Hari Ini 138 Tahun Lalu Fosil Homo Wajakensis Ditemukan di Tulungagung

beritajatim.com
2 jam lalu
Cover Berita

Tulungagung (beritajatim.com) – Kabupaten Tulungagung kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu episentrum penting dalam peta sejarah purbakala dunia. Perjalanan panjang penemuan fosil Homo wajakensis tidak hanya mencerminkan babak penting evolusi manusia modern awal di Indonesia, tetapi juga obsesi global para ilmuwan masa kolonial.

Hari ini, 138 tahun lalu seorang ahli geologi Belanda, B.D. van Rietschoten, secara tidak sengaja menemukan subfosil tengkorak manusia di wilayah pertambangan marmer di sebuah bukit masuk Desa Gamping, Kecamatan Campurdarat, Tulungagung. Kabar tersebut sampai ke telinga Eugene Dubois, seorang dokter militer kolonial Belanda yang sangat terobsesi dengan dunia arkeologi dan paleontologi.

Dalam pandangan awal Dubois, karakteristik Homo wajakensis kala itu lebih mendekati tipe Papua ketimbang tipe Melayu, menjadikannya temuan Homo Sapiens tertua di Indonesia. Temuan ini terus menjadi kunci perdebatan ilmiah global yang menghubungkan hominid purba dengan manusia modern dan kebudayaannya di masa lampau.

Direktur Kajian Sejarah Sosial dan Budaya (KS2B) Tulungagung, Trijono, mengatakan bahwa penemuan Homo Wajakensis 138 tahun lalu merupakan tonggak sejarah peradaban yang harus terus dirawat oleh masyarakat lokal.

“Temuan Homo Wajakensis di Tulungagung bukan sekadar artefak ilmu pengetahuan, melainkan bukti otentik bahwa tanah kita adalah bagian penting dari rantai peradaban umat manusia di bumi. Warisan ini meletakkan Indonesia, khususnya Tulungagung, dalam peta sejarah paleoantropologi global yang patut kita banggakan,” ujarnya, Sabtu (24/10/2026).

Dalam penelitian lanjutan terhadap koleksi Wajak serta pertanggalan ulang pada 2013 yang memperkirakan usia temuan mencapai minimal 28.500 hingga 37.400 tahun yang lalu. Temuan ini menjadikan Homo Wajakensis sebagai subjek penting dalam perdebatan ilmiah internasional mengenai migrasi dan evolusi manusia modern di Asia Tenggara.

Trijono berharap lokasi temuan fosil tersebut dapat memperkuat kesadaran sejarah masyarakat, sekaligus mendorong pelindungan cagar budaya secara berkelanjutan.

“Kita memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga situs-situs bersejarah ini dari ancaman kerusakan. Edukasi kepada generasi muda harus terus digalakkan agar nilai-nilai sejarah lokal ini tidak hilang ditelan zaman,” pungkasnya. [nm/kun]


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Registrasi Biometrik, Langkah Komdigi Persempit Celah Penipuan Siber
• 5 jam lalukatadata.co.id
thumb
Presiden Iran Akan Bertemu Putin di Moskow Pekan Depan
• 1 jam lalukumparan.com
thumb
Mengapa Gunakan Dry Ice Atasi Asap Karhutla di Sumatera-Kalimantan?
• 8 jam lalukompas.tv
thumb
WCCE 2026 Capai Kesepakatan Pengembangan Ekraf Tingkat Global
• 7 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Rudianto Lallo Sebut Sulsel Darurat Narkoba, Minta Polisi-BNN Berantas Bandar
• 15 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.