Jakarta, CNBC Indonesia - Fenomena El Nino bakal terus menguat dan akan berdampak secara global, termasuk di Indonesia. Puncak fenomena akan terjadi dua bulan lagi atau Desember 2026 mendatang.
"Lampu bahaya semua menyala. Peristiwa El Niño ekstrem ini akan berdampak luas secara global," ujar Daniel Swain, ilmuwan iklim dari Universitas California, Los Angeles.
"Kita belum pernah melihat peristiwa sebesar ini sebelumnya, apalagi di tengah iklim dunia yang terus memanas," dia menambahkan.
Fenomena ini juga menandakan kenaikan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik dalam titik tertingginya. Kini suhu harian Pasifik tropis berada sekitar 3,3 derajat Celcius di atas tingkat normal.
- Penemu Bahtera Nabi Nuh Buka-bukaan, Pernah Diancam Dibunuh
- Telkom Hadirkan Pembelajaran Numerasi untuk 100 Sekolah Wilayah 3T
- Indonesia Berada di Zona Anomali, Awas Efek Air Mancur ke Sinyal GPS
Menurut Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional AS (NOAA), El Nino tahun ini bakal jadi yang terkuat sejak 1950. Termasuk banyak ilmuwan yang meyakini dampak El Nino bisa lebih tinggi dari sebelumnya.
Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) juga mengingatkan El Nino tahun ini akan mencapai puncaknya Desember 2026. Suhu rata-rata permukaan laut saat itu diperkirakan mencapai 4,8 derajat Celcius di atas tingkat normal dan menjadi yang tertinggi selama ini.
Dampak El Nino sendiri akan terasa secara global, termasuk di Indonesia. Unicef juga memperkirakan lebih dari 347 juta anak bakal terdampak iklim ekstrem karena El Nino, seperti kekeringan, banjir, dan cuaca panas yang mematikan.
"Kita harus bertindak sekarang untuk melindungi masyarakat dan anak-anak," tegas Direktur Pelaksana UNICEF Catherine Russell.
Laboratorium Dampak Iklim Universistas Chicago mengeluarkan hasil analisanya sendiri. Setidaknya menurut temuan para peneliti, 451 ribu kematian tambahan mungkin terjadi karena panas ekstrem akibat El Nino.
Untuk Indonesia sendiri, biasanya El Nino akan membawa curah hujan di bawah rata-rata dan akan memperpanjang musim kemarau. Ini akan membuat kekeringan yang mengganggu banyak hal, dari pertanian, persediaan air bersih, dan meningkatkan risiko kebakaran hutan serta lahan.
Namun di sisi lain terdapat sejumlah wilayah yang akan mengalami hujan ekstrem secara tiba-tiba.
(dem/dem) [Gambas:Video CNBC]




