Prabowo Puji Kinerja Kabinet Merah Putih, Pengamat: Kalau Rakyat Ikut Bangga, Enggak Perlu Diumumkan

wartaekonomi.co.id
1 jam lalu
Cover Berita
Warta Ekonomi, Jakarta -

Penilaian Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto terhadap kinerja kabinetnya pada peringatan dua tahun pemerintahannya memantik respons kritis dari kalangan analis politik. Mereka mengingatkan rapor sebenarnya berasal dari publik.

Pengamat Politik, Hendri Satrio (Hensa) menilai bahwa pujian dari seorang kepala negara kepada jajaran menterinya adalah sebuah kewajaran manajerial. Namun, ia mengingatkan secara tegas bahwa legitimasi kebanggaan yang sesungguhnya bukan berasal dari podium istana, melainkan dari realitas riil yang dirasakan langsung oleh masyarakat di akar rumput.

Baca Juga: Bantah Menghindar, Jokowi dan Gibran Siap Hadir Jika Dipanggil di Polemik Ijazah

Hensa membedah makna di balik klaim kinerja "cukup membanggakan" yang disampaikan oleh Presiden Prabowo. Menurutnya, rapor kinerja pemerintah tidak bisa hanya diukur dari sentimen internal kabinet.

Jika kebijakan-kebijakan yang dieksekusi oleh kementerian dan lembaga benar-benar berhasil mengangkat taraf hidup masyarakat, maka gaung keberhasilan itu akan muncul secara organik tanpa perlu dideklarasikan secara seremonial oleh penguasa.

“Kalau rakyat ikut bangga, enggak perlu diumumkan. Nanti kelihatan sendiri di survei,” ujar Hendri Satrio dikutip Jumat (23/10/2026).

Ia menjabarkan bahwa publik memiliki parameter penilaian yang jauh lebih pragmatis dibandingkan para elite politik. Retorika kebanggaan yang bergaung di ruang-ruang rapat pemerintahan sering kali tidak sejalan dengan realitas daya beli dan stabilitas ekonomi di lapangan.

Hensa menegaskan bahwa masyarakat lebih membutuhkan aksi konkret yang berdampak langsung pada dompet dan perut mereka.

“Yang bilang membanggakan itu Pak Prabowo. Sah-sah saja. Tapi ‘membanggakan’ itu kata sifat. Rakyat butuhnya kata kerja, misal harga terjangkau, lapangan kerja ada, dapur tetap ngebul, kebijakan kelas menengah,” ungkap Hensa.

Lebih jauh, ia juga menyoroti kehati-hatian presiden dalam memilih diksi saat memuji anak buahnya. Ia mencermati penggunaan kata "cukup" dalam frasa "cukup membanggakan".

Menurut insting politiknya, pemilihan kata tersebut merupakan sinyalemen halus dari sang presiden bahwa performa kabinet masih jauh dari kata sempurna dan masih menyisakan setumpuk pekerjaan rumah.

“Coba disimak baik-baik, saat itu Pak Prabowo bilang ‘cukup membanggakan’, bukan ‘sangat membanggakan’. Itu buat saya seperti cara halus seorang presiden untuk bilang 'lumayan, tapi PR-nya masih banyak,' gitu,” ujarnya.

Hensa karenanya memberikan peringatan keras kepada seluruh jajaran menteri dan kepala lembaga agar tidak terlena oleh apresiasi normatif dari Prabowo. Ia khawatir pujian tersebut justru memicu sindrom kepuasan diri (complacency) di tengah pusaran krisis ekonomi global dan domestik yang masih mengancam stabilitas nasional.

“Pujian presiden itu vitamin buat menteri. Asal jangan berubah jadi obat tidur, harusnya mereka sadar juga kalau ini kembali dibela kinerja mereka,” katanya.

Baca Juga: Sentilan Prabowo Cari Dedi Mulyadi di Rakornas TPAKD 2026: Paling Dekat Kok Malah Enggak Hadir

Hensa menegaskan bahwa presiden saat ini tengah memainkan peran ganda, yakni sebagai pelindung moral menterinya di ruang publik, sekaligus sebagai evaluator utama di balik pintu tertutup.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Bahasa Jawa Terdengar di Parlemen Malaysia saat Bahas Karhutla
• 15 jam laludetik.com
thumb
Kejaksaan Pastikan Restorative Justice Tak Berlaku untuk Koruptor dan Pelaku Kejahatan Berat
• 29 menit lalusuarasurabaya.net
thumb
Juventus Tersandung di Kandang 2-2! Sempat Unggul, Bianconeri Nyaris Dipermalukan Rennes
• 7 jam laluharianfajar
thumb
Mekeng Nilai Kebijakan Energi Pemerintahan Prabowo Perkuat Kemandirian
• 2 jam laludetik.com
thumb
Empati harus hadir sebelum tragedi
• 4 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.