Jakarta, VIVA – Pengobatan penyakit serius pada anak tidak hanya menjadi tantangan bagi pasien, tetapi juga bagi orang tua yang harus mendampingi selama proses perawatan. Ketika anak dirujuk ke rumah sakit di luar kota, keluarga perlu memikirkan biaya transportasi, tempat tinggal, hingga kebutuhan sehari-hari di tengah kekhawatiran terhadap kondisi buah hati.
Situasi ini dapat menjadi semakin berat ketika pengobatan berlangsung lama dan orang tua harus meninggalkan pekerjaan untuk mendampingi anak. Di sisi lain, dukungan keluarga dan lingkungan yang nyaman tetap dibutuhkan agar anak merasa aman selama menjalani perawatan.
Salah satu gambaran tantangan tersebut dialami Angeline, anak berusia 10 tahun asal Rembang, Jawa Tengah, yang didiagnosis mengalami sindrom Guillain-Barré (Guillain-Barré Syndrome/GBS) pada Februari 2026. Kondisinya sempat kritis hingga harus dirawat di ruang intensif dan menggunakan ventilator.
Angeline kemudian dirujuk ke RSAB Harapan Kita, Jakarta. Jarak yang jauh dari kampung halaman membuat keluarganya harus beradaptasi dengan situasi baru sekaligus menghadapi kebutuhan selama mendampingi proses pengobatan.
Ayah Angeline, yang saat itu bekerja sebagai nelayan di Afrika, bahkan menempuh perjalanan laut selama 14 hari untuk pulang ke Indonesia. Baginya, kehadiran di tengah keluarga menjadi hal yang tidak bisa digantikan oleh bantuan finansial semata.
"Anak dan istri saya lebih membutuhkan kehadiran saya, bukan hanya uang," ujar sang ayah, mengutip keterangannya, Sabtu (24/10/2026).
Di tengah proses perawatan tersebut, keluarga Angeline mendapatkan tempat tinggal sementara melalui rumah singgah. Fasilitas ini membantu mereka tetap dekat dengan Angeline tanpa harus mengeluarkan biaya penginapan.
“Di luar ekspektasi kami, semua stafnya sangat peduli, sampai petugas kebersihan juga sudah seperti keluarga sendiri. Tidak ada uang pun tidak apa-apa, yang penting anak bisa sehat. Kebersamaan keluarga sangatlah berharga,” tutur Ayu, ibunda Angeline.
Angeline juga merasakan perbedaan ketika berada di tempat singgah tersebut, terutama karena tidak harus menghadapi masa pengobatan dalam suasana terasing.
“Kalau di kampung merasa sendiri, tapi di rumah singgah merasa banyak yang menemani dan tenang. Rasanya lebih aman dan terjaga," ucapnya.





