Jakarta: Indonesia dan Jerman sepakat membentuk kelompok kerja bersama untuk menjajaki proyek penelitian dan program pendanaan bersama guna memperkuat kolaborasi riset kedua negara.
Presiden German Academic Exchange Service (DAAD) Joybrato Mukherjee mengatakan kelompok kerja tersebut akan melibatkan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) serta DAAD, dengan Kedutaan Besar Jerman turut berpartisipasi dalam pertemuan selanjutnya.
“Kami telah mengambil keputusan untuk membentuk kelompok kerja bersama antara kementerian dan DAAD, dengan kedutaan turut berpartisipasi dalam pertemuan-pertemuan berikutnya,” ujar Mukherjee dalam konferensi pers mengenai kerja sama pendidikan dan riset Jerman-Indonesia di Jakarta, Jumat, 23 Oktober 2026.
Ia menjelaskan kelompok kerja tersebut akan merumuskan proyek dan kegiatan penelitian, sekaligus mengidentifikasi bidang-bidang yang berpotensi dikembangkan melalui kolaborasi akademik Indonesia dan Jerman.
“Kami juga akan memikirkan program pendanaan bersama, dengan anggaran yang berasal dari kedua pihak, Indonesia dan Jerman,” kata Mukherjee.
Dalam pembahasan awal, kedua pihak menyoroti sejumlah isu yang memiliki kepentingan strategis bagi Indonesia maupun Jerman, termasuk ketahanan pangan, perubahan iklim, pertanian, dan perikanan.
Namun, Mukherjee menegaskan penentuan bidang prioritas belum diputuskan karena hal tersebut akan menjadi tugas kelompok kerja yang dibentuk kedua pihak.
“Beberapa topik yang mungkin relevan bagi kedua pihak telah kami diskusikan, tetapi kelompok kerja yang akan menentukan prioritasnya,” ujarnya.
Adapun penjajakan pendanaan tersebut sebelumnya dibahas dalam pertemuan Mendiktisaintek RI Brian Yuliarto dengan Duta Besar Jerman untuk Indonesia Ralf Beste dan Mukherjee di Jakarta pada Rabu, 21 Oktober 2026.
“Kami berpikir untuk bisa mengembangkan joint research, dengan Indonesia menyediakan pendanaan dari pihaknya dan Jerman juga dapat memberikan pendanaan,” kata Brian dalam keterangan Kemdiktisaintek terkait pertemuan tersebut.
Dalam pertemuan itu, kedua pihak juga membahas peluang mobilitas mahasiswa dan profesor serta pengembangan kapasitas perguruan tinggi untuk memperkuat kerja sama pendidikan tinggi dan penelitian.
Mukherjee sebelumnya mencontohkan riset keanekaragaman hayati dan pengembangan kawasan perkotaan sebagai bidang yang membutuhkan pengetahuan serta keahlian dari Indonesia dan Jerman.
Melalui pembentukan kelompok kerja, kedua pihak akan melanjutkan pembahasan untuk memetakan peluang kolaborasi, menentukan prioritas riset, dan menjajaki mekanisme pendanaan yang dapat mendukung pelaksanaan penelitian bersama.




