BMKG Jelaskan Fungsi Dry Ice Dalam Penanganan Asap Kebakaran Hutan

liputan6.com
57 menit lalu
Cover Berita

Liputan6.com, Jakarta - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menggunakan dry ice dalam operasi modifikasi cuaca untuk membantu mengurangi dampak asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama di Sumatra Selatan dan Kalimantan Tengah. Metode ini ditujukan untuk mengganggu lapisan inversi atmosfer yang dapat memerangkap asap di dekat permukaan, bukan untuk langsung memicu hujan.

Direktur Operasional Modifikasi Cuaca BMKG Budi Harsoyo menjelaskan, penerbangan yang membawa dry ice dilakukan pada pagi hari untuk membantu membuka lapisan inversi. Dengan begitu, asap di dekat permukaan diharapkan dapat bergerak naik dan tidak terus terperangkap di lapisan bawah atmosfer.

Advertisement

BACA JUGA: Ragam Hoaks BMKG di Facebook, dari Prediksi Gempa hingga Peringatan Potensi Tsunami

“Tujuannya tadi, gerobek layar inversi, mengganggu layar inversi,” kata Budi dalam pemaparan pembaruan penanganan karhutla.

Lapisan inversi merupakan kondisi atmosfer ketika suhu udara meningkat seiring bertambahnya ketinggian pada lapisan tertentu. Kondisi ini menghambat pergerakan udara ke atas sehingga asap dan polutan dapat terperangkap di dekat permukaan.

Budi menjelaskan, ketika lapisan inversi terbuka, asap dari kebakaran di bawahnya berpeluang naik ke lapisan atmosfer yang lebih tinggi. Perubahan kondisi tersebut juga memungkinkan radiasi matahari mencapai permukaan dan berperan dalam proses penguapan serta pertumbuhan awan hujan.

“Harapannya dengan suhunya normal kembali tersebut, lapisan inversi itu menjadi terbuka, sehingga kalaupun tidak turun hujan, asap yang terbakar dari bawah itu tidak tertahan oleh si lapisan inversi tersebut. Sehingga bisa terus naik ke atas, kepekatan di bawah berkurang,” ujarnya.

Budi membedakan penggunaan dry ice dengan penyemaian awan menggunakan natrium klorida (NaCl). Dry ice digunakan pada pagi hari untuk membantu mengganggu lapisan inversi, sedangkan penyemaian awan dilakukan ketika awan konvektif, seperti awan kumulus, mulai terbentuk.

“Kalau kemudian sudah terbentuk profil awan konvektif ya, sudah mulai tumbuh awan-awan kumulus, baru kemudian penyemaian awannya dilakukan dengan menggunakan bahan semai NaCl seperti biasanya, yang tujuannya adalah untuk menambah inti kondensasi sehingga mempercepat terjadinya hujan,” jelas Budi.

Dengan demikian, kedua metode tersebut memiliki tujuan berbeda dalam operasi modifikasi cuaca. Penggunaan dry ice diarahkan untuk membantu mengubah kondisi atmosfer yang menahan asap, sedangkan penyemaian menggunakan NaCl bertujuan mempercepat pembentukan hujan.

 


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kinerja Bank Mandiri Menguat di Q3 2026, Kredit, DPK dan Laba Naik
• 22 menit lalukatadata.co.id
thumb
KPK-PN menilai respons ASDP tangani insiden KMP Batumandi sudah tepat
• 17 jam laluantaranews.com
thumb
Kalah dari PSM dan Dua Kali Gagal Penalti, Tavares Sebut Persebaya Kurang Beruntung
• 12 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Indeks Literasi Keuangan di Jakarta Capai 84,01%
• 6 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Resmi Dibuka! Ini Daftar Harga dan Cara Pre-Order iPhone Duo di Indonesia
• 6 jam lalumedcom.id
Berhasil disimpan.