Hilirisasi Mineral Kritis Buka Peluang Indonesia Kuasai Rantai Pasok Global

republika.co.id
3 jam lalu
Cover Berita

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Hilirisasi mineral kritis membuka peluang bagi Indonesia untuk meningkatkan nilai tambah industri sekaligus memperkuat posisinya dalam rantai pasok global. Pengolahan bijih nikel menjadi produk baterai tertentu bahkan berpotensi menghasilkan nilai tambah hingga 642 kali lipat dibandingkan bahan mentah.

Berdasarkan data Kementerian Perindustrian, bijih nikel yang bernilai sekitar 30 dolar AS per ton dapat meningkat menjadi 3.628 dolar AS per ton setelah diolah menjadi mixed hydroxide precipitate (MHP), salah satu bahan baku baterai. Nilai tersebut setara dengan peningkatan sekitar 120 kali lipat, sedangkan pada tahapan produk baterai tertentu, nilai tambahnya dapat mencapai 642 kali lipat.

Baca Juga
  • BPDP Dukung World Coconut Day 2026, Dorong Hilirisasi Industri Kelapa
  • Rosan: Hilirisasi Tak Lagi Sekadar Bangun Smelter
  • Pemerintah Pacu Investasi Berkualitas Lewat Hilirisasi dan Reformasi Perizinan

Managing Director Development Investment PT Danantara Development Management Fund (DDMF) M Rachmat Kaimuddin mengatakan, peningkatan nilai tambah mineral tidak cukup hanya mengandalkan pembangunan fasilitas pengolahan. Pengembangan industri juga membutuhkan investasi yang terkoordinasi, penguatan kemampuan domestik, serta rantai pasok yang mampu mendukung kegiatan manufaktur.

“Untuk memperoleh nilai tambah yang optimal dari mineral kritis, kapasitas pengolahan saja tidak cukup. Diperlukan investasi yang terkoordinasi, kemampuan domestik yang lebih kuat, rantai pasok yang tangguh, serta kemitraan yang mampu memobilisasi modal untuk pembiayaan pembangunan dan investasi swasta,” ujar Rachmat dalam siaran pers, Jumat (23/10/2026).

.rec-desc {padding: 7px !important;}

Hal itu disampaikan Rachmat saat menghadiri diskusi panel Critical Minerals and Economic Transformation in the Global South di Bangkok, Thailand, pertengahan Oktober. Diskusi tersebut merupakan salah satu kegiatan dalam rangkaian Pertemuan Tahunan Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia. Forum itu membahas peluang negara-negara berkembang untuk memperoleh manfaat ekonomi lebih besar dari pengelolaan mineral kritis.

Selama beberapa dekade, banyak negara berkembang berperan sebagai pemasok bahan mentah, sementara nilai ekonomi yang lebih besar diperoleh dari pengolahan lanjutan, manufaktur, dan distribusi. Perkembangan industri rendah karbon membuka peluang bagi negara penghasil mineral untuk meningkatkan perannya dalam rantai produksi global.

Berdasarkan data International Energy Agency (IEA) yang dipaparkan dalam bahan diskusi, sektor energi menyumbang sekitar 75 persen pertumbuhan permintaan mineral kritis utama pada 2025. Peningkatan permintaan terutama berasal dari industri kendaraan listrik, penyimpanan energi, jaringan listrik, dan teknologi tenaga surya.

Indonesia memiliki posisi penting dalam pasokan mineral global, khususnya nikel. Data U.S. Geological Survey (USGS) menunjukkan Indonesia merupakan produsen nikel tambang terbesar dunia pada 2024 dengan kontribusi sekitar 62 persen terhadap produksi global.

Meski demikian, besarnya produksi mineral belum secara otomatis menunjukkan tingginya nilai tambah industri domestik. Sektor pertambangan dan penggalian nonmigas tercatat menyumbang sekitar 3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB), sedangkan industri manufaktur logam dasar berkontribusi sekitar 1 persen.

