Kupang: Aktivitas vulkanis Gunung Lewotobi Laki-laki di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), menunjukkan tren penurunan selama periode 1–15 Oktober 2026. Kendati demikian, dinamika fluida dan gas di dalam perut gunung api tersebut dipastikan masih terus berlangsung.
"Penurunan aktivitas terlihat dari menyusutnya sejumlah parameter gempa vulkanis," kata Kepala Pos Pengamatan Gunung Lewotobi Laki-laki, Herman S Boro, melansir Antara, Jumat, 23 Oktober 2026.
Baca Juga :
11 Gunung Api Indonesia Tercatat Erupsi Sepanjang 2026, Ini DaftarnyaSecara visual, gunung api terpantau jelas hingga tertutup kabut, dengan asap kawah utama berwarna putih setinggi 50–200 meter di atas puncak. Herman menegaskan, meskipun parameter kegempaan menurun, potensi erupsi belum hilang sepenuhnya mengingat rekaman dinamika fluida masih terus terjadi. Erupsi terakhir gunung ini sendiri tercatat pada 31 Agustus 2026 lalu.
Ilustrasi: Gunung Lewotobi Laki-laki meletus di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur. ANTARA/HO-Badan Geologi/aa.
Lebih lanjut, data deformasi hingga pertengahan Oktober 2026 belum menunjukkan indikasi peningkatan tekanan magmatik secara menyeluruh. Alat tiltmeter di Nurabelen bergerak relatif stabil, meski data Global Navigation Satellite System (GNSS) masih memperlihatkan perubahan horizontal yang memerlukan evaluasi lanjutan. Status Waspada dan Ancaman Lahar Hujan Berdasarkan hasil evaluasi visual dan instrumental tersebut, tingkat aktivitas Gunung Lewotobi Laki-laki masih ditahan pada Level II atau Waspada. Masyarakat maupun wisatawan dilarang keras melakukan aktivitas apa pun di dalam radius empat kilometer dari pusat erupsi.
Selain ancaman letusan, warga juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi banjir lahar hujan di sungai-sungai yang berhulu di puncak gunung, khususnya saat curah hujan tinggi melanda kawasan tersebut.
Wilayah-wilayah yang masuk dalam zona siaga lahar hujan meliputi Dulipali, Padang Pasir, Nobo, Klatanlo, Hokengjaya, Boru, Nawakote, dan Nurabelen.




