Iran Ancam Serang Negara Teluk, Adu Kekuatan Militernya Bikin Kaget!

cnbcindonesia.com
2 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, CNBC Indonesia - Ketegangan di Timur Tengah kembali memanas. Iran mengancam akan menyerang sejumlah fasilitas penting di negara-negara Teluk jika Amerika Serikat (AS) dan Israel kembali melancarkan serangan terhadap wilayahnya.

Ancaman Iran kali ini tidak hanya menyasar fasilitas minyak dan energi, tetapi juga pusat data, jaringan kabel bawah laut, hingga fasilitas kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).

Baca: Negara Paling Banyak Utang ke China, Ada Indonesia?

Mengutip The Guardian, Kamis (22/10/2026), Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, memperingatkan bahwa serangan balasan Iran dapat menjangkau hingga tujuh negara di kawasan Teluk jika perang kembali pecah.

Peringatan serupa disampaikan Mehdi Mohammadi, penasihat Mohammad Ghalibaf, yang sebelumnya terlibat dalam perundingan Iran dengan Amerika Serikat.

Mohammadi mengatakan bahwa perang berikutnya akan menjadi ancaman besar bagi keberadaan Iran. Karena itu, Teheran tidak akan lagi membatasi sasaran maupun wilayah serangan balasannya.

"Strategi kami adalah tidak ada batasan," ujar Mohammadi, sebagaimana dikutip The Guardian.

Ancaman tersebut muncul di tengah kembali meningkatnya ketegangan antara Iran dengan AS dan Israel. Situasi ini menimbulkan kekhawatiran akan pecahnya perang baru yang bisa meluas ke negara-negara Teluk.

Apalagi, kawasan tersebut merupakan salah satu pusat produksi minyak dan gas terbesar di dunia. Jika perang benar-benar meluas, dampaknya bukan hanya dirasakan negara-negara yang terlibat, tetapi juga berpotensi mengganggu pasokan energi global.

Lantas, seberapa besar sebenarnya kekuatan militer Iran jika dibandingkan dengan negara-negara Teluk? Apakah Iran memiliki jumlah tentara dan persenjataan yang lebih besar dibandingkan negara-negara tetangganya?

Adu Kekuatan Militer Iran vs Negara-Negara Teluk

Berdasarkan laporan Global Firepower Military Strength Ranking 2026, Iran masih menjadi salah satu negara dengan kekuatan militer terbesar di Timur Tengah.

Global Firepower menempatkan Iran di peringkat ke-16 dunia dari total 145 negara yang masuk dalam penilaian kekuatan militer pada 2026.

Posisi tersebut bahkan lebih tinggi dibandingkan seluruh negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk (Gulf Cooperation Council/GCC), termasuk Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA).

Arab Saudi, yang dikenal memiliki anggaran pertahanan sangat besar, berada di peringkat ke-25 dunia.

Sementara itu, Irak menempati posisi ke-44, disusul UEA di peringkat ke-54.

Adapun Qatar, Bahrain, Kuwait, dan Oman berada di luar 70 besar negara dengan kekuatan militer terbesar di dunia.

Sebagai informasi, Global Firepower menggunakan lebih dari 60 indikator untuk membandingkan kekuatan militer berbagai negara.

Penilaiannya mencakup jumlah tentara, pesawat militer, tank, kapal perang, anggaran pertahanan, hingga kemampuan suatu negara dalam mendukung kebutuhan logistik militernya.

Seluruh indikator tersebut kemudian dihitung menjadi satu skor yang disebut Power Index (PwrIndx).

Dalam penilaian ini, semakin kecil skornya, semakin tinggi peringkat kekuatan militer suatu negara.

Iran memiliki skor 0,3199, lebih baik dibandingkan Arab Saudi sebesar 0,4473 dan Irak sebesar 0,8115.

Meski demikian, peringkat militer yang lebih tinggi bukan berarti suatu negara pasti akan memenangkan perang.

