Pengolahan sampah organik langsung dari sumbernya menjadi salah satu alternatif untuk mengurangi beban tempat pemrosesan akhir (TPA) sekaligus mendukung ekonomi sirkular. PT Wannan Inti Teknologi memperkenalkan teknologi biochemical chamber yang diklaim mampu mengurangi massa sampah organik hingga 80% dalam waktu 1 x 24 jam.
Teknologi tersebut dipaparkan Direktur PT Wannan Inti Teknologi Jeremy Wijaya dalam seminar Advanced Composting Technology 2026: Transforming Organic Waste into Valuable Resources pada rangkaian ALLPACK INDONESIA EXPO 2026 di JIEXPO Kemayoran, Jakarta, Rabu (21/10). Seminar ini diselenggarakan bersama PT Indonesia Environment Consultant.
Jeremy mengatakan, pengolahan sampah organik di lokasi sumbernya, seperti hotel, restoran, industri makanan dan minuman, serta kawasan komersial, dapat menjadi alternatif untuk mengurangi volume material yang harus ditangani melalui sistem pengelolaan sampah konvensional.
Data yang dipaparkan dalam seminar menunjukkan Pulau Jawa menyumbang sekitar 58,7% dari total timbunan sampah nasional. Kondisi tersebut memperkuat kebutuhan akan sistem pengolahan yang dapat diterapkan langsung di lokasi penghasil sampah.
“Pertanyaannya adalah, seberapa banyak sampah yang sebenarnya bisa kita selesaikan sebelum mencapai tempat pembuangan akhir? Karena semakin besar sampah atau limbah organik yang diolah lebih awal, semakin kecil ketergantungan kita terhadap tempat pembuangan akhir,” ujar Jeremy.
Menurut dia, sampah organik memerlukan penanganan khusus karena memiliki kadar air tinggi dan berpotensi menimbulkan bau selama proses penguraian. Namun, melalui pengolahan yang tepat, limbah tersebut berpotensi diubah menjadi material yang dapat dimanfaatkan kembali.
PT Wannan Inti Teknologi menawarkan sistem pengolahan terintegrasi yang mencakup pemilahan dan pengolahan fraksi padat menggunakan mesin biochemical chamber. Perangkat tersebut tersedia dalam variasi kapasitas input mulai dari 30 kilogram hingga 120 ton per hari, bergantung pada model dan spesifikasi unit.
Jeremy menjelaskan, teknologi tersebut dirancang untuk memproses sampah organik dalam siklus 1 x 24 jam. Dalam contoh yang dipaparkan, sebanyak 120 ton material yang diolah menghasilkan sekitar 24 ton material olahan. Dengan demikian, massa material berkurang sekitar 80% selama proses pengolahan.
“Dengan mesin biochemical chamber, dalam 1 x 24 jam reduksi massanya mencapai 80 persen. Hasil dari reduksi massa itu bisa digunakan untuk media tanam, membantu menstabilkan pH tanah, meningkatkan unsur hara, serta mendukung reklamasi lahan,” kata Jeremy.
Meski demikian, pengurangan massa material tidak serta-merta menunjukkan seluruh sampah telah hilang atau seluruh hasil olahan dapat langsung dimanfaatkan. Besarnya pengurangan sampah yang dikirim ke tempat pemrosesan akhir bergantung pada penerapan teknologi, sistem pengelolaan di lokasi, serta pemanfaatan hasil pengolahan.
Mendorong Ekonomi Sirkular
Pengolahan sampah dari sumbernya juga menjadi bagian dari upaya mendorong ekonomi sirkular, yakni mengoptimalkan pemanfaatan material agar limbah dapat kembali menjadi sumber daya bernilai.
Jeremy menilai, perubahan cara pandang terhadap sampah organik diperlukan agar material yang selama ini dianggap sebagai beban dapat dimanfaatkan secara lebih berkelanjutan.
“Pemanfaatan kembali sumber daya ini mendukung ekonomi sirkular di tengah masyarakat. Ketika organic waste tersebut bisa diolah dengan baik, kita bisa membayangkan masa depan ketika sampah atau beban limbah organik bisa menjadi sumber daya yang berkelanjutan,” ujarnya.
Sementara itu, CEO PT Indonesia Environment Consultant E. Kurniawan Padma mengatakan, kolaborasi dengan PT Wannan Inti Teknologi diarahkan untuk mendukung penerapan ekonomi sirkular melalui produksi dan konsumsi yang bertanggung jawab, pengolahan sampah, daur ulang, serta pemulihan material.
“Kita ingin produksi berkelanjutan melalui konsumsi yang bertanggung jawab, penggolongan, pengolahan dan juga daur ulang serta pemulihan material,” kata Kurniawan.
Kolaborasi kedua perusahaan diharapkan dapat memperluas pilihan teknologi pengelolaan limbah bagi pelaku usaha. Penerapannya perlu mempertimbangkan karakteristik sampah, kesesuaian teknologi, serta keamanan dan potensi pemanfaatan hasil olahan agar pengelolaan sampah berjalan efektif dan berkelanjutan.





