Hawa panas atau gerah sudah berlangsung beberapa pekan. BMKG mencatat suhu udara maksimum sepekan terakhir bahkan mendekati 40°C.
BMKG menjelaskan, pekan ini suhu udara maksimum tercatat di:
Lampung 39,2°C pada Rabu, 21 Oktober
Jawa Barat 39,0°C pada Rabu, 21 Oktober
Kalimantan Selatan 38,7°C pada Selasa, 20 Oktober
"Penyebab utama adalah minimnya tutupan awan, terbatasnya curah hujan, serta pengaruh El Nino sangat kuat dan IOD (Indian Ocean Dipole) positif,” kata BMKG, Jumat (23/10).
Sementara itu, ahli BRIN Prof Thomas Djamaluddin di akun Instagramnya menjelaskan mengapa kota-kota di Jawa panas sekali Oktober ini, sampai malam pun gerah.
Menurutnya, ada 4 sebab, yaitu:
Posisi matahari di atas kepala sehingga pemanasan lebih intens.
Tutupan awan minim saat akhir kemarau, apalagi ada efek El Nino yang kering, jadi siang hari sangat terik.
Efek pendinginan angin dari daerah musim dingin di selatan sudah berhenti.
Efek pemanasan kota (urban heat island) akibat emisi CO2 dari aktivitas manusia (industri, transportasi, rumah tangga) yang menjebak panas sehingga tidak dilepaskan ke antariksa saat malam.
Lebih lanjut, BMKG mengungkapkan kondisi kering dan panas ini juga menyumbang pada karhutla. "Kombinasi kurangnya awan dan terbatasnya air hujan mengintensifkan pemanasan permukaan siang hari serta mempercepat penurunan kadar air vegetasi,” kata BMKG.
BMKG mencatat titik panas (hotspot) dengan tingkat kepercayaan tinggi (10 hari terakhir) terpantau di Kalimantan Tengah: 3.794 titik, Sumatera Selatan: 1.595 titik, Papua Selatan: 1.516 titik
Sebaran asap masih terdeteksi di wilayah Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua.
Tetap Ada HujanKendati kondisi kering mendominasi, beberapa daerah tetap mengalami hujan tinggi di Sumatera Utara: 190,6 mm/hari, Sumatera Barat: 130,7 mm/hari, Aceh: 119,0 mm/hari, Kalimantan Barat: 83,0 mm/hari, Papua Tengah: 78,0 mm/hari.
Pemicu hujan lebat ini adalah Aktivitas MJO, Gelombang Kelvin, Gelombang Mixed Rossby-Gravity (MRG), perlambatan dan pertemuan angin, serta suhu muka laut yang hangat.
Prakiraan Cuaca 23-29 Oktober 2026BMKG juga merilis prakiraan cuaca Indonesia sepekan ke depan yang berlaku dari tanggal 23-29 Oktober 2026, yaitu:
Potensi Utama: Sebagian besar wilayah Indonesia diprakirakan mengalami curah hujan rendah hingga menengah (0–150 mm/dasarian).
Faktor Penyebab Kering: dipengaruhi fenomena El Nino sangat kuat dan Dipole Mode Index (DMI) positif yang menekan/mengurangi pertumbuhan awan konvektif secara umum.
Adapun pemicu hujan lokal/regional adalah:
MJO (Madden-Julian Oscillation) aktif terdeteksi di perairan barat Aceh, Kepulauan Nias, Selat Malaka (utara-tengah), Perairan Tamiang–Langsa, dan Samudra Pasifik utara Papua.
Gelombang Rossby Ekuatorial aktif di Laut Natuna Utara.
Sirkulasi Siklonik diprakirakan terbentuk di perairan barat Aceh dan Samudra Pasifik utara Papua.
Daerah Pertemuan & Perlambatan Angin berpotensi terbentuk di wilayah Sumatera, Kalimantan, dan Papua.
Kondisi atmosfer labil teramati di sebagian Sumatera bagian utara–tengah, Jawa, Kalimantan, dan Papua.





