Grid.ID – Sebanyak 14 siswi SMP di Tangerang Selatan diduga menjadi korban perundungan oleh kakak kelas setelah diajak berkumpul di sebuah warung kopi. Bukannya bermain bersama, mereka justru disebut dipaksa merokok hingga meminum cairan racikan sebagai hukuman.
Peristiwa tersebut diduga terjadi pada Jumat (9/10/2026) malam. Kasus ini mencuat setelah salah satu orang tua korban menceritakan kronologi kejadian yang dialami anaknya dan melaporkannya kepada pihak sekolah.
Menurut keterangan orang tua korban berinisial A, anaknya diajak berkumpul bersama sejumlah siswi lainnya di sebuah warung kopi di wilayah Tangerang Selatan. Para siswi tersebut disebut diminta datang beramai-ramai hingga akhirnya 14 orang berkumpul di lokasi.
“Awal mulanya, diajakin main. Tapi enggak boleh cuma dua atau tiga orang, harus ramai-ramai. Akhirnya datanglah 14 orang," ujar A, dikutip dari Kompas.com.
Akan tetapi, pertemuan itu disebut berubah menjadi pengalaman tidak menyenangkan bagi para siswi. Mereka disebut diajak mengikuti permainan yang melibatkan rokok dan aturan tertentu yang harus dipatuhi peserta.
Dalam permainan tersebut, para siswi diminta merokok. Mereka disebut akan mendapatkan hukuman apabila abu rokok yang dipegang jatuh saat permainan berlangsung.
Hukuman yang diberikan diduga tidak hanya berkaitan dengan rokok. Menurut keterangan orang tua salah satu korban, para siswi juga disebut dipaksa meminum cairan racikan yang dibuat dari berbagai bahan.
Cairan tersebut diduga terdiri dari kopi, saus, kecap, lada bubuk, bawang putih, air keran, air ludah, dan cuka. Campuran itu disebut diberikan sebagai hukuman kepada para siswi yang dianggap melanggar aturan permainan.
Situasi semakin mengkhawatirkan ketika sejumlah siswi disebut ingin pulang lebih awal. Menurut keterangan orang tua korban, mereka harus menghabiskan setengah botol cairan racikan sebelum diperbolehkan meninggalkan lokasi.
Para siswi tersebut disebut baru diizinkan pulang setelah pukul 22.00 WIB. Setelah kejadian itu, orang tua mulai mengkhawatirkan kondisi anak-anak mereka, terlebih ketika muncul keterangan mengenai keluhan kesehatan yang dialami sejumlah korban.
A mengungkapkan bahwa anaknya belum masuk sekolah karena mengalami sakit perut. Ia juga menyebut adanya korban lain yang mengalami muntah darah, tetapi penyebab keluhan tersebut belum dapat dipastikan tanpa keterangan medis yang mendukung.
"Anak saya sampai hari ini tidak masuk sekolah karena masih sering sakit perut. Kalau teman-temannya yang lain ada yang sampai muntah darah," ujar A melansir dari Kompas.com, Jumat (23/10/2026).
Menurut A, berdasarkan penuturan anaknya dan korban lainnya, dugaan aksi perundungan tersebut didalangi oleh tiga siswi kakak kelas.
Informasi mengenai kejadian perundungan tersebut kemudian disampaikan kepada pihak sekolah pada Selasa (13/10/2026). Kepala sekolah, Kunardi, mengatakan pihaknya telah menugaskan tim untuk menggali keterangan dan melakukan pendalaman internal terkait kasus tersebut pada Rabu hingga Kamis.
Setelah melakukan penelusuran awal, pihak sekolah melaporkan dugaan perundungan tersebut kepada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Tangerang Selatan. Penanganan kasus selanjutnya menjadi perhatian agar dugaan kekerasan terhadap para siswi dapat ditindaklanjuti dan keselamatan siswa di lingkungan sekolah tetap terjaga.(*)
Artikel Asli




