Revitalisasi Galeri Nasional Indonesia Perlu Perhatikan Akses Warga  Terhadap Seni

kompas.id
1 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS — Tahap revitalisasi Galeri Nasional Indonesia (Galnas), Jakarta memasuki babak baru. Selain pembaruan fisik, upaya tersebut juga menyasar perluasan akses masyarakat dari berbagai lapisan terhadap ruang seni.

Menteri Kebudayaan Fadli Zon, dalam acara peletakan batu pertama Revitalisasi Galeri Nasional Indonesia, pada Jumat (23/10/2026), di Jakarta, menekankan, proyek revitalisasi berpusat pada perbaikan pengalaman publik.

Pembangunan yang dilakukan bertujuan untuk memperluas akses masyarakat terhadap karya seni rupa. “Revitalisasi tersebut punya makna yang lebih besar ketimbang pembangunan fisik. Tahapan yang penting itu (salah satunya) memperkuat pengalaman masyarakat,” ujarnya.

Untuk memperkaya perjumpaan masyarakat dengan seni rupa, Kementerian Kebudayaan berencana memboyong koleksi mahakarya maestro lukis dari Istana Negara untuk dipamerkan secara permanen di Galeri Nasional Indonesia atau Galnas.

Langkah ini, menurut Fadli, merupakan upaya nyata memecah elitisme seni rupa. Adapun lukisan-lukisan yang dimaksud meliputi karya dari Raden Saleh, Basuki Abdullah, hingga pelukis asing seperti Diego Rivera dan Romualdo Locatelli.

Terkait hal itu, Galeri Nasional perlu dibenahi wujud fisiknya supaya bisa menampung koleksi tersebut. “Untuk itu, perlu ada satu rumah yang representatif,” ungkapnya menegaskan.

Serial Artikel

Revitalisasi Museum di Jakarta Bukan Titik Akhir

Museum-museum di Jakarta pascarevitalisasi masih perlu memperkuat komunikasi dan pemaknaan warisan budaya secara mendalam.

Baca Artikel
Pemugaran terintegrasi

Dengan menggandeng PT Nindya Karya selaku pelaksana konstruksi, Kementerian Kebudayaan memperbaiki sarana fisik secara menyeluruh. Gedung A sampai B bakal dipugar agar kapasitasnya meningkat. Melalui perluasan ruang pameran, Galnas juga dirancang agar mampu menghadirkan alur pameran yang artistik.

Rencananya, pihaknya berniat menghadirkan karya-karya seniman kontemporer. Pengunjung yang datang akan disajikan sejarah budaya seni rupa dari tahun 1800-an hingga masa kini.

Pemugaran Galnas juga tidak direncanakan sembarangan. Fadli menggarisbawahi, arsitektur bangunan beraliran Neo-Klasik ini dipertahankan. “(Revitalisasi) tak menghilangkan atau mengurangi karakter historis yang melekat di dalamnya. Prinsip kita jelas. Pelestarian, pengembangan, dan pemanfaatan harus berjalan beriringan,” ungkapnya.

Ke depannya, Fadli berharap Galnas menjadi kantong budaya (cultural enklav) yang didatangi banyak orang. Demi mempermudah kunjungan itu, jembatan penyeberangan orang (JPO) Gambir direncanakan untuk digeser lebih dekat ke galeri. Tak hanya itu, rencana perluasan Stasiun Gambir akan diselaraskan dengan revitalisasi.

” Kita harus mengintegrasikan dengan penataan kawasan di sekitar sini. Saya membayangkan ribuan orang bisa datang ke sini setiap hari,” tutur Fadli menambahkan.

Mengikis jarak publik

Terlepas dari pemugaran secara fisik, Ketua Dewan Kurator Galnas Aminudin TH Siregar menyebut sejumlah tantangan yang dihadapi untuk mendekatkan warga dengan seni rupa. Banyak orang beranggapan Galnas hanya diperuntukkan bagi kalangan tertentu yang memahami seni. 

Pengunjung masih menyimpan kekhawatiran misalnya takut salah menafsirkan atau kebingungan dalam bersikap di ruang pameran. ”Kecemasan itu perlu diperhatikan lagi,” ungkapnya menegaskan.

Bersama dengan jajaran Dewan Kurator, ia perlu mengkaji ulang cara Galnas berkomunikasi. Aspek-aspek seperti bahasa kuratorial, informasi koleksi, dan gaya menampilkan pameran harus membuka ruang bagi semua pengunjung yang memiliki pengalaman dan pengetahuan berbeda.

