Jakarta, tvOnenews.com- Istilah dry ice populer di tengah kabar kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia. Ternyata, bahan ini digunakan dalam proses penanganan dampak kebakaran. Apa fungsi utamanya?
Dry ice yang bermakna es kering dijelaskan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sebagai bagian dari modifikasi cuaca, tetapi tidak ditujukan untuk memadamkan titik api karhutla.
Ternyata, penggunaan dry ice ini difokuskan untuk mengurai kabut asap kebakaran hutan dan lahan guna memperbaiki jarak pandang.
"jadi dry ice yang kita buat saat ini adalah untuk mengurangi visibility yang rendah tersebut," kata Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton Panjaitan, dikutip dari Antara, Jumat (23/10/2026).
Penggunaan dry ice, kata Berton, menjadi upaya dalam penanganan karhutla. Dalam pelaksanaan modifikasi cuaca, dry ice disemai pada ketinggian 5.000–7.000 kaki, di bawah lapisan asap, dan dirancang khusus untuk mendinginkan serta menceraiberaikan partikel pekat kabut asap.
Dengan dry ice, diharapkan sinar matahari mampu menembus hingga ke permukaan, asap dari lapisan bawah terdorong naik lebih tinggi ke atmosfer, serta jarak pandang pulih agar aktivitas penerbangan kembali normal.
Selain penggunaan dry ice, menurutnya, upaya utama tetap bertumpu pada kerja keras tim satuan tugas (satgas) darat yang terjun langsung untuk memadamkan sumber masalah di lapangan.
Berdasarkan data Direktorat Pengendalian Operasi BNPB, terdapat total 13 sorti operasi modifikasi cuaca menggunakan bahan semai dry ice atau es kering serta NaCl atau garam di Kalimantan Tengah. Sembilan sorti di antaranya menyebarkan 4.400 kilogram dry ice dan 3.800 kilogram garam.
Kemudian, di wilayah Sumatera Selatan, digunakan 4.000 kilogram dry ice atau es kering serta 800 kilogram NaCl atau garam yang disemai dari udara melalui enam sorti penerbangan di sekitar Palembang, Banyuasin, Ogan Komering Ilir (OKI), dan Ogan Ilir.
Efektivitas penggunaan dry ice dalam pemadaman karhutla ini sudah pernah dijelaskan BMKG. Dalam keterangannya, BMKG menyebut metode tersebut memiliki dampak yang cukup baik.
BMKG telah mengevaluasi keberhasilan intervensi dry ice melalui sejumlah parameter terukur, terutama peningkatan jarak pandang (visibility) dan penurunan konsentrasi partikel polutan PM2.5 di udara.




