Pemerintah Ancam Hentikan Ekspor Gas, Ini Daftar Negara Pembeli Utama Gas RI

katadata.co.id
2 jam lalu
Cover Berita

Pemerintah mempertimbangkan untuk tidak memperpanjang kontrak ekspor gas alam ke negara tetangga untuk memprioritaskan pemenuhan kebutuhan energi dalam negeri.

Sikap tersebut disampaikan oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, setelah Presiden Prabowo Subianto meminta untuk menjaga sumber daya nasional di tengah kondisi geopolitik global yang penuh tekanan saat ini. Bahlil juga turut mengancam bakal menghentikan ekspor gas ke negara-negara yang dinilai tidak kooperatif dan tidak menghargai Indonesia.

Ketua Umum Partai Golkar itu telah dua kali menyampaikan hal serupa, yakni setelah menghadiri Sidang Kabinet di Istana Merdeka Jakarta pada Rabu (21/10) dan saat menyampaikan pidato meresmikan pengaliran gas perdana dari Sumur Jangkrik North East (JNE) #6 dan peningkatan produksi Lapangan Maha di wilayah lepas pantai West Ganal, Kalimantan Timur, pada Kamis (22/10).

“Saya akan melakukan evaluasi dan saya tidak segan-segan untuk mempertimbangkan untuk tidak melakukan ekspor kepada negara mereka yang tidak menghargai Indonesia,” kata Bahlil, sebagaimana disiarkan oleh kanal Youtube KementerianESDM pada Kamis (22/10).

Kementerian ESDM menyampaikan total pemanfaatan gas bumi Indonesia sebanyak 74,55% digunakan untuk keperluan domestik, sementara 25,39% untuk ekspor di sepanjang semester 1 tahun ini.  Pada paruh pertama 2026, Indonesia melakukan dua jenis ekspor gas, yakni ekspor gas alam cair (LNG) 998,77 BBTUD dan ekspor gas pipa 354,13 BBTUD.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, Indonesia mengekspor gas alam ke sejumlah negara ASEAN, antara lain Singapura, Malaysia, Thailand, dan Filipina. Indonesia juga memasok gas alam ke negara di luar ASEAN, seperti Jepang, Korea Selatan, dan Cina. Pada 2025, Singapura menjadi tujuan ekspor terbesar ketiga berdasarkan volume setelah Jepang dan Cina.

BPS menunjukkan ekspor gas alam Indonesia pada 2025 mencapai 14,04 juta ton dengan nilai free on board (FOB) US$7,19 miliar atau sekitar Rp129,74 trilun dengan asumsi kurs Rp18.047 per dolar Amerika Serikat. Adapun negara-negara tujuan ekspor gas alam Indonesia sebagai berikut:

ASEANSingapura

Indonesia mulai memasok gas pipa ke Singapura pada 3 Januari 2000 melalui jaringan West Natuna Transportation System. BPS mencatat ekspor ke Singapura pertama kali tercatat pada 2001 dengan volume pengiriman 29 ribu ton senilai FOB US$5,8 juta. Pada 2025, volume ekspor gas alam Indonesia ke Singapura mencapai 3,22 juta ton dengan nilai FOB US$1,66 miliar. Angka tersebut turun dibandingkan 2024, ketika volume ekspor mencapai 3,74 juta ton dengan nilai US$2,22 miliar.

Ekspor gas alam Indonesia ke Singapura mencapai puncaknya pada 2017, dengan volume 7,65 juta ton dan nilai FOB US$2,48 miliar. Setelah itu, volume ekspor cenderung menurun pada tahun berikutnya dengan 7,50 juta ton hingga mencapai 3,22 juta ton pada 2025.

Malaysia

Malaysia juga menjadi kosumen gas Indonesia sejak pertama kali menerima suplai 11 ribu ton dengan nilai FOB US$2,2 juta pada 2002. Ekspor kemudian meningkat tajam pada 2009 menjadi 870,6 ribu ton dan mencapai 2,05 juta ton pada 2010.

Namun, tren tersebut berbalik dalam beberapa tahun terakhir. Volume ekspor turun dari 370,5 ribu ton pada 2020 menjadi 327,01 ribu ton pada 2021, 193 ribu ton pada 2022, 110,75 ribu ton pada 2023, dan 56,43 ribu ton pada 2024. BPS tidak mencatat ekspor ke Malaysia pada 2025.

Thailand

BPS mencatat Indonesia pertama kali mencatat menjual gas ke Thailand pada 2004 sejumlah 26,2 ribu ton dengan nilai FOB US$16,4 juta. Volume ekspor kemudian meningkat menjadi 662,8 ribu ton pada 2024, sebelum turun menjadi 290,5 ribu ton pada 2025. Nilai FOB ekspor ke Thailand juga turun dari US$368,8 juta pada 2024 menjadi US$152,5 juta pada 2025.

