Pantau - Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, melaporkan kepada Presiden Prabowo Subianto bahwa penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dari sektor energi serta mineral dan batu bara (minerba) mencapai Rp127,74 triliun sepanjang Januari–Oktober 2026.
Laporan tersebut disampaikan dalam Sidang Kabinet Paripurna (SKP) Dua Tahun Pertama Pemerintahan Kerja Nyata untuk Negeri di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (21/10/2026), sebagaimana keterangan yang diterima pada Jumat.
Realisasi PNBP sebesar Rp127,74 triliun tersebut telah mencapai sekitar 95,59 persen dari target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 yang ditetapkan sebesar Rp133,63 triliun.
Dengan capaian tersebut, pemerintah masih membutuhkan tambahan penerimaan sekitar Rp5,89 triliun untuk memenuhi target PNBP sektor energi dan minerba dalam APBN 2026.
Bahlil juga mengungkapkan bahwa pemerintah membidik penerimaan yang lebih tinggi, yakni mencapai Rp165 triliun, untuk memperkuat kapasitas fiskal negara dan mendukung pembiayaan berbagai kebutuhan pemerintah.
Bahlil Targetkan PNBP Rp165 Triliun untuk Bantu Pembiayaan Subsidi BBMBahlil menjelaskan bahwa peningkatan target penerimaan negara dari sektor energi dan minerba menjadi salah satu langkah pemerintah dalam memperkuat ruang fiskal.
Tambahan penerimaan tersebut diharapkan dapat membantu Kementerian Keuangan dalam memenuhi kebutuhan pembiayaan negara, termasuk subsidi bahan bakar minyak (BBM).
“Target kita nanti untuk membantu Menteri Keuangan dalam rangka menambal defisit terhadap subsidi BBM itu kita akan mencapai Rp165 triliun Pak Menteri Keuangan. Jadi, surplus sekitar Rp30 triliun, ini untuk PNBP,” ujar Bahlil.
Apabila target Rp165 triliun berhasil direalisasikan, penerimaan sektor energi dan minerba akan melampaui target APBN 2026 sebesar Rp31,37 triliun.
Selisih penerimaan tersebut berpotensi memberikan tambahan ruang fiskal bagi pemerintah untuk mendukung berbagai program dan kebutuhan belanja negara.
Capaian PNBP hingga Oktober 2026 juga menunjukkan bahwa realisasi penerimaan sektor energi dan minerba telah mendekati target tahunan yang ditetapkan pemerintah.
Volume Ekspor Batu Bara Turun, Nilainya Justru Naik Jadi 23,71 Miliar Dolar ASSelain melaporkan perkembangan penerimaan negara, Bahlil turut memaparkan kinerja perdagangan komoditas energi nasional, khususnya ekspor batu bara.
Berdasarkan data yang disampaikan, volume ekspor batu bara Indonesia sepanjang Januari–September 2026 mencapai sekitar 343 juta ton.
Jumlah tersebut mengalami penurunan dibandingkan periode yang sama pada 2025 yang tercatat sekitar 374 juta ton.
Dengan demikian, volume ekspor batu bara turun sekitar 31 juta ton atau 8,29 persen dibandingkan Januari–September tahun sebelumnya.
Meski jumlah batu bara yang diekspor mengalami penurunan, nilai ekspornya justru meningkat menjadi sekitar 23,71 miliar dolar AS.
Pada periode Januari–September 2025, nilai ekspor batu bara Indonesia tercatat sekitar 21 miliar dolar AS.
Artinya, nilai ekspor batu bara meningkat sekitar 2,71 miliar dolar AS atau 12,90 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
“Jadi, barang produksi turun pendapatan naik,” kata Bahlil saat menjelaskan perkembangan kinerja ekspor batu bara nasional.
Peningkatan nilai ekspor di tengah penurunan volume tersebut menjadi salah satu perkembangan yang disoroti Bahlil dalam laporan kinerja sektor energi kepada Presiden Prabowo.
Ekspor Nikel Indonesia Meningkat 15,69 PersenTidak hanya batu bara, Bahlil juga melaporkan peningkatan nilai ekspor nikel Indonesia sepanjang Januari–Agustus 2026.
Berdasarkan data yang dipaparkan, nilai ekspor nikel Indonesia mencapai sekitar 24,55 miliar dolar AS hingga Agustus 2026.
Angka tersebut meningkat dibandingkan periode Januari–Agustus 2025 yang mencatatkan nilai ekspor sebesar 21,22 miliar dolar AS.
Dengan demikian, nilai ekspor nikel mengalami kenaikan sekitar 3,33 miliar dolar AS atau 15,69 persen secara tahunan.
Peningkatan tersebut menunjukkan bertambahnya nilai perdagangan komoditas nikel Indonesia di pasar internasional.
Kinerja ekspor nikel menjadi salah satu indikator kontribusi sektor mineral terhadap perdagangan nasional, terutama dari aktivitas pertambangan dan produk berbasis nikel.
Bahlil Pastikan Cadangan Pertalite Aman hingga 18 HariDalam Sidang Kabinet Paripurna tersebut, Bahlil juga menyampaikan perkembangan kondisi cadangan bahan bakar minyak nasional kepada Presiden Prabowo.
Ia memastikan bahwa ketersediaan BBM nasional masih berada dalam kondisi aman, termasuk bahan bakar yang digunakan masyarakat dan mendapatkan subsidi pemerintah.
Secara khusus, Bahlil menyebut cadangan BBM jenis Pertalite dengan angka oktan riset atau Research Octane Number (RON) 90 berada pada kisaran 16 hingga 18 hari.
“Untuk cadangan BBM kita sekarang untuk pertalite Bapak Presiden di angka 16 sampai 18 hari. Ini yang subsidi. RON 90. Kalau yang lainnya semua di atas standar minimum nasional,” ujar Bahlil.
Menurutnya, cadangan jenis BBM lainnya juga masih berada di atas standar minimum nasional.
Kondisi tersebut menjadi dasar pemerintah dalam menilai bahwa ketersediaan bahan bakar nasional masih terjaga untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Laporan Bahlil kepada Presiden Prabowo mencakup tiga perkembangan utama, yakni realisasi PNBP sektor energi dan minerba, peningkatan nilai ekspor komoditas batu bara dan nikel, serta kondisi cadangan BBM nasional.
Hingga Oktober 2026, penerimaan negara dari sektor energi dan minerba telah mencapai Rp127,74 triliun dengan target tambahan hingga Rp165 triliun.
Sementara itu, nilai ekspor batu bara mencapai 23,71 miliar dolar AS sepanjang Januari–September 2026 dan ekspor nikel sebesar 24,55 miliar dolar AS pada Januari–Agustus 2026.
Pemerintah juga memastikan cadangan Pertalite berada pada kisaran 16–18 hari, sedangkan cadangan BBM jenis lainnya dilaporkan masih melampaui standar minimum nasional.




