan sehari-hari tetap dapat melakukan pengisian BBM secara wajar.
Pertamina Soroti Pembelian Pertalite Berulang yang Memperpanjang Antrean SPBUTaufiq menjelaskan bahwa salah satu penyebab meningkatnya antrean kendaraan adalah perpindahan konsumsi masyarakat dari Pertamax ke Pertalite.
Perubahan pola konsumsi tersebut menyebabkan jumlah kendaraan yang melakukan pengisian Pertalite bertambah sehingga waktu tunggu konsumen di sejumlah SPBU menjadi lebih panjang.
Selain peningkatan permintaan, Pertamina menemukan adanya praktik pembelian Pertalite secara berulang untuk dijual kembali kepada konsumen lain.
Praktik tersebut dinilai berpotensi mengganggu kelancaran pelayanan karena kendaraan atau pembeli yang sama dapat melakukan pengisian berkali-kali ketika konsumen lain masih menunggu antrean.
"Karena kasihan posisinya sudah panas-panas seperti ini, konsumen itu ngantre dengan yang melakukan pembelian berulang untuk dijual kembali," kata Taufiq.
Pertamina menilai pembatasan praktik pembelian berulang untuk dijual kembali diperlukan guna mencegah gejolak di masyarakat akibat antrean yang semakin panjang.
Kebijakan tersebut juga bertujuan memberikan kesempatan yang lebih adil bagi konsumen yang membeli Pertalite untuk kebutuhan transportasi sehari-hari.
Konsumsi Pertalite Naik 7 Persen, Pertamina Petakan SPBU Rawan AntreanTaufiq mengungkapkan bahwa konsumsi Pertalite di wilayah Jawa Tengah dan DIY mengalami peningkatan sebesar tujuh persen.
Kenaikan konsumsi tersebut turut memengaruhi jumlah kendaraan yang datang ke SPBU untuk melakukan pengisian bahan bakar.
Untuk mengatasi kondisi tersebut, Pertamina akan melakukan pemetaan terhadap SPBU yang dinilai rawan mengalami antrean panjang.
Pemetaan dilakukan untuk mengidentifikasi lokasi yang membutuhkan penanganan khusus, terutama SPBU dengan peningkatan jumlah kendaraan secara signifikan.
Pertamina juga menyiapkan langkah penanganan sesuai dengan kondisi masing-masing SPBU apabila antrean kendaraan terus memanjang.
"Nah, itu kita petakan SPBU dan nanti akan kita ambil langkah-langkah tertentu apabila memang antrean itu mengular bersama dengan pemerintah daerah tentunya kita terus berkoordinasi dan terus melaporkan updatenya," kata Taufiq.
Pertamina memastikan koordinasi dengan pemerintah daerah akan terus dilakukan untuk menjaga ketertiban dan kenyamanan masyarakat saat membeli BBM.
Koordinasi tersebut mencakup pemantauan kondisi antrean, perkembangan distribusi bahan bakar, serta langkah penanganan apabila ditemukan SPBU dengan antrean kendaraan yang terlalu panjang.
Pertamina Pastikan Stok Pertalite Aman hingga 7 Kali Lipat Konsumsi NormalDi tengah meningkatnya antrean kendaraan, Pertamina memastikan ketersediaan BBM di wilayah Jawa Tengah dan DIY masih dalam kondisi aman.
Taufiq menjelaskan bahwa persediaan Pertalite saat ini mencapai tujuh kali lipat dari konsumsi normal masyarakat.
Sementara itu, stok BBM jenis solar tersedia hingga 14 kali lipat dari konsumsi normal.
Untuk BBM nonsubsidi jenis Pertamax, Pertamina mencatat ketersediaan stok mencapai 19 kali lipat dari konsumsi normal.
Adapun stok Pertamax Turbo berada pada tingkat yang lebih tinggi, yakni mencapai 34 kali lipat dari konsumsi normal.
Besarnya persediaan berbagai jenis BBM tersebut menunjukkan bahwa antrean kendaraan di sejumlah SPBU tidak serta-merta menandakan terjadinya kelangkaan bahan bakar.
Pertamina menegaskan bahwa antrean lebih berkaitan dengan peningkatan permintaan Pertalite dan praktik pembelian berulang yang berpotensi menghambat pelayanan.
"Angka tersebut mencerminkan bahwa stok ini aman, meskipun ada antrean. Masyarakat tidak perlu khawatir, tetap membeli sesuai kebutuhan karena barangnya pasti ada, dijamin sesuai dengan konsumsi yang dilakukan sehari-hari oleh masyarakat," kata Taufiq.
Pertamina Imbau Masyarakat Tidak Membeli BBM Secara BerlebihanPertamina mengimbau masyarakat di Jawa Tengah dan DIY untuk tetap membeli bahan bakar sesuai dengan kebutuhan penggunaan sehari-hari.
Masyarakat juga diminta tidak melakukan pembelian Pertalite secara berulang untuk tujuan penjualan kembali karena dapat memperpanjang waktu tunggu konsumen lain.
Pertamina memastikan pemantauan terhadap kondisi SPBU akan terus dilakukan seiring meningkatnya konsumsi Pertalite di wilayah tersebut.
Melalui pemetaan SPBU rawan antrean, larangan pembelian berulang untuk dijual kembali, dan koordinasi dengan pemerintah daerah, Pertamina berupaya menjaga kelancaran distribusi serta meningkatkan kenyamanan pelayanan.
Pertamina kembali menegaskan bahwa stok Pertalite, solar, Pertamax, dan Pertamax Turbo masih mencukupi kebutuhan masyarakat sehingga konsumen tidak perlu khawatir meskipun terjadi antrean di sejumlah SPBU.