Pengunjung bisa menikmati seni dari hal yang akrab dengan mereka misalnya keluarga, pekerjaan, lingkungan, ingatan, atau pengalaman sosial. Bila hal-hal itu terpenuhi, perbincangan tentang seni bisa meluas. ”Kami ingin orang merasa diterima, berani bertanya, dan punya alasan untuk kembali,” ucap Aminudin.

Demi meruntuhkan dinding pembatas antara karya seni dan masyarakat awam, tata letak informasi rencananya disajikan secara bertingkat. Pengantar karya ditulis dengan bahasa populer sehingga publik mudah mencerna. Alur kunjungan pun dirombak menjadi senyaman mungkin.

Kami ingin orang merasa diterima, berani bertanya, dan punya alasan untuk kembali.

Selain revitalisasi, Aminudin menyiapkan pendekatan kuratorial baru yang disebut “Historiografi Relasional” agar sejarah seni rupa Indonesia dapat dibaca dengan lebih membumi. Dalam pendekatan ini, koleksi dipajang berdasarkan urutan waktu sekaligus dibingkai melalui tema keseharian. “Misalnya, (tema) seperti tubuh, alam, dan spiritualitas,” ucapnya.

Beragam kegiatan baru juga tengah digodok Galnas. Kegiatan mendatang tidak sekadar berupa ceramah tapi bersifat partisipatif. Program-program yang dimaksud meliputi sesi pengamatan karya secara saksama (close looking), lokakarya, serta kolaborasi berkelanjutan dengan sekolah dan komunitas.

” Revitalisasi baru akan terasa manfaatnya bagi masyarakat jika ruang yang diperbarui mampu mengintegrasikan koleksi, produksi pengetahuan, dan antusiasme publik,” ujar Aminudin.

Bukan sekadar bangunan

Menanggapi pembaruan Galnas, dosen Kritik Seni Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta Mikke Susanto menyoroti revitalisasi tersebut tidak boleh hanya sebatas proyek fisik.

Lebih dari itu, identitas dan posisi Galnas perlu dirumuskan ulang, terutama dalam hubungannya dengan masyarakat. “Revitalisasi Galeri Nasional Indonesia sebaiknya dirancang berdasarkan tujuan dan hasil yang ingin dicapai,” tegasnya.

Jika misinya untuk mempersempit jarak antara galeri dan masyarakat, Mikke menyarankan perlu pembaruan dari sisi kelembagaan, strategi interpretasi, dan program partisipasi berkelanjutan. Selain itu kapasitas sumber daya manusia (SDM) Galnas wajib ditingkatkan, khususnya faktor-faktor keramahan komunikasi dan edukasi publik.

Keberhasilan revitalisasi tidak cukup diukur dari perubahan gedung atau citra internasional, tapi juga dari kemampuan Galnas memperluas akses kultural dan membangun hubungan bermakna dengan masyarakat.

Di mata Mikke, pembangunan gedung merupakan sebuah pencapaian. Namun manfaat nyata revitalisasi baru terbukti setelah galeri kembali beroperasi. Tolok ukur keberhasilan seperti kemampuan Galnas merangkul masyarakat atau kualitas penyajian koleksi penting diukur secara berkala.

”Keberhasilan revitalisasi tidak cukup diukur dari perubahan gedung atau citra internasional, tapi juga dari kemampuan Galnas memperluas akses kultural dan membangun hubungan bermakna dengan masyarakat,” tutur Mikke.

Baca JugaMenyelami Kisah Para Perupa Indonesia dalam Pameran Koleksi Galeri Nasional ”Flaneur”


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Indonesia dan Dubai Jajaki Kerja Sama Pertukaran Data Elektronik untuk Percepat Perdagangan Internasional
• 20 jam lalupantau.com
thumb
PN Jakpus Kabulkan Permohonan Keberatan atas Putusan Kartel Pindar, AFPI Respons
• 17 jam lalukatadata.co.id
thumb
Polda Metro Jaya Amankan 16 Pemuda Diduga Hendak Tawuran di Jakarta Pusat dan Timur, Sita Celurit hingga Katana
• 1 jam lalupantau.com
thumb
Sidang Ijazah Gibran di PTUN Memanas, Denny Indrayana Tagih Bukti Ini Minggu Depan
• 7 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Petugas Gabungan Masih Berusaha Padamkan Api di Hutan Way Kambas Lampung
• 23 jam lalusuarasurabaya.net
Berhasil disimpan.