IHSG Hari Ini 23 Oktober 2026 Dibuka Menguat, Cermati Level 5.400

kompas.tv
2 jam lalu
Cover Berita
Pengunjung melintas di samping layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Jumat (7/8/2026). (Sumber: ANTARA FOTO/Fakhri Hermansyah/hma)

JAKARTA, KOMPAS.TV – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) dibuka menguat 9,44 poin atau 0,18 persen ke posisi 5.397,34 pada perdagangan Jumat (23/10/2026). Penguatan ini melanjutkan pemulihan indeks setelah terkoreksi tajam pada Jumat (16/10) dan Senin (19/10).

Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 naik 0,56 poin atau 0,10 persen ke posisi 545,13.

Sebagai gambaran, IHSG sempat dibuka anjlok 4,31 persen ke posisi 4.961,88 pada Senin (19/10). 

Tekanan tersebut terjadi setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI) membuka konsultasi mengenai usulan perubahan klasifikasi pasar modal Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market.

Baca Juga: FULL! IHSG Anjlok, Dana Sekolah Anak Terancam? Ini Kata Ibu Investor & Pakar Keuangan | KOMPAS PAGI

Level Resistance dan Support IHSG

Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim menilai IHSG berpeluang menguji level resistance 5.400 pada perdagangan Jumat.

Jika mampu bertahan di atas level tersebut, IHSG berpotensi melanjutkan penguatan. Sebaliknya, level 5.300 menjadi support terdekat yang perlu dicermati untuk menjaga momentum positif sekaligus mengantisipasi tekanan jual.

“Secara teknikal, IHSG berpeluang menguji level resistance 5.400 dan jika bertahan di atas level tersebut berpotensi untuk melanjutkan penguatan. Sedangkan level 5.300 menjadi support terdekat untuk menjaga momentum positif dan mengantisipasi potensi tekanan jual. Jika menembus level tersebut, berpotensi menguji level support berikutnya di 5.180-5.200,” ujar Ratna dikutip dari Antara.

Berdasarkan analisis teknikal tersebut, kemampuan IHSG bertahan di atas 5.300 dan menembus resistance 5.400 menjadi dua level penting yang dapat dicermati investor.

BEI Keluarkan Saham HSC dari Perhitungan IHSG

Dari dalam negeri, BEI akan mengecualikan saham kategori High Shareholding Concentration (HSC) atau saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi dari perhitungan IHSG mulai 2 November 2026.

BEI mencatat terdapat 80 saham yang masuk kategori HSC. Sejumlah saham dalam kategori tersebut juga dikenai sanksi terkait pelanggaran ketentuan pasar modal.

Baca Juga: [FULL] Mampukah IHSG Rebound Tanpa Asing? Analis Pasar Modal Pertanyakan BEI | KOMPAS BISNIS

BEI telah menyerahkan surat sanksi kepada pihak-pihak yang melakukan pelanggaran. Saham yang disebut terkait dengan langkah penegakan ketentuan tersebut antara lain DSSA, BREN, dan CUAN.

Selain perubahan perhitungan IHSG, BEI sebelumnya telah menyesuaikan batas Auto Rejection Bawah (ARB) saham dari 15 persen menjadi 7 persen. Ketentuan sementara tersebut berlaku mulai 19 Oktober hingga 31 Desember 2026.

BEI juga mengumumkan inisiatif penambahan keterangan afiliasi bagi pemegang saham dengan kepemilikan 1 persen.

Rangkaian kebijakan tersebut merupakan bagian dari respons regulator terhadap konsultasi MSCI. Dalam pengumumannya pada 15 Oktober 2026, MSCI menyampaikan kekhawatiran pelaku pasar terkait transparansi struktur kepemilikan saham dan dugaan perdagangan terkoordinasi di pasar modal Indonesia.

MSCI membuka konsultasi mengenai usulan perubahan klasifikasi Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market. Perubahan klasifikasi tersebut menjadi perhatian pelaku pasar karena berpotensi memengaruhi keputusan alokasi investasi yang mengacu pada indeks global.

Harga Minyak dan Arah Suku Bunga Global

Di tengah pemulihan IHSG, kenaikan harga minyak dunia menjadi salah satu sentimen eksternal yang perlu dicermati investor.

Ratna Lim mengingatkan, kenaikan harga minyak berpotensi memperbesar tekanan inflasi global dan mempersempit ruang pelonggaran kebijakan moneter.

Baca Juga: [FULL] Menko Airlangga-Menkeu Suahasil usai Lapor Ekonomi RI ke Prabowo, Soroti Rupiah-IHSG

“Kondisi ini meningkatkan risiko suku bunga BI dan the Fed bertahan tinggi atau kembali naik, sehingga berpotensi menekan pasar saham dan obligasi serta meningkatkan volatilitas pasar keuangan,” ujar Ratna.

