HARIAN.FAJAR.CO.ID, PALOPO — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk ibu hamil, ibu menyusui, dan balita di Kota Palopo menjadi sorotan. Menu ayam goreng yang disalurkan melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Lagaligo diduga tidak layak dikonsumsi setelah ditemukan ulat dan ayam dalam kondisi berbau.
Temuan tersebut mencuat setelah sebuah video beredar di media sosial. Dalam rekaman itu, terlihat seekor ulat masih bergerak di dekat menu ayam goreng yang disajikan dalam wadah makanan MBG.
Peristiwa itu terjadi di wilayah kerja SPPG Lagaligo, Kelurahan Lagaligo, Kecamatan Wara, Selasa (20/10/2026). SPPG tersebut melayani kelompok penerima manfaat B3, yakni ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Palopo langsung menindaklanjuti temuan tersebut dengan menerjunkan tim ke lapangan. Pemeriksaan dilakukan di dapur penyedia MBG sekaligus dengan mendatangi penerima manfaat untuk memastikan kebenaran informasi yang beredar.
Kepala Dinkes Palopo, Irsan Anugrah, mengatakan, pemeriksaan melibatkan sejumlah unsur, termasuk Dinas Pertanian dan pemerintah kelurahan setempat.
Tim tidak hanya memeriksa proses penyediaan makanan di dapur SPPG, tetapi juga meminta keterangan langsung dari penerima manfaat yang mendapatkan menu tersebut.
“Tim itu turun bukan hanya di dapur MBG, tapi turun juga langsung ke penerima manfaat untuk memastikan apakah video yang beredar itu betul-betul dari penerima manfaat yang menerima program Makanan Bergizi Gratis,” ungkap Irsan, Rabu (21/10/2026).
Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya persoalan pada kelayakan menu ayam yang dibagikan. Dari delapan penerima manfaat yang dikunjungi, tujuh di antaranya mengaku menerima ayam dalam kondisi agak berbau. Sementara satu penerima manfaat lainnya mendapatkan ayam yang kondisinya dinilai masih baik.
Irsan menegaskan, berdasarkan hasil pemeriksaan yang dilakukan, ayam yang menjadi temuan tersebut dinyatakan tidak layak.
“Kalau ayamnya itu kita sudah lakukan pengujian dan hasilnya untuk ayamnya tidak layak,” ungkap Irsan, Kamis (23/10/2026).
Beruntung, berdasarkan keterangan yang dihimpun tim, makanan tersebut belum dikonsumsi oleh penerima manfaat karena ayam sudah tercium berbau. Dinkes Palopo juga memastikan tidak menerima laporan keluhan gangguan kesehatan dari para penerima manfaat yang diperiksa.
Meski demikian, temuan tersebut menjadi perhatian serius karena MBG diperuntukkan bagi kelompok yang membutuhkan perhatian khusus dalam pemenuhan gizi, terutama ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.
Diberi Rekomendasi Perbaikan
Menindaklanjuti temuan itu, Dinkes Palopo telah memberikan pendampingan dan rekomendasi perbaikan kepada pihak SPPG. Namun, Irsan menjelaskan, kewenangan pemberian sanksi terhadap penyelenggara program MBG berada pada Badan Gizi Nasional (BGN).
Menurut dia, pihaknya mendorong perbaikan menyeluruh terhadap tata kelola penyediaan makanan, mulai dari pemilihan bahan baku, penyimpanan, pengolahan, hingga penyajian.
“Jadi mulai dari pemilihan bahan baku, kemudian penyimpanan, pengolahan, penyajian, dan seterusnya. Jadi kita akan dampingi itu,” jelasnya.
Irsan juga menyebutkan, berdasarkan informasi yang diketahuinya, BGN telah mengeluarkan surat teguran terkait persoalan tersebut.
Selain melakukan pembinaan terhadap SPPG, Pemerintah Kota Palopo melalui Dinas Pertanian akan ikut mengawasi rantai pasokan bahan baku untuk memastikan keamanan pangan yang digunakan dalam program MBG.
Pengawasan tersebut mencakup pemeriksaan sumber bahan baku, termasuk asal pasokan ayam yang digunakan oleh mitra penyedia makanan. Langkah ini dinilai penting untuk memastikan bahan pangan yang masuk ke dapur memenuhi standar keamanan dan kelayakan konsumsi.
“Terkait dengan rantai pasok bahan baku untuk menjamin keamanan pangannya, agar turun juga ke lapangan untuk memberikan pembinaan, pengawasan, serta pendampingan kepada supplier,” papar Irsan.
Dia menambahkan, Dinas Pertanian dapat melakukan pengecekan terhadap sumber bahan baku yang dipasok kepada mitra SPPG, termasuk menelusuri tempat pemesanan ayam.
Pemkot Palopo berharap seluruh pihak yang terlibat dalam pelaksanaan MBG meningkatkan pengawasan dan memastikan setiap tahapan penyediaan makanan berjalan sesuai standar.
Irsan menegaskan, program MBG tidak cukup hanya memenuhi kebutuhan gizi penerima manfaat. Makanan yang diberikan juga harus terjamin keamanan, kesehatan, dan mutunya.
“Jadi tentu kita berharap agar supaya makanan bergizi gratis yang diberikan kepada masyarakat ini selain sehat, aman, dan bermutu, tentu semua pihak harus terlibat,” tegasnya.
Kasus ini menjadi pengingat pentingnya pengawasan ketat terhadap kualitas bahan pangan dan proses pengolahan makanan, terutama dalam program pemenuhan gizi yang menyasar ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.





