Jakarta, VIVA – Pengelolaan sampah organik tidak hanya berfokus pada pengumpulan dan pembuangan, tapi juga mencakup upaya mengolah dan memanfaatkan kembali material yang masih bernilai.
Untuk itu, diperlukan solusi pengolahan yang dapat mengurangi massa sampah, sekaligus membuka peluang pemanfaatan hasil olahan sampah demi memperoleh manfaat keekonomian darinya.
Karenanya, pengembangan teknologi pengolahan sampah langsung di sumbernya bisa menjadi salah satu alternatif, untuk mendukung upaya tersebut dan mendorong penerapan ekonomi sirkular di Indonesia.
Melalui teknologi biochemical chamber, hal ini merupakan salah satu alternatif pengolahan sampah organik mulai dari skala usaha hingga industri. Besarnya tantangan pengelolaan sampah di Indonesia pun dinilai telah memperkuat urgensi pendekatan tersebut.
Dalam seminar "Advanced Composting Technology 2026: Transforming Organic Waste into Valuable Resources", data menunjukkan bahwa Pulau Jawa menyumbang sekitar 58,7 persen dari total timbunan sampah nasional.
Di tengah tantangan ini, pengolahan sampah organik di lokasi sumbernya seperti hotel, restoran, industri makanan dan minuman, serta kawasan komersial, menjadi salah satu alternatif untuk mengurangi beban penanganan sampah konvensional.
“Pertanyaannya adalah, seberapa banyak sampah yang sebenarnya bisa kita selesaikan sebelum mencapai tempat pembuangan akhir? Karena semakin besar sampah atau limbah organik yang diolah lebih awal, maka semakin kecil ketergantungan kita terhadap tempat pembuangan akhir,” kata Direktur PT Wannan Inti Teknologi, Jeremy Wijaya dalam keterangannya, Jumat (23/10/2026).
Sampah organik memiliki karakteristik yang membutuhkan penanganan khusus. Antara lain kadar air yang tinggi, dan potensi menimbulkan bau selama proses penguraian. Namun dengan pengelolaan yang tepat, material tersebut juga berpotensi diolah menjadi sumber daya yang dapat dimanfaatkan kembali.
Untuk menjawab kebutuhan itu, PT Wannan Inti Teknologi pun memperkenalkan sistem pengolahan sampah terintegrasi, yang mencakup pemilahan serta pengolahan fraksi padat menggunakan mesin biochemical chamber.
Jeremy menjelaskan, teknologi ini tersedia dalam variasi kapasitas input mulai dari 30 kilogram (kg) hingga 120 ton per hari, bergantung pada model dan spesifikasi unit. Menurutnya, teknologi tersebut memang dirancang untuk memproses sampah organik dalam siklus 1x24 jam.





