Tantangan utama saat ini adalah terutama transparansi kepemilikan dan pemenuhan batas minimum saham beredar di publik (free float) 15 persen.
IDXChannel - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan, penilaian Morgan Stanley Capital International (MSCI) terhadap pasar modal Indonesia berkaitan dengan tata kelola perdagangan saham, bukan fundamental ekonomi maupun kinerja emiten.
Tantangan utama saat ini adalah terutama transparansi kepemilikan dan pemenuhan batas minimum saham beredar di publik (free float) 15 persen serta penanganan saham-saham yang masuk dalam daftar pantau.
"Yang kemarin kami bilang bahwa program daripada reformasi capital market itu sudah diterima. Tinggal sekarang implementasi dari program tersebut," ujar Airlangga saat ditemui di kantornya, Jumat (23/10/2026).
Airlangga mengungkapkan, fundamental emiten di pasar modal domestik masih kuat, tercermin dari kemampuan perusahaan mencetak laba bersih dan membagikan dividen secara konsisten. Karena itu, dia meminta publik membedakan persoalan tata kelola pasar saham dari kondisi fundamental perusahaan maupun perekonomian nasional.
"Bagi Indonesia yang penting ini bukan kaitannya dengan fundamental ekonomi, bukan juga dengan fundamental emiten, tetapi lebih kepada governance daripada trading market, khusus untuk saham yang free float," tutur dia.
Menurut Airlangga, Indonesia masih memiliki waktu hingga Juni 2027 untuk menuntaskan agenda perbaikan yang menjadi bagian dari proses konsultasi dengan MSCI. Selama periode tersebut, perkembangan pelaksanaan reformasi perlu disampaikan secara transparan kepada publik, termasuk rencana demutualisasi bursa.
Di sisi lain, Airlangga mengingatkan bahwa MSCI bukan satu-satunya penyedia indeks global yang menjadi acuan investor internasional. Terdapat penyedia indeks lain, seperti FTSE Russell dan S&P, yang juga digunakan oleh pengelola dana dalam menentukan strategi investasi.
"MSCI bukan satu-satunya rating. Banyak rating lain, ada S&P, FTSE Russell. Jadi, yang satu tidak bisa mendikte yang lain," katanya.
Dengan adanya alternatif indeks tersebut, Airlangga menilai risiko yang timbul dari penilaian MSCI masih dapat dimitigasi. Meski demikian, dampaknya terhadap arus investasi tetap perlu dicermati karena keputusan investasi masing-masing pengelola dana bergantung pada mandat dan acuan indeks yang digunakan.
(DESI ANGRIANI)