Di sisi lain, kenaikan harga minyak berpotensi memberikan sentimen positif bagi sektor energi, khususnya minyak dan gas. Sektor batu bara juga dapat diuntungkan dari meningkatnya kekhawatiran terhadap keamanan pasokan energi global.

Meski demikian, dampaknya tetap bergantung pada pergerakan harga komoditas dan kondisi fundamental masing-masing emiten.

“Meskipun dampaknya tetap bergantung pada harga komoditas dan kondisi fundamental masing-masing emiten,” kata Ratna.

Harga minyak Brent tercatat naik 4 persen ke level 99 dolar AS per barel pada Kamis (22/10). Kenaikan tersebut dipicu kekhawatiran eskalasi ketegangan di Timur Tengah yang berpotensi mengganggu pasokan energi global.

Laporan mengenai rencana serangan kembali Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran setelah pemilu AS bulan depan turut menambah kekhawatiran pasar.

Serangan baru kelompok Houthi yang didukung Iran terhadap fasilitas energi dan bandara di Arab Saudi juga disebut memicu kekhawatiran terhadap keamanan pasokan.

Pekan depan, pelaku pasar global akan mencermati keputusan kebijakan moneter Federal Reserve AS (The Fed) dan Bank of Japan (BOJ).

Kenaikan harga energi berpotensi memperumit langkah The Fed dalam mengendalikan inflasi, sedangkan keputusan BOJ akan menjadi perhatian investor untuk membaca arah suku bunga Jepang dan prospek yen.

Baca Juga: Penurunan Terbesar IHSG Sepanjang Sejarah, Ini Daftarnya

Bursa Global dan Asia Bergerak Beragam

Tekanan juga terlihat di sejumlah bursa saham global pada Kamis (22/10). Di Eropa, Euro Stoxx 50 melemah 1,96 persen, FTSE 100 Inggris turun 0,26 persen, DAX Jerman melemah 1,07 persen, dan CAC 40 Prancis turun 1,39 persen.

Sementara itu, bursa saham Wall Street mayoritas ditutup melemah. Indeks S&P 500 turun 1,21 persen dan Nasdaq Composite terkoreksi 2,60 persen. Adapun Dow Jones Industrial Average menguat tipis 0,02 persen.

Pada perdagangan Jumat pagi, bursa saham Asia bergerak beragam. Indeks Nikkei melemah 1,44 persen ke 62.028,00, Shanghai turun 1,40 persen ke 3.606,96, dan Kospi melemah 2,21 persen ke 5.411,17.

Sebaliknya, Hang Seng menguat 0,07 persen ke 22.950,95 dan Straits Times naik 0,57 persen ke 5.384,95.

Di tengah pergerakan bursa global yang beragam, pelaku pasar akan mencermati kemampuan IHSG mempertahankan penguatan serta menguji resistance 5.400.

Perkembangan kebijakan BEI, respons investor terhadap konsultasi MSCI, dan arah harga minyak dunia juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan dalam perdagangan saham. 

Baca Juga: IHSG Anjlok! MSCI Usul Bursa RI ke Standalone Market, Ini Analisis Kiwoom Sekuritas |SAPA PAGI

Download KompasTV Apps di TV kamu, sekarang juga di https://app.kompas.tv/. Satu apps untuk semua Video Premium, Breaking News, dan Live Streaming 24/7 dari Kompas Gramedia.

Penulis : Rizky L Pratama Editor : Tito-Dirhantoro

Sumber : Kompas TV/Antara

Tag
  • IHSG
  • Bursa Efek Indonesia
  • MSCI
  • Pasar Saham
  • Harga Minyak
  • The Fed
Selengkapnya


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Finnet Gandeng Kemenhub, Integrasikan Pembayaran PNBP Layanan Laut
• 16 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Asmo Sulsel Edukasi Safety Riding, 90 Karyawan FIFGroup Makassar Dibekali Tips Berkendara Aman
• 21 jam laluharianfajar
thumb
Statistik Amar Brkic: 2 Laga, 1 Gol untuk Borneo FC di AFC Challenge League
• 20 jam lalubola.com
thumb
Perkara Payment Gateway Denny Indrayana Digugat via Praperadilan
• 22 jam laluokezone.com
thumb
Sindikasi Pemilu dan Demokrasi Soroti Ketimpangan Anggaran dan Membengkaknya Jabatan
• 11 jam lalurepublika.co.id
Berhasil disimpan.