jpnn.com, JAKARTA - Komunitas seni tekstil Indonesia menggebrak dunia craft dengan menggelar Citrapata Quilt Exhibition 2026.
Panitia menggelar pameran quilt berskala internasional perdana ini di Balai Sarbini, Plaza Semanggi, Jakarta Selatan, pada 20-22 Oktober 2026.
BACA JUGA: Piala Asia 2027: Timnas Indonesia Terjebak di Grup Neraka Bersama Jepang & Qatar
Safrudiningsih dan karyanya. Foto: Dokumentasi pribadi
BACA JUGA: Kunjungi Kedubes Qatar, Ketum PB Mathlaâul Anwar Sampaikan Belasungkawa Wafatnya Sheikh Hamad
Panitia mengusung tema "Symphony of Threads & Fabrics".
Mereka menghadirkan lebih dari 200 karya seni tekstil dan quilt.
BACA JUGA: Tekel Horor Patahkan Kaki Lawan, Bintang Qatar Disanksi 5 Laga
Peserta dan panitia, Ibu Jeanty dengan karya quild bergambar Bunda Maria. Foto: Source for JPNN
Perajin Indonesia memamerkan karya terbaiknya. Komunitas dari Singapura, Malaysia, Qatar, dan Brunei juga ikut berpartisipasi.
Pengunjung memadati arena yang biasa panitia konser musik gunakan.
Mereka memenuhi panggung utama, hall, hingga selasar lantai dua.
Sebagian besar kaum perempuan sudah datang sebelum acara pembukaan resmi mulai. Mereka tak sabar ingin melihat ruang pamer.
Padahal, hari Selasa 20 Oktober itu bertepatan dengan agenda demo mahasiswa terkait dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo-Wapres Gibran.
Panitia membuka pameran dengan penampilan tari.
Ketua Panitia Pelaksana M. Laksmintarti Soeparwoto menyampaikan sambutan singkat.
Laksmintarti mengaku bahagia.
Dia dan tim mengumpulkan karya patchwork dengan kerja keras dan pendekatan satu per satu.
Menurutnya, kerja sama dan soliditas anggota komunitas mewujudkan hajat besar ini.
"Kami menggelar pameran ini sebagai ajang silaturahmi bersama dan bertukar informasi karya yang luar biasa," kata Laksmintarti.
Laksmintarti kemudian menggunting pita bersama dua rekan panitia, Safrudiningsih dan Reiza Amelia.
Peserta dan undangan menyambutnya dengan tepuk tangan yang menggema.
Mengubah Perca Menjadi Cerita
Laksmintarti menjelaskan arti nama Citrapata.
Dia menggabungkan dua kata: citra yang berarti gambar, dan pata yang berarti perca.
Dari gabungan itu, ia merumuskan gagasan: Citrapata menceritakan kisah dari perca-perca.
Dia menuturkan setiap potongan kain membawa warna, motif, tekstur, dan perjalanan yang berbeda.
Perajin mempertemukan dan menjahit potongan-potongan itu. Hasilnya, mereka melahirkan sebuah gambar, karya, sekaligus cerita baru.
Laksmintarti menegaskan, Citrapata tidak hanya memamerkan kain yang perajin jahit menjadi karya.
Dia juga mempertemukan berbagai komunitas. Selama ini komunitas-komunitas itu tumbuh terpisah di dunia tekstil, quilting, patchwork, dan needle craft.
Menjual Karya hingga Rp 40 Juta
Panitia menempatkan tenant yang menjual perlengkapan quilt di lantai satu. Mereka memamerkan dan menawarkan karya quilt di lantai dua.
Mereka membanderol harga quilt mulai dari Rp 2 juta hingga Rp 5 juta.
Satu karya mencuri perhatian. Perajin bernama *Latifah Hidayati* membuat karya itu. Ia menjualnya dengan harga fantastis, Rp 40 juta.
Latifah merangkai potongan-potongan kecil batik Bali.
Dia menjahitnya dengan tangan selama tiga tahun, dari 2016 hingga 2018. Maria QuiltVille Lie kemudian melapisinya dengan dakron press dan meng-quilt-nya dengan indah.
Merajut Komunitas Lewat Benang dan Warna
Panitia menjadikan Citrapata sebagai bagian dari rangkaian 3rd Quilt and Needle Craft Festival International.
Mereka tidak hanya menggelar pameran. Mereka juga menghadirkan workshop dan short course. Melalui kegiatan itu, pengunjung mengenal lebih dekat teknik quilting dan patchwork.
"Panitia tidak hanya mengajak pengunjung melihat karya, tetapi juga bertemu dengan orang-orang di balik karya tersebut," ujar Laksmintarti.
Salah satu panitia sekaligus perajin, Jeinty Lee, menjelaskan makna tema.
Dia menganalogikan tema dengan sebuah simfoni. Dalam simfoni, berbagai instrumen dengan karakter berbeda tidak harus menjadi sama.
Perangkai justru merangkainya untuk menciptakan harmoni.
"Berbagai warna kain, pola, teknik jahitan, karakter pembuat, serta cerita personal hadir dalam satu karya tanpa kehilangan identitas masing-masing. Benang menjadi penghubung. Perca menjadi medium. Cerita menjadi hasil akhirnya," kata Jeinty.
Panitia lainnya, Safrudiningsih menambahkan pesan yang sama.
Dia menyebut selembar kain sisa bisa mendapatkan kehidupan baru.
Lebih lanjut,Safrudiningsih meyakini potongan-potongan yang terpisah bisa menyatu. Komunitas pun menjadi lebih kuat ketika setiap anggotanya membawa ceritanya masing-masing.
"Semangat inilah yang Citrapata bawa: merayakan perca, merayakan karya, dan terutama merayakan manusia serta komunitas di baliknya," ujar Safrudiningsih.
Mendatangkan Peserta Mancanegara
Peserta dari Singapura, Yvett Lim, membawa tiga karya quilt.
Dia langsung membawanya dari Singapura dan memamerkannya di Balai Sarbini.
Yvett mengelola toko quilt bernama "2Quilters" bersama sahabatnya, Aimee.
Tokonya melayani penjualan langsung dan online beragam perlengkapan jahit.
Ia kerap mengikuti pameran di Malaysia, Singapura, dan Jepang.
Yvett mengaku sangat senang mengikuti Citrapata Quilt Exhibition 2026 di Jakarta. Senyum lebar terpancar dari wajahnya saat diwawancarai di arena pameran, Rabu (21/10/2026).
Yvett menjelaskan tiga aspek yang terkandung dalam sebuah quilt. Pertama, History - quilt tidak hanya menjahit potongan kain, tetapi juga mendokumentasikan sejarah dari tema yang perajin ambil.
Kedua, Storytelling - setiap potongan kain, warna, pola, dan jahitan menyampaikan sebuah cerita.
Ketiga, Inauguration- perajin membuat quilt untuk memperingati suatu peristiwa penting.(fri/jpnn)
Redaktur & Reporter : Friederich Batari