Filipina

Ekspor gas Indonesia ke Filipina pertama kali tercatat pada 2002 dengan volume 59,3 ribu ton senilai FOB US$14,2 juta. Volume ekspor berfluktuasi pada tahun-tahun berikutnya dan tidak tercatat pada periode 2012–2023. Ekspor kembali tercatat pada 2024 sebesar 140,12 ribu ton dengan nilai FOB US$100,7 juta. Pada 2025, volume turun menjadi 137,5 ribu ton dan nilai FOB menjadi US$85 juta.

Negara lainnyaJepang

Jepang merupakan tujuan ekspor gas alam Indonesia terbesar berdasarkan volume dan nilai FOB pada. BPS mencatat ekspor ke Jepang mencapai 3,79 juta ton dengan nilai US$2,08 miliar pada 2025. Volume tersebut meningkat sekitar 19,2% dibandingkan 2024 yang mencapai 3,19 juta ton, sedangkan nilai FOB naik sekitar 3%.

Jepang sudah tercatat sebagai tujuan ekspor sejak awal periode statistik BPS pada 2000. Pada tahun tersebut, volume ekspor mencapai 18,57 juta ton dengan nilai FOB US$4,46 miliar.

Korea Selatan

Korea Selatan (Korsel) menjadi tujuan ekspor terbesar kedua setelah Jepang dengan total volume sekitar 116,45 juta ton selama 2000-2025. Pada tahun ini, Indonesia mengekspor 2,27 juta ton gas alam ke negara tersebut dengan nilai FOB US$943,6 juta.

Korsel sudah tercatat sebagai tujuan ekspor gas Indonesia pada 2000. Saat itu, volume pengiriman mencapai 5,84 juta ton dengan nilai FOB US$1,35 miliar. Masa puncak ekspor terjadi pada 2011 saat volume transaksi mencapai 9,38 juta ton dengan nilai FOB US$6,07 miliar. Setelahnya, volume ekspor terus menurun hingga 8,51 juta ton pada tahun setelahnya, 6,13 juta ton pada 2013 dan 2,48 juta ton pada 2019.

Cina

Cina juga menjadi tujuan ekspor gas Indonesia dalam 26 tahun terakhir sejak tahun 2000 dalam catatan BPS. Pada tahun awal tersebut, Indonesia mengekspor 2,64 juta ton dengan nilai FOB US$663,4 juta. Periode puncak ekspor terjadi pada 2018 ketika volumenya mencapai 5,10 juta ton dengan nilai FOB sebesar US$2,34 miliar.

Setelah mencapai puncak pada 2018, volume ekspor turun menjadi 4,56 juta ton pada 2019, sebelum kembali meningkat menjadi 5,35 juta ton pada 2020. Adapun pada 2025 volume ekspor gas mencapai 3,79 juta ton dengan nilai FOB US$1,99 miliar.

Australia dan Hongkong

Ekspor gas alam Indonesia ke Australia pertama kali tercatat pada 2002 dengan volume 8,5 ribu ton, dengan nilai FOB US$2 juta. Volume ekspor masih relatif kecil dan berfluktuasi dalam periode berikutnya.

BPS mencatat ekspor gas ke Australia mencapai puncak volume pada 2015 sebesar 68,8 ribu ton dengan nilai FOB US$27 juta. Sementara itu, ekspor terakhir yang tercatat dalam periode 2000–2025 terjadi pada 2020, sejumlah 61,4 ribu ton dengan nilai FOB US$14,8 juta. BPS tidak mencatat ekspor ke Australia selama periode 2021-2025.

Adapun ekspor gas ke Hongkong pertama kali tercatat pada tahun 2000 sejumlah 27 ribu ton dengan nilai FOB US$7,1 juta. Pada 2001, ekspor turun menjadi 3,6 ribu ton dengan nilai US$900 ribu. Tidak ada ekspor tercatat sejak 2002 hingga 2025.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Suku Cadang BMW & MINI Diobral Sampai 90%, Catat Lokasi Serta Tanggalnya!
• 6 jam lalumedcom.id
thumb
Gempa 7 M di Tibet Terkuat Sejak 2024: 16 Orang Tewas, 11 Kritis
• 4 jam lalukumparan.com
thumb
Comeback ke Pink Spiders, Mantan Rekan Megawati Hangestri Bertekad Raih Gelar Juara V-League 2026–2027
• 16 jam lalutvonenews.com
thumb
Kondisi Kabut Asap Palangka Raya & Jambi Masih Parah, Ribuan Kasus ISPA Dilaporkan | SAPA SIANG
• 16 jam lalukompas.tv
thumb
BGN Kembalikan Rp 160 Miliar Temuan BPK, Sisa Rp 35,8 Miliar
• 16 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.