Gerakan untuk mengurangi sampah khususnya sampah melalui pemilahan sejak dari rumah terus digalakkan. Bank-bank sampah di tingkat lingkungan tempat tinggal pun terus bermunculan. Salah satunnya adalah Bank Sampah Maju Bersama Rukun Warga 02, Kelurahan Ulujami, Kecamatan Pesanggrahan, Kota Administrasi Jakarta Selatan.
Bank sampah bagi warga yang tinggal di lingkungan 11 rukun tetangga (RT) ini baru dimulai pada Mei 2026 lalu. Upaya pemilahan sampah ini sesuai dengan instruksi Gubernur DKI Jakarta yang tertuang dalam Peraturan Gubernur Nomor 77 Tahun 2020 tentang pengelolaan sampah lingkup rukun warga seperti disampaikan oleh Ketua RW 02 Taufik.
Ia menuturkan saat ini bank sampah di lingkungan yang ia pimpin telah memiliki 420 anggota. Bank Sampah Maju Bersama ini melayani penimbangan sampah terpilah satu kali dalam sepekan, yakni hari Jumat atau Sabtu.
”Tergantung waktu longgarnya para petugas,” ujar Taufik.
Seperti pada Jumat (23/10/2026) pagi, warga yang sebagian besar adalah ibu-ibu tampak antusias mennyetorkan sampah terpilah, yang sebagian besar berupa sampah plastik dari botol bekas air kemasan maupun gelas plastik bekas minuman. Ada juga yang membawa kardus bekas.
Warga menggunakan sepeda motor untuk membawa sampah-sampahnya itu. Bahkan, warga mulai paham memilah jenis sampah bernilai tinggi yang akan disetor ke bank sampah. Tampak beberapa warga telah memilah sampahnya antara botol plastik dan tutup botol serta membuang labelnya sehingga harga jualnya lebih tinggi dari yang tidak dipilah sama sekali.
”Untuk sampah plastik botol bekas air kemasan yang telah dipilah, harganya lebih tinggi dibanding dengan sampah yang masih utuh,” ujar petugas bank sampah yang terlihat sibuk memasukkan hasil timbangan sampah ke buku tabungan warga.
Sampah plastik botol bekas air kemasan yang telah bersih dari label dan tutup botol, misalnya, dihargai Rp 3.500 per kilogram. Adapun yang belum dipilah hanya Rp 1.500 per kilogram.
”Edukasi kepada warga untuk memilah sampahnya sejak dari rumah terus digalakkan,” ujar Taufik.
Sebelumnya petugas bank sampah yang terdiri dari kader PKK dan posyandu ini telah mendapatkan pelatihan lalu menularkan ilmu itu kepada warga. Namun, sampai hari ini pun masih dijumpai warga yang menyetorkan sampahnya apa adanya.
Lebih lanjut, Taufik menjelaskan, bank sampah RW 02 Ulijami mampu mengumpulkan sampah plastik hingga 500 kilogram setiap minggunya. Sampah-sampah yang disetor warga itu lalu ditimbang dan kemudian dipilah.
Label-label botol minuman dibersihkan begitu juga tutupnya, lalu dikumpulkan dalam karung sebelum siangnya dijemput pengepul. Petugas terlihat cekatan membersihkan label pada botol kemasan dengan menggunakan pisau. Termasuk memilah sampah plastik berdasarkan jenisnya.
Saat ini, bank sampah Maju Bersama RW 02 Ulujami hanya melayani sampah anorganik karena belum memiliki lahan penampungan yang memadai. Selama ini proses penimbangan sampah dilakukan di teras rumah warga yang berada di permukiman padat tersebut.
Rumah warga itu berada di samping gang sempit yang asri dan bersih. Taufik berharap, ke depannya bank sampah memiliki lahan sendiri yang lebih luas untuk menambah daya daya tampung serta meningkatkan layanan lainnya seperti pengolahan sampah organik.
Keberadaan bank sampah di tingkat RW menjadi penting tidak hanya dalam hal mengurangi sampah, tetapi edukasi dan merubah pola pikir warga untuk memilah sampah dan mendapatkan nilai ekonomi dari sampah yang disetor ke bank sampah menjadi penggerak inisiatif hijau yang berawal dari rumah.