Pengembangan industri pengolahan menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan manfaat ekonomi dari sumber daya mineral tersebut. Dewan Ekonomi Nasional (DEN) memperkirakan nilai ekspor produk hilirisasi Indonesia mencapai 50 miliar dolar AS hingga akhir 2026, meningkat sekitar 45 persen dibandingkan nilai ekspor hilirisasi pada 2024 sebesar 34,5 miliar dolar AS.

Selain peningkatan ekspor, pengembangan industri baterai menjadi salah satu peluang investasi lanjutan. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memperkirakan kebutuhan baterai di Indonesia mencapai 108,2 gigawatt-jam pada 2030.

Untuk mendukung target pengembangan kendaraan listrik, kebutuhan kapasitas baterai diproyeksikan mencapai 780 gigawatt-jam. Sementara itu, kapasitas bahan baku yang tersedia saat ini disebut setara dengan 373 gigawatt-jam sehingga terdapat selisih kebutuhan kapasitas sekitar 407 gigawatt-jam.

Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya pengembangan investasi pada berbagai tahapan rantai pasok baterai. Selain fasilitas pengolahan mineral, penguatan teknologi, manufaktur, dan kemampuan industri domestik diperlukan agar manfaat ekonomi tidak hanya berasal dari ekspor bahan baku.

Dalam diskusi tersebut, Rachmat turut membagikan pengalaman Indonesia menjalankan hilirisasi mineral kepada peserta dari kawasan ASEAN dan Afrika. Kedua kawasan memiliki kepentingan untuk meningkatkan nilai tambah mineral sekaligus memperluas peran negara penghasil dalam industri global.

Forum tersebut juga menghadirkan Director Macroeconomics & Governance Division United Nations Economic Commission for Africa Stephen Njuguna Karingi, Head Economic Policy and Sustainable Development African Union Commission Patrick Ndzana Olomo, serta CEO Lestari Advisors Indonesia Ery Wijaya.

Pengembangan mineral kritis dinilai perlu disertai investasi yang mampu meningkatkan kapasitas produksi, produktivitas, dan penguasaan teknologi. Dengan demikian, hilirisasi tidak hanya meningkatkan nilai ekspor, tetapi juga dapat membuka peluang penciptaan lapangan kerja dan pengembangan industri bernilai tambah di dalam negeri.

.img-follow{width: 22px !important;margin-right: 5px;margin-top: 1px;margin-left: 7px;margin-bottom:4px}
Ikuti Whatsapp Channel Republika
.img-follow {width: 36px !important;margin-right: 5px;margin-top: -10px;margin-left: -18px;margin-bottom: 4px;float: left;} .wa-channel{background: #03e677;color: #FFF !important;height: 35px;display: block;width: 59%;padding-left: 5px;border-radius: 3px;margin: 0 auto;padding-top: 9px;font-weight: bold;font-size: 1.2em;} @font-face { font-family: "LPMQ"; src: url("https://static.republika.co.id/files/alquran/LPMQ-IsepMisbah.ttf") format("truetype"); font-weight: normal; font-style: normal } .arabic-text { font-family: "LPMQ"; font-weight: normal !important; direction: rtl; text-align: right; font-size: 2.5em !important; line-height: 49px !important; }

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
BRI Siap Buyback Saham, Bukti Optimisme terhadap Fundamental dan Prospek Jangka Panjang
• 18 jam laluidxchannel.com
thumb
Musda V Demokrat Sulsel, Appi Borong Seluruh Suara DPC dan DPD
• 19 jam lalucelebesmedia.id
thumb
Wakil Bupati Kotawaringin Timur Ungkap Tantangan Penanganan Karhutla
• 1 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Pendangkalan Sungai Cibulan-bulan dan Keseharian Warga di Ciparagejaya
• 6 jam lalukompas.id
thumb
Rajiv Apresiasi Langkah Kapolri Usut Korporasi Pemicu Karhutla
• 1 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.