Paris: Polisi Prancis menyeret sejumlah mahasiswa dari pintu masuk Sciences Po di Paris pada Kamis 22 Oktober 2026.
Tindakan dilakukan dalam upaya membubarkan aksi duduk yang menuntut pendanaan pendidikan, di tengah gelombang protes yang terus berlangsung di seluruh negeri.
Baca Juga :
Pelajar Lawan Jam Malam, Aksi Protes Kembali Berlangsung di Paris“Rekaman menunjukkan petugas yang membawa perisai antihuru-hara mengepung para demonstran yang sedang duduk di dekat pintu masuk universitas,” laporan dari Viory, Jumat 23 Oktober 2026.
sebelum akhirnya bertindak untuk menyingkirkan secara paksa mereka yang menolak untuk pergi.
Beberapa mahasiswa terlihat digotong atau diseret menjauh saat polisi membubarkan blokade tersebut.
Para pengunjuk rasa menuding pemerintah Prancis gagal menyediakan pendanaan yang memadai untuk sektor pendidikan.
Mahasiswa yang melakukan aksi protes di Prancis. Foto: Viory
Aksi serupa, berupa duduk bersama, blokade, dan unjuk rasa juga dilakukan oleh mahasiswa di berbagai wilayah di Prancis sebagai bentuk protes terhadap pemotongan anggaran, kondisi sarana pendidikan yang memburuk, serta meningkatnya biaya hidup.
Konfrontasi ini terjadi setelah berminggu-minggu aksi demonstrasi yang dipimpin oleh mahasiswa, yang kemudian memuncak menjadi kerusuhan berskala nasional pada 17 Oktober, saat ratusan ribu orang turun ke jalan.
Kekerasan, penjarahan, dan aksi pembakaran terjadi di beberapa kota. Pihak berwenang Prancis melaporkan hampir 2.400 penangkapan, sementara sekitar 1.000 petugas kepolisian dan gendarmerie (aparat keamanan) mengalami luka-luka.
Di Limoges, balai kota bersejarah hangus dilalap api selama kerusuhan berlangsung. Bentrokan dan kerusakan luas juga dilaporkan terjadi di Paris serta sejumlah kota besar lainnya.
Sejak saat itu, otoritas Prancis telah memberlakukan jam malam dan pembatasan demonstrasi di beberapa kota, termasuk Paris. Meski demikian, kelompok-kelompok mahasiswa bersumpah untuk terus melanjutkan aksi protes mereka terkait pendanaan pendidikan dan biaya hidup.




