Jakarta: Keterampilan teknis bukan satu-satunya modal pekerja konstruksi untuk mempertahankan pelanggan dan mendapatkan pekerjaan berkelanjutan. Kemampuan berkomunikasi, memahami kebutuhan klien, serta menyampaikan kendala secara jujur turut menentukan kepercayaan dan reputasi mereka di dunia kerja.
Tantangan tersebut menjadi perhatian Kisah Tukang, inisiatif yang berfokus pada pengembangan keterampilan dan profesionalisme pekerja konstruksi. Melalui pelatihan bertajuk "Membangun Kepercayaan melalui Komunikasi dan Komitmen Kerja Nyata", sebanyak 53 pekerja informal, mulai dari tukang bangunan hingga tukang cat, diajak memperkuat kemampuan komunikasi dalam pekerjaan sehari-hari.
Kegiatan yang digagas pendiri Kisah Tukang, Justin Hamdany, itu berlangsung di Hotel Posto Dormire Susilo, Jakarta Barat, Jumat, 23 Oktober 2026. Pelatihan membahas persoalan yang kerap muncul di lapangan, mulai dari perbedaan persepsi antara tukang dan pemilik proyek hingga perubahan desain, keterlambatan material, dan keluhan pelanggan.
Justin mengatakan, gagasan Kisah Tukang berawal dari percakapannya dengan sejumlah pekerja konstruksi. Ia melihat banyak tukang memiliki keterampilan yang diperoleh melalui pengalaman langsung, tetapi menghadapi ketidakpastian pekerjaan setelah proyek berakhir.
Pengalaman tersebut mendorongnya membangun inisiatif yang tidak hanya membantu pekerja mengembangkan keterampilan teknis, tetapi juga meningkatkan kemampuan berkomunikasi dan membangun hubungan profesional dengan klien.
"Kami ingin membantu rekan-rekan tukang mengembangkan keterampilan komunikasi, meningkatkan profesionalisme, dan membantu mereka menjalani hubungan yang baik dengan para klien," ujar Justin, dalam keterangan tertulis, Sabtu, 24 Oktober 2026.
Dalam pekerjaan konstruksi, perbedaan pemahaman antara pemilik proyek, mandor, dan tukang dapat menyebabkan hasil pekerjaan tidak sesuai harapan. Karena itu, komunikasi sejak awal penting untuk menyamakan persepsi mengenai desain, material, hasil pekerjaan, waktu pengerjaan, dan biaya.
Kisah Tukang latih pekerja konstruksi agar dipercaya klien. Foto: dok istimewa.
Baca Juga :
Regulasi Konstruksi Buka Peluang Lebih Luas bagi Kontraktor UMKMDirektur Operasional Forttaliving, Hizkia Turangan, menilai keterampilan teknis perlu disertai keberanian menyampaikan pendapat dan menjelaskan pekerjaan kepada pelanggan. Tukang yang mampu menunjukkan kualitas hasil kerja sekaligus menjaga komunikasi memiliki nilai tambah dalam membangun kepercayaan.
Menurut Hizkia, gambar atau sketsa dapat menjadi sarana untuk menyamakan pemahaman antara pemilik proyek dan pekerja. Kesepakatan mengenai desain sebelum pekerjaan dimulai dapat mengurangi risiko perbedaan persepsi selama proses pengerjaan.
Kemampuan membaca gambar kerja dan memahami karakteristik material juga perlu terus dikembangkan. Dengan bekal tersebut, tukang dapat menerjemahkan kebutuhan pemilik proyek menjadi pekerjaan sesuai spesifikasi sekaligus mengantisipasi kendala teknis di lapangan.
Penggunaan gambar tiga dimensi (3D) dan teknologi digital juga dapat membantu tukang menjelaskan gagasan kepada pelanggan, terutama ketika penjelasan lisan belum cukup menggambarkan hasil akhir yang diinginkan.
Selain komunikasi, kejujuran dalam menyampaikan kendala menjadi faktor penting untuk menjaga hubungan kerja. Keterlambatan pengiriman material, misalnya, perlu dijelaskan sesuai kondisi sebenarnya dan, jika memungkinkan, disertai bukti pendukung yang dapat diperiksa.
Construction Engineering Priyo Djatmiko menekankan kualitas pekerjaan tidak hanya ditentukan oleh keterampilan memasang material. Pekerja juga perlu memahami gambar kerja, karakteristik material, metode pemasangan, serta standar hasil yang harus dipenuhi.
Dokumentasi sederhana melalui foto, catatan pemesanan, dan kesepakatan pekerjaan dapat membantu menjelaskan persoalan yang muncul selama pengerjaan. Catatan tersebut juga penting ketika pemilik proyek meminta perubahan desain atau penambahan pekerjaan yang berdampak pada biaya dan waktu penyelesaian.
Ketika menghadapi keluhan pelanggan, pekerja perlu mendengarkan terlebih dahulu, menjaga ketenangan, kemudian menjelaskan persoalan berdasarkan fakta dan kesepakatan awal. Jika terdapat perubahan permintaan, konsekuensinya terhadap hasil akhir, biaya, dan jadwal perlu disampaikan secara terbuka.
Pendekatan tersebut membantu mencegah kesalahpahaman sekaligus memberikan dasar yang jelas bagi kedua pihak dalam mengambil keputusan.
Kisah Tukang memandang pengembangan kompetensi pekerja konstruksi perlu mencakup keterampilan teknis dan kemampuan membangun hubungan profesional. Keduanya saling melengkapi agar pekerja dapat menjelaskan keahlian, memahami kebutuhan pelanggan, serta menjaga kualitas dan komitmen pekerjaan.
Berdasarkan data yang dicantumkan penyelenggara, sektor konstruksi menyerap lebih dari 8,7 juta tenaga kerja di Indonesia. Sementara itu, jumlah tenaga kerja konstruksi bersertifikat yang dikutip dalam bahan kegiatan mencapai 629.622 orang. Data tersebut perlu diverifikasi kembali, termasuk periode dan sumber rujukannya, sebelum dipublikasikan.
Melalui pelatihan berbasis diskusi dan studi kasus, peserta diajak merumuskan cara menghadapi persoalan komunikasi yang mereka temui di lapangan. Keterampilan tersebut diharapkan dapat diterapkan untuk meningkatkan kepercayaan pelanggan, memperkuat reputasi profesional, dan membuka peluang kerja berkelanjutan.
Pada akhirnya, profesionalisme tukang tidak hanya terlihat dari bangunan atau hasil pekerjaan yang diselesaikan, tetapi juga dari kemampuan menjaga kesepakatan, menjelaskan persoalan secara terbuka, dan memberikan hasil sesuai kebutuhan pelanggan.




