REPUBLIKA.CO.ID, DENPASAR, – Dinas Perhubungan (Dishub) Bali saat ini sedang menyeleksi perusahaan operator untuk mengelola 11 unit bus listrik hibah. Armada ramah lingkungan ini akan menjalani uji coba sebagai layanan angkutan umum Trans Sarbagita dengan status gratis bagi penumpang hingga Desember 2026.
Kepala Dishub Bali, Kadek Mudarta, menjelaskan bahwa meskipun bus berada di bawah pengelolaan Dishub, pihaknya akan memilih operator dari perusahaan bus yang memenuhi syarat. “Bus dalam arti ini di bawah pengelolaan Dishub, tetapi operatornya tentu nanti kami akan pilih dari perusahaan operator bus,” ujarnya di Denpasar, Kamis.
Mudarta menambahkan bahwa pengemudi dari perusahaan operator terpilih nantinya wajib mengikuti pelatihan khusus sebelum mulai bertugas. Setelah operator resmi ditetapkan, masa uji coba akan segera dimulai. Selama periode uji coba yang berlangsung hingga Desember 2026 tersebut, masyarakat dapat menikmati layanan ini secara gratis.
Meski gratis, penumpang tetap diwajibkan melakukan transaksi nontunai menggunakan kartu elektronik. Kebijakan ini diterapkan untuk mendukung sistem pertanggungjawaban serta pendataan jumlah penumpang secara akurat. Setelah masa uji coba berakhir dan status legalitas armada berubah menjadi kendaraan angkutan umum berpelat kuning, tarif akan diberlakukan.
“Kalau nanti selesai masa uji coba dan busnya sudah menjadi pelat kuning, kita berlakukan tarif sama seperti Trans Sarbagita atau Trans Metro Dewata Rp4.400,” jelas Mudarta. Saat ini, armada bus listrik tersebut masih menggunakan pelat merah karena masih dalam proses perubahan status legalitas di bawah Dishub Bali.
.rec-desc {padding: 7px !important;} Rute dan Spesifikasi Armada
Sebanyak 11 unit bus listrik ini merupakan hibah dari Global Green Growth Institute (GGGI) yang dilengkapi dengan fasilitas pengisian daya. Berdasarkan kajian teknis, seluruh armada akan dialokasikan untuk melayani Koridor I Trans Sarbagita dengan rute GOR Ngurah Rai menuju Garuda Wisnu Kencana (GWK). Sejumlah bus juga disiapkan sebagai armada cadangan untuk menjaga kelancaran layanan.
Setiap bus memiliki kapasitas 20 tempat duduk dan 10 penumpang berdiri. Kendaraan ini mampu menempuh jarak hingga 300 kilometer dengan baterai terisi penuh. Untuk mendukung operasional, stasiun pengisian daya disiapkan di kantor Dishub Bali untuk penggunaan malam hari dan di kawasan GOR Ngurah Rai pada siang hari.
Menariknya, biaya perawatan seluruh bus listrik selama satu tahun pertama akan ditanggung oleh produsen kendaraan. Mudarta menegaskan bahwa kehadiran bus listrik ini tidak serta-merta menggantikan bus konvensional yang selama ini melayani masyarakat melalui Trans Sarbagita maupun Trans Metro Dewata.
Pengoperasian bus listrik ini merupakan bagian dari upaya pemerintah daerah memperkenalkan teknologi transportasi rendah emisi sekaligus mendorong penggunaan angkutan umum yang lebih ramah lingkungan. Ia pun mengajak masyarakat untuk mencoba dan membiasakan diri menggunakan bus listrik setelah operator ditetapkan dan layanan mulai beroperasi.