Sebab, hasil peperangan juga dipengaruhi oleh banyak hal, mulai dari strategi, teknologi persenjataan, kesiapan tentara, hingga bantuan militer dari negara lain.

Adu Jumlah Tentara, Pesawat Tempur hingga Tank

Jika melihat jumlah tentara dan persenjataan, Iran ternyata memiliki keunggulan yang cukup besar dibandingkan sejumlah negara Teluk.

Menurut Global Firepower 2026, Iran memiliki sekitar 610.000 tentara aktif, jauh lebih banyak dibandingkan Arab Saudi yang memiliki 247.000 tentara.

Irak berada di bawahnya dengan 193.000 tentara aktif, sedangkan Oman tercatat memiliki sekitar 100.000 tentara.

Namun, kondisinya berbeda jika melihat kekuatan udara.

Arab Saudi justru memiliki lebih banyak pesawat militer dibandingkan Iran.

Jumlah pesawat militer Arab Saudi mencapai 917 unit, sedangkan Iran memiliki 551 unit.

Begitu juga dengan jumlah pesawat tempur. Arab Saudi memiliki 283 pesawat tempur, lebih banyak dibandingkan Iran yang memiliki 188 unit.

Dari perbandingan tersebut, terlihat bahwa Iran memiliki keunggulan dalam jumlah tentara aktif dibandingkan masing-masing negara Teluk.

Iran juga memiliki 2.675 tank, jauh lebih banyak dibandingkan Arab Saudi yang memiliki 1.085 unit maupun Irak sebanyak 1.188 unit.

Namun, dalam kekuatan udara, Arab Saudi memiliki keunggulan dibandingkan Iran.

Bahkan, UEA yang berada di peringkat ke-54 dunia tercatat memiliki 581 pesawat militer, sedikit lebih banyak dibandingkan Iran.

Sementara itu, Qatar memiliki 115 pesawat tempur, meskipun jumlah tentara aktifnya jauh lebih sedikit dibandingkan Iran.

Jika jumlah pesawat tempur enam negara anggota GCC digabungkan, totalnya mencapai 601 unit atau lebih dari tiga kali lipat jumlah pesawat tempur Iran.

Meski begitu, angka tersebut hanya merupakan penjumlahan persenjataan yang dimiliki masing-masing negara.

Artinya, bukan berarti seluruh pesawat tempur negara-negara Teluk dapat langsung digunakan secara bersama-sama jika perang benar-benar terjadi.

Iran Punya Banyak Kapal Selam, Saudi Unggul Anggaran Militer

Selain kekuatan darat dan udara, Iran juga memiliki persenjataan yang cukup besar untuk menghadapi pertempuran di laut.

Global Firepower mencatat Iran memiliki 109 aset armada laut, termasuk 25 kapal selam, tujuh kapal fregat, dan tiga kapal korvet.

Sementara itu, tujuh negara pembanding dalam daftar tersebut tidak memiliki kapal selam yang tercatat dalam data Global Firepower 2026.

Keberadaan kapal selam ini menjadi salah satu keunggulan Iran, terutama karena negara tersebut berada di tepi Selat Hormuz, yang merupakan jalur penting bagi pengiriman minyak dan gas dunia.

Meski demikian, kekuatan angkatan laut tidak hanya ditentukan oleh banyaknya kapal perang. Jenis persenjataan, kemampuan teknologi, serta kesiapan armada juga menjadi faktor penting.

Di sisi lain, Arab Saudi memiliki keunggulan yang sangat besar dalam hal anggaran militer.

Global Firepower memperkirakan anggaran pertahanan Arab Saudi mencapai US$63,99 miliar, hampir tujuh kali lipat dibandingkan Iran yang sebesar US$9,23 miliar.

UEA juga memiliki anggaran militer lebih besar dibandingkan Iran, yakni mencapai US$23,48 miliar. Begitu pula Qatar yang memiliki anggaran sebesar US$11,95 miliar.

