MILAN, KOMPAS.TV - Pemerintah Italia mengerahkan 500 tentara tambahan ke Milan untuk mengantisipasi kerusuhan susulan di tengah gelombang demonstrasi di sejumlah kota Eropa, Sabtu (24/10/2026).
Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni mengumumkan sejumlah langkah pengamanan, termasuk penambahan personel militer dan pemberlakuan sanksi lebih berat bagi pelaku kekerasan di bawah umur.
Pengerahan tentara dilakukan sepekan setelah aksi demo di Milan berujung pada bentrokan dengan polisi dan penjarahan sejumlah toko.
Ratusan tentara tambahan tersebut akan memperkuat personel militer yang telah ditempatkan di Milan. Mereka akan mendukung sekitar 5.000 personel kepolisian dan aparat penegak hukum lainnya.
Otoritas juga meningkatkan pengawasan menggunakan drone, melakukan pemeriksaan di stasiun kereta, mengerahkan unit reaksi cepat, serta memantau aktivitas daring untuk mengantisipasi ajakan melakukan kekerasan.
Baca Juga: Tak Cuma di Paris, Demo Biaya Hidup Berujung Ricuh Merembet ke Milan: Toko Dijarah, Mobil Dibakar
Wali Kota Milan Giuseppe Sala menyatakan kekhawatirannya terhadap kemungkinan terulangnya kerusuhan dan mendukung penambahan personel militer.
Toko-Toko Mewah TutupSejumlah toko, terutama butik mewah di kawasan mode Milan, menutup etalase mereka dengan papan pelindung. Toko-toko merek internasional, termasuk Omega, Tiffany, dan Gucci, mengambil langkah tersebut untuk mengantisipasi penjarahan.
Pada kerusuhan pekan lalu, kelompok perusuh merusak sejumlah toko dan menjarah barang-barang seperti sepatu, pakaian olahraga, serta perlengkapan olahraga di jalan-jalan sekitar kawasan Duomo, pusat kota Milan.
Pengamanan pada Sabtu juga diperluas ke luar pusat kota karena aparat khawatir kerusuhan dapat meluas ke kawasan permukiman lainnya.
Sekretaris jenderal serikat pekerja kepolisian FSP, Valter Mazzetti, mengatakan pengerahan tentara dapat membantu memberikan dukungan segera kepada polisi. Namun, langkah itu tidak menyelesaikan persoalan kekurangan personel kepolisian.
Menteri Pertahanan Italia Guido Crosetto menjelaskan tentara hanya diperbolehkan menggunakan alat pengikat plastik untuk menahan seseorang di kawasan sekitar stasiun kereta, bukan di seluruh wilayah kota.
Mereka juga tidak diizinkan membawa semprotan merica atau alat kejut listrik.
Menurut kepolisian Milan, kekerasan dan penjarahan pekan lalu melibatkan sekitar 2.000 demonstran berusia sangat muda. Polisi menangkap 45 orang selama dua hari, termasuk 34 anak di bawah umur.
Anggota Dewan Kesejahteraan Milan, Lamberto Bertole, mengatakan penyelidikan lebih lanjut diperlukan untuk memahami latar belakang dan motif para pemuda yang terlibat dalam penjarahan.
“Banyak anak muda semakin kehilangan rasa memiliki dan harapan terhadap masa depan. Sebagian masyarakat merasa tersisih di tengah ketimpangan sosial dan ekonomi,” kata Bertole, yang berasal dari Partai Demokrat berhaluan kiri tengah.
Baca Juga: Ribuan Orang Kembali Demo di Prancis, Polisi Tembakkan Gas Air Mata
Pengamanan Roma DiperketatPeningkatan pengamanan juga diberlakukan di Roma. Aparat menutup sejumlah jalan di pusat perbelanjaan mewah dan memperketat pengawasan di sekitar Circus Maximus serta Piazza del Popolo.
Seperti dikutip dari The Associated Press, ratusan mahasiswa menggelar demonstrasi damai untuk menegaskan aksi mereka berbeda dengan kerusuhan pekan sebelumnya.
Riccardo Ponzio, ketua nasional sebuah organisasi mahasiswa sayap kanan Italia, mengecam kekerasan yang terjadi sebelumnya.
Ia mengatakan sebagian besar generasi muda ingin belajar, menyampaikan gagasan, dan tidak ingin disamakan dengan kelompok yang merusak kota.
Aksi terpisah menentang perang juga berlangsung di pusat Roma. Penyelenggara mengimbau peserta membuka wajah dan memperlihatkan tangan untuk menghindari kecurigaan serta mencegah penyusupan kelompok yang berpotensi melakukan kekerasan.
Selain Milan dan Roma, demonstrasi dijadwalkan berlangsung di sedikitnya tujuh kota lain di Italia.
Gerakan yang baru terbentuk, Oct. 17 Movement, menjadi salah satu penggerak utama aksi bersama federasi mahasiswa, serikat pekerja akar rumput, dan koalisi antiperang.
Sementara demonstrasi di Prancis turut menjadi sorotan internasional, aksi di berbagai kota Eropa pada Sabtu mengangkat beragam persoalan, mulai dari pensiun, perumahan, pendidikan, hingga korupsi dan penolakan terhadap perang.
Download KompasTV Apps di TV kamu, sekarang juga di https://app.kompas.tv/. Satu apps untuk semua Video Premium, Breaking News, dan Live Streaming 24/7 dari Kompas Gramedia.
Penulis : Tussie Ayu Editor : Edy-A.-Putra
Sumber : The Associated Press
- italia
- demo italia
- milan
- tentara tambahan
- kerusuhan
- demo milan





