Grid.ID - Kasus dugaan perundungan alias bullying di salah satu SMP di Tangerang Selatan kini ramai jadi perbincangan. Bagaimana tidak, sejumlah 14 siswi SMP di Tangsel mengaku jadi korban bully kakak kelas di sebuah warung kopi.
Insiden itu diketahui terjadi pada Jumat (9/10/2026) malam. Diketahui, 14 siswi SMP Tangsel itu diduga dipaksa merokok hingga meminum cairan racikan dari kakak kelas.
Akibatnya, para siswi mengalami sakit perut hingga ada yang mengalami muntah darah. Lantas bagaimana kronologi 14 siswi SMP di Tangsel diduga dibully senior? Simak ulasannya.
Kronologi 14 Siswi SMP di Tangsel Diduga Dibully Senior
Belasan siswi di SMP kawasan Pondok Ranji, Ciputat Timur, Tangerang Selatan diduga dibully oleh senior. Peristiwa tersebut berlangsung di luar jam sekolah dan di luar lingkungan sekolah pada Jumat malam (09/10/2026).
Peristiwa ini melibatkan 13 siswi kelas 9 dan 14 siswi kelas 8. Melansir Kompas.com, berdasarkan penuturan ibu siswi berinisial A (33) awal mula dugaan tindak bullying itu terjadi saat anaknya mengaku diajak berkumpul di sebuah warung kopi oleh kakak kelasnya.
"Awal mulanya diajakin main. Tapi enggak boleh cuma dua atau tiga orang, harus ramai-ramai. Akhirnya datanglah 14 orang," ujar A di wilayah Pondok Ranji, Tangsel, Kamis (22/10/2026).
Di lokasi itu, 14 siswi itu diminta mengikuti permainan menggunakan puntung rokok. Dalam permainan itu, para siswi harus merokok.
Peserta yang abunya jatuh dinyatakan kalah dan harus menenggak cairan racikan yang disiapkan para senior. Cairan racikan itu pun diisi berbagai isian mulai dari campura kopi, saos, kecap, lada, bawang putih, air ludah, air keran hingga cuka.
"Racikannya itu ada kopi liong, saos, kecap, lada bubuk, bawang putih, air ludah, air keran, sama cuka. Itu diminumkan ke anak-anak," kata A.
Tak hanya itu, menurut A, anak-anak tidak bisa begitu saja meninggalkan lokasi hingga pukul 22.00 WIB. Mereka juga dipaksa kembali meminum cairan tersebut jika ingin pulang lebih awal.
Beberapa Korban Sakit Perut dan Muntah Darah
Setelah kejadian itu, A mengalami sakit perut berkepanjangan. Namun, mereka juga tidak berani menceritakan masalah itu ke orang tua karena diancam oleh tiga senior.
"Anak saya sampai hari ini tidak masuk sekolah karena masih sering sakit perut. Kalau teman-temannya yang lain ada yang sampai muntah darah," ungkapnya.
Setelah mengetahui cerita anaknya, A berusaha meminta penjelasan kepada orangtua salah satu senior yang diduga terlibat dalam perundungan tersebut. Namun, hal itu malah berujung pada intimidasi dan ancaman.
Sekolah Buka Suara
Kepala SMPN di Tangsel Kunardi membenarkan soal dugaan bullying tersebut. Ia mengungkapkan, peristiwa tersebut berlangsung di luar jam sekolah dan di luar lingkungan sekolah pada Jumat malam.
"Anak kelas 9 membuat racikan minuman yang ditaruh di dua gelas. Racikannya terdiri dari cuka, lada, kecap, Kopi Liong, dan bahan lainnya," ujar Kunardi saat dikonfirmasi Tribunnewsbogor.com.
"Siapa yang kebