Jakarta, ERANASIONAL.COM – Nilai tukar rupiah dibuka melemah pada perdagangan Jumat (23/10).
Mata uang Indonesia tersebut terkoreksi 16 poin atau setara 0,09 persen ke level Rp18.076 per dolar AS jika dibandingkan dengan posisi pada penutupan hari sebelumnya.
Pergerakan mata uang di kawasan Asia terpantau beragam.
Penguatan dicatatkan oleh won Korea Selatan sebesar 0,27 persen dan peso Filipina yang naik 0,17 persen, sedangkan yuan China cenderung stagnan.
Sebaliknya, tekanan melanda sejumlah mata uang regional lainnya.
Yen Jepang memimpin pelemahan dengan turun 0,11 persen, disusul dolar Hong Kong (0,06 persen), serta ringgit Malaysia dan dolar Singapura yang sama-sama menyusut 0,02 persen.
Kondisi serupa terjadi pada jajaran mata uang utama negara maju. Dolar Kanada menjadi satu-satunya yang mampu menguat tipis 0,01 persen.
Sementara itu, dolar Australia terdepresiasi 0,12 persen, euro dan franc Swiss masing-masing turun 0,06 persen dan 0,05 persen, serta pound sterling Inggris melemah 0,05 persen.
Analis DOO Financial Futures, Lukman Leong, menjelaskan bahwa tekanan pada rupiah dipicu oleh meningkatnya sentimen risk-off di tingkat global.
Menurutnya, kecemasan pasar terhadap sektor kecerdasan buatan (AI), memanasnya konflik geopolitik di Timur Tengah, hingga pembengkakan defisit fiskal Prancis menjadi faktor utama pendorong ketidakpastian pasar.
“Sentimen risk-off yang menguat di pasar global berpotensi menekan rupiah terhadap dolar AS,” terang Lukman.
Kendati demikian, Lukman menyebut rupiah masih menyimpan peluang untuk bertahan jika ditopang oleh kinerja positif dari pasar saham dalam negeri.
Untuk perdagangan hari ini, ia memproyeksikan rupiah bergerak fluktuatif di kisaran Rp17.900 hingga Rp18.100 per dolar AS. []