Jika anggaran militer enam negara anggota GCC digabungkan, jumlahnya mencapai sekitar US$116,77 miliar.

Angka tersebut lebih dari 12 kali lipat dibandingkan anggaran pertahanan Iran.

Perbandingan ini menunjukkan bahwa negara-negara Teluk memiliki kemampuan keuangan yang besar untuk membeli persenjataan, mengembangkan teknologi militer, maupun membiayai kebutuhan pertahanannya.

Meski demikian, anggaran militer yang lebih besar tidak selalu berarti jumlah tentara dan persenjataan suatu negara juga lebih banyak.

Apa Artinya Jika Perang Kembali Pecah?

Jika melihat perbandingan tersebut, Iran memiliki sejumlah keunggulan dalam kekuatan militer, khususnya dari sisi jumlah tentara aktif, tank, dan kapal selam.

Sementara itu, Arab Saudi dan sejumlah negara Teluk lainnya memiliki keunggulan dari sisi anggaran pertahanan serta jumlah pesawat militer.

Bahkan, jika kekuatan tujuh negara pembanding digabungkan, jumlah tentara aktif mereka mencapai sekitar 728.000 orang, dengan 2.519 pesawat militer dan 3.470 tank.

Jumlah tersebut lebih besar dibandingkan persenjataan Iran dalam beberapa kategori.

Namun, angka-angka itu tidak serta-merta menunjukkan bahwa negara-negara Teluk memiliki kekuatan militer gabungan yang siap digunakan untuk menghadapi Iran.

Sebab, setiap negara memiliki kepentingan, strategi, serta kebijakan pertahanan masing-masing.

Selain itu, ancaman perang kali ini tidak hanya berkaitan dengan pertempuran antara tentara maupun penggunaan pesawat dan kapal perang.

Iran juga telah mengancam akan menyerang fasilitas minyak, pusat data, jaringan kabel bawah laut, dan berbagai infrastruktur penting lainnya di kawasan Teluk.

Jika ancaman tersebut benar-benar dilakukan, dampaknya dapat meluas hingga mengganggu kegiatan ekonomi, pasokan energi, dan kehidupan masyarakat di negara-negara yang terkena serangan.

Baca: Mulai Dipangkas! Segini Nilai Ekspor Gas RI ke Singapura

Terlebih, kawasan Teluk memiliki peran yang sangat besar dalam memasok kebutuhan minyak dan gas dunia.

Gangguan terhadap fasilitas energi maupun jalur pengiriman minyak dari kawasan tersebut berpotensi mendorong kenaikan harga energi dan menambah tekanan terhadap perekonomian global.

Dengan demikian, meskipun Global Firepower menempatkan Iran di atas masing-masing negara Teluk dalam peringkat kekuatan militer dunia, hal itu tidak berarti Iran pasti akan unggul jika perang benar-benar pecah.

Apalagi, jika Amerika Serikat dan Israel ikut terlibat langsung, perbandingan kekuatan militer di kawasan akan menjadi jauh lebih rumit.

CNBC INDONESIA RESEARCH 

[email protected]

(evw/evw)

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pembangunan Flyover Latumenten Capai 83%, Ditargetkan Beroperasi 2027
• 19 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Kontak Tembak dengan TNI di Papua Pegunungan, 2 Anggota KKB Tewas
• 13 jam lalujpnn.com
thumb
Mobil Oksigen Keliling untuk Warga, Inovasi Pemkot Palangka Raya di Tengah Kabut Asap | BERUT
• 1 jam lalukompas.tv
thumb
Marc Marquez Pimpin Klasemen MotoGP 2026 usai Menang Sprint Race Australia
• 10 jam lalumedcom.id
thumb
Informasi Akses Layanan Haji di RI Belum Optimal, Perbankan hingga Travel Agent Didorong Bersinergi
• 23 jam laluviva.co.id
Berhasil disimpan.