Tolak Data Center, Warga Ogah Dibayar Rp 154 Juta Per Orang

cnbcindonesia.com
4 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, CNBC Indonesia - Sebuah tawaran menggiurkan ditujukan kepada warga Hazle Township, Pennsylvania, Amerika Serikat. Setiap rumah tangga dijanjikan uang tunai sebesar US$10.000 atau sekitar Rp154 juta jika mereka menyetujui pembangunan fasilitas data center raksasa di wilayah tersebut.

Kendati demikian, warga setempat secara bulat memilih untuk menolak tawaran tersebut. Proyek bernama Project Hazelnut yang dikembangkan oleh NorthPoint Development ini berencana membangun kompleks data center dengan luas area mencapai lebih dari 1.300 hektare.

Demi memuluskan rencana pembangunan tersebut, pihak pengembang telah menyiapkan sejumlah komitmen besar. Komitmen itu meliputi pemberian insentif tunai Rp154 juta per rumah tangga, alokasi dana komunitas sebesar Rp231 miliar untuk pendidikan dan fasilitas umum, pembukaan lebih dari 2.000 lapangan kerja, serta janji mempertahankan area hutan seluas 1.100 hektare.

Baca: 1 dari 4 Data Center Kekurangan Air, Berebut dengan Petani dan Warga

Kendati hampir 17% warga hidup di bawah garis kemiskinan, tawaran itu justru ditolak. Banyak warga menyebutnya seperti suap.

"Uang itu setetes air di lautan dibanding kerugian yang akan kita tanggung," ujar Ed Negra, warga yang juga pemilik usaha kecil. "Nilai properti kita akan jatuh drastis. Jika ini bukan suap, saya tidak tahu apa namanya lagi."

Warga lain, Brian Malloy, menambahkan, "Kami tidak menjual lingkungan tempat tinggal kami."

Penolakan ini bukan tanpa alasan. Di kota kecil terdekat, Archbald, rencana enam kampus data center telah memicu kemarahan warga. Pusat data itu menempati hingga 14% wilayah kota, menguras pasokan listrik, menaikkan tarif energi, dan menimbulkan kebisingan siang malam.

Dewan kota yang menyetujui rencana itu justru digulingkan oleh warga.

Warga Hazle Township khawatir kebutuhan listrik raksasa akan menaikkan tarif seluruh warga dan mesin pendingin yang beroperasi 24 jam menimbulkan kebisingan konstan. Selain itu, penggunaan air pendingin berisiko mengganggu pasokan warga. Terakhir, harga properti bisa anjlok karena dekat dengan aktivitas industri.

Kekhawatiran warga memuncak karena proses persetujuan justru dipercepat. Gubernur Pennsylvania Josh Shapiro memasukkan proyek ini ke dalam program jalur cepat, sehingga izin diselesaikan lebih singkat.

Penolakan warga di berbagai tempat kini menjadi risiko nyata bagi raksasa teknologi. Menurut laporan Reuters, pada kuartal pertama 2026 saja, 75 proyek data center menghadapi penolakan warga secara terorganisir. Total nilai investasi yang terancam mencapai US$ 130 miliar atau sekitar Rp 2.000 triliun.

Para investor mulai menyadari bahwa membangun infrastruktur AI tidak hanya soal listrik dan kabel. Ia juga soal izin warga dan uang tidak selalu mampu membelinya.

(pgr/pgr) [Gambas:Video CNBC]

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Mantan Panglima TNI Widodo Adi Sutjipto Meninggal Dunia
• 5 jam lalutvonenews.com
thumb
Gus Irfan Buka Suara soal Dua Anaknya Disebut Jadi Tenaga Ahli Kemenhaj
• 21 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
EN-LMND Puji Gotong Royong Karang Taruna Tangani Karhutla, Ingatkan Tanggung Jawab Menteri Kehutanan
• 17 jam lalupantau.com
thumb
SenengSoccer: Asah Bakat dan Tumbuhkan Kecintaan Sepak Bola Wanita sejak Dini
• 20 jam lalukumparan.com
thumb
Hadiri Penutupan Kongres XXIV INI, Menkum Ungkap Target E-Notary Rampung Akhir 2026
• 23 jam lalujpnn.com
Berhasil disimpan.