Bandung: Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana mendorong penguatan perlindungan indikasi geografis untuk meningkatkan daya saing batik Indonesia di pasar internasional. Langkah ini dinilai penting untuk mempertahankan karakteristik produk berdasarkan daerah asal sekaligus meningkatkan nilai ekonominya sebagai warisan budaya nasional.
Widiyanti menyampaikan batik memiliki nilai budaya sekaligus potensi ekonomi yang besar. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor industri batik Indonesia pada 2025 mencapai USD30,62 juta.
"Angka ini menunjukkan bahwa karya batik Indonesia telah menjangkau pasar global," kata Widiyanti dalam sambutannya pada Jambore Batik Jawa Barat di Hotel Golden Flower, Bandung, Sabtu, 24 Oktober 2026.
Menurut Widiyanti, potensi ekonomi batik perlu didukung perlindungan indikasi geografis. Perlindungan tersebut berperan menjaga kekhasan dan reputasi produk yang berkaitan dengan daerah asalnya, sekaligus mempertahankan identitas batik di tengah persaingan pasar yang semakin luas.
Baca Juga :
Menpar Dorong Batik Jadi Daya Tarik Wisata Budaya dan Penggerak Ekonomi
"Di Jawa Barat, sejumlah produk batik telah memperoleh perlindungan indikasi geografis, di antaranya Batik Tulis Complongan Indramayu, Batik Tulis Merawit Cirebon, dan Batik Waleran Cirebon. Ini tentu dapat memperkuat posisi batik lokal sekaligus meningkatkan pengenalan terhadap daerah asalnya," beber Widiyanti.
Ia menilai, pengembangan batik secara berkelanjutan membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari perajin, generasi muda, pelaku industri kreatif, hingga pemerintah. Sinergi tersebut diperlukan untuk memperkuat ekosistem batik dan memperluas manfaat ekonominya bagi masyarakat.
Ketua Umum Yayasan Batik Jawa Barat (YBJB) Sendy Dede Yusuf saat Jambore Batik Jawa Barat 2026. Dokumentasi/ Instagram Sendy Yusuf.
Kementerian Pariwisata, lanjut Widiyanti, turut mendorong pengembangan produk budaya sebagai bagian dari transformasi menuju pariwisata berkualitas. Melalui pendekatan tersebut, batik tidak hanya diposisikan sebagai produk kerajinan, tetapi juga diperkenalkan sebagai representasi identitas dan kekayaan budaya daerah.
"Jambore Batik Jawa Barat dapat terus menjadi ruang kolaborasi bagi para perajin, generasi muda, pelaku industri kreatif, dan seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat ekosistem batik di Jawa Barat," tandas Widiyanti.
Widiyanti berharap batik tetap terjaga sebagai warisan budaya sekaligus berkembang menjadi kekuatan ekonomi yang mampu memperkenalkan identitas daerah di Indonesia kepada masyarakat dunia.




