Sejumlah situs web pemerintah dan layanan digital di berbagai negara dinonaktifkan sementara setelah kecerdasan buatan (AI) membantu menemukan dua celah keamanan kritis pada PHP. Kerentanan ini berpotensi memungkinkan peretas menjalankan kode berbahaya dari jarak jauh pada server yang belum diperbarui.
Sejumlah instansi di Eropa, termasuk Prancis, Belanda, Finlandia, Jerman, dan Belgia, mengambil langkah pencegahan dengan menonaktifkan sebagian layanan digital untuk mengurangi risiko serangan.
PHP Foundation merilis pembaruan keamanan pada 21 Oktober 2026 untuk mengatasi kedua kerentanan tersebut. Pembaruan tersedia pada PHP versi 8.5.12, 8.4.27, 8.3.36, dan 8.2.35.
Dalam pengumuman resminya, PHP Foundation mengimbau pengguna segera memperbarui sistem. “Jika Anda menggunakan PHP, sangat penting untuk segera melakukan pembaruan,” demikian imbauan organisasi tersebut.
Baca Juga: TKD Kena Efisiensi Anggaran, Prabowo Justru Optimistis Aliran Dana ke Daerah Akan Lebih Besar
PHP Foundation juga mengakui adanya keterlambatan dalam penanganan salah satu kerentanan akibat keterbatasan sumber daya dan proses pengambilan keputusan internal. Organisasi itu menyatakan akan memperkuat penanganan laporan keamanan serta meningkatkan koordinasi dengan peneliti eksternal.
Salah satu kerentanan diketahui telah teridentifikasi dalam audit keamanan pada 2024. Namun, penelitian berbantuan AI pada 2026 membantu mengungkap potensi eksploitasi secara lebih konkret.
PHP digunakan secara luas pada situs pemerintahan, portal berita, toko daring, dan platform seperti WordPress. Karena itu, pengelola sistem diimbau memasang pembaruan, memeriksa aktivitas server, serta membatasi akses terhadap sistem rentan hingga perbaikan selesai.
Penonaktifan layanan tidak selalu berarti telah terjadi peretasan. Langkah tersebut dapat menjadi tindakan pencegahan untuk melindungi sistem dan data pengguna dari potensi serangan siber.





