Menteri Dalam Negeri Australia Anthony Stephen Burke menyebut program deradikalisasi yang dijalankan Indonesia sebagai salah satu yang terbaik di dunia. Di sisi lain, ia menyoroti pola radikalisasi baru yang menyasar kalangan muda dan menyebar melalui internet, termasuk ruang obrolan yang terhubung dengan platform gim.
Hal itu disampaikan Burke dalam konferensi pers pertemuan ke-7 Sub-Regional Meeting on Counter-Terrorism and Transnational Security (SRM) di Jakarta, Jumat (23/10).
"Ketika berbicara dengan Pemerintah Indonesia, saya datang untuk belajar. Saya harus mengatakan bahwa ada banyak program deradikalisasi yang dijalankan di Indonesia yang benar-benar menjadi rujukan dunia,” kata Burke.
Burke juga mengatakan, Australia memandang Indonesia sebagai mitra tepercaya yang telah menjalankan program deradikalisasi secara efektif. Menurut dia, pengalaman Indonesia menjadi salah satu hal yang dipelajari Australia dalam menghadapi tantangan terorisme.
Ia menjelaskan, negara-negara saat ini menghadapi tantangan dalam menangani orang-orang yang telah menjalani hukuman penjara dan kembali ke masyarakat, serta mereka yang pernah bergabung dengan kelompok ekstrem di luar negeri dan ingin kembali ke negara asalnya.
"Apakah metode yang digunakan akan sama dengan pendekatan yang selama ini kita terapkan untuk menangani bentuk-bentuk radikalisasi lainnya, saya belum bisa memastikannya. Namun, saya yakin Indonesia memiliki banyak pengalaman berharga dalam pelaksanaan program deradikalisasi yang layak dibagikan kepada dunia," tegasnya.
Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) Dudung Abdurachman menjelaskan bahwa Indonesia menjalankan program deradikalisasi melalui Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT).
Program tersebut, kata Dudung, dilakukan dengan memberikan pemahaman dan penyuluhan kepada orang-orang yang terpapar paham terorisme, termasuk mereka yang telah menjalani hukuman penjara.
"Nah ini memberikan pemahaman-pemahaman penyuluhan, pengertian kepada mereka ini dilakukan, dan negara-negara yang tadi melaksanakan meeting ini ingin mencontoh apa yang sudah kita lakukan," ujar Dudung.
Di tengah apresiasi terhadap program deradikalisasi Indonesia, Burke juga mengingatkan adanya perubahan pola radikalisasi yang berkembang di kawasan.
Menurut dia, kelompok terorisme konvensional seperti Daesh atau ISIS masih menjadi ancaman. Namun, muncul pula kelompok dengan karakteristik berbeda, yakni berusia lebih muda, mengalami radikalisasi secara cepat melalui internet, dan memiliki campuran ideologi kekerasan.
"Sebagian dari ideologi campuran ini bahkan tidak masuk akal secara logis. Seseorang bisa saja menganut ideologi yang baru saja saya sebutkan, sekaligus tertarik pada supremasi kulit putih," jelas Dudung.
"Jika dilihat secara terpisah, kedua hal tersebut sebenarnya tidak masuk akal untuk dipadukan. Keduanya semakin tidak masuk akal ketika berada dalam pikiran yang sama, sementara satu-satunya kesamaan di antara keduanya adalah kekerasan," tambahnya.
Ia mengatakan, kelompok yang menjadi perhatian tersebut sebagian besar, meski tidak seluruhnya, merupakan laki-laki muda yang beraktivitas di platform gim.
Namun, Burke menegaskan bahwa platform gim itu sendiri bukanlah masalah. Ia menyoroti ruang obrolan yang terhubung dengan platform tersebut sebagai salah satu tempat terjadinya radikalisasi.
"Radikalisasi justru terjadi di ruang-ruang obrolan (chat room) yang tersedia di sekitar platform tersebut," jelasnya.
Burke juga menyoroti perpaduan ideologi yang tidak konsisten secara logis, tetapi sama-sama mengarah pada kekerasan. Ia mencontohkan ketertarikan terhadap supremasi kulit putih yang dapat bercampur dengan ideologi kekerasan lainnya.
Selain itu, ia menyebut perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) berpotensi memperbesar berbagai ancaman keamanan yang dihadapi negara-negara.
Burke mengatakan, tantangan radikalisasi yang melibatkan kelompok usia sangat muda membuat negara-negara perlu terus mengembangkan program deradikalisasi.
Ia mengungkapkan, dalam kasus-kasus yang ditangani dan dipantau Australia, terdapat individu yang berusia 10 tahun.
Menurut dia, pemenjaraan tidak bisa menjadi langkah pertama untuk menangani anak-anak pada usia tersebut. Pendekatan yang diperlukan adalah menjauhkan mereka dari jalur radikalisasi dan mengarahkan mereka kembali ke jalur yang konstruktif.
"Kita harus mampu menjauhkan anak-anak muda dari jalur radikalisasi dan mengarahkan mereka kembali ke jalur yang konstruktif," tegas Burke.





