Di tengah ekspansi bisnis, bank pelat merah ini juga memperkuat layanan investasi emas melalui bisnis bullion serta menjaga kualitas aset dan permodalan.
Per September 2026, kredit Bank Mandiri secara bank only mencapai Rp1.605,8 triliun, sedangkan dana pihak ketiga (DPK) tumbuh menjadi Rp1.750,2 triliun.
Dalam Paparan Kinerja Keuangan, Jumat, 23 Oktober 2026 Direktur Finance & Strategy Bank Mandiri Novita Widya Anggraini menyampaikan, dari sisi intermediasi, kredit Bank Mandiri secara bank only mencapai Rp1.605,8 triliun per September 2026, tumbuh 16 persen secara YoY.
Kredit korporasi tercatat mencapai Rp700 triliun per September 2026, tumbuh 22 persen YoY. Lalu kredit segmen SME, mikro, dan konsumer tercatat mencapai Rp174 triliun per September 2026, tumbuh 9 persen YoY.
Pada usaha mikro, kredit non-subsidi Bank Mandiri mencapai Rp31,2 triliun per September 2026, tumbuh 12,9 persen YoY. Pembiayaan ini telah menjangkau 37 provinsi, memperluas dukungan bagi usaha produktif dan kegiatan ekonomi masyarakat.
“Kami menghubungkan layanan bagi perusahaan, pelaku UMKM, dan nasabah individu agar kebutuhan transaksi serta pembiayaan mereka dapat terlayani dengan lebih baik. Dengan dukungan operasional yang andal, pendekatan ini membuka akses bagi usaha untuk berkembang dan memperluas kegiatan ekonomi di daerah,” ujar Direktur Operations Bank Mandiri Timothy Utama dalam konferensi pers, Jumat, 23 Oktober 2026.
Baca Juga :
Bank Mandiri Andalkan Dividen dan Buyback Saham untuk Tambah Nilai bagi Pemegang SahamNovita juga menjelaskan, pertumbuhan kredit dan peningkatan transaksi nasabah turut memperkuat pendapatan perseroan. Hingga September 2026, pendapatan bunga tumbuh 7,08 persen secara tahunan menjadi Rp97,3 triliun, sementara pendapatan nonbunga meningkat 13,8 persen menjadi Rp29,4 triliun.
Pendapatan bunga bersih juga tumbuh 6,2 persen menjadi Rp61,2 triliun, sehingga total pendapatan bank only meningkat 8,54 persen menjadi Rp90,6 triliun. Penguatan pendapatan tersebut diikuti penurunan biaya operasional sebesar 9,03 persen menjadi Rp32,7 triliun.
“Pendapatan kami terus tumbuh seiring pertumbuhan kredit dan meningkatnya transaksi nasabah. Kami melihat fee-based income menjadi penopang penting untuk menjaga pertumbuhan laba,” ujar Novita.
Peningkatan produktivitas tersebut turut tercermin pada cost to income ratio (CIR) bank only yang membaik menjadi 36,1 persen, dari 43 persen setahun sebelumnya. Sementara itu, return on equity (ROE) mencapai 23,6 persen dan return on assets (ROA) sebesar 2,99 persen.
Sejalan dengan penguatan profitabilitas, kualitas aset tetap menjadi perhatian dalam setiap ekspansi kredit. Rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) bruto bank only membaik menjadi 0,98 persen per September 2026, dari 1,03 persen setahun sebelumnya.
Ketahanan portofolio juga didukung NPL coverage ratio bank only sebesar 243 persen, dengan cost of credit sebesar 0,55 persen. Pada saat yang sama, rasio kredit dalam perhatian khusus (special mention loan/SML) bank only turun menjadi 2,88 persen, dari 3,35 persen setahun sebelumnya.
Pada segmen korporasi, NPL tercatat 0,30 persen, sementara NPL kredit ekosistem turunan berada pada 0,90 persen. Pertumbuhan bisnis tersebut turut didukung permodalan yang terjaga, dengan rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) bank only sebesar 18,4 persen per September 2026.
Posisi ini memberikan ruang bagi Bank Mandiri untuk melanjutkan pengembangan bisnis dengan tetap memperhatikan prinsip kehati-hatian.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
- URL Berhasil di Salin Bank Mandiri Raup Laba Rp45,5 Triliun, Kredit Tumbuh 16% Klik untuk baca: https://www.medcom.id/ekonomi/bisnis/GNGG88dN-bank-mandiri-raup-laba-rp45-5-triliun-kredit-tumbuh-16
(ANN)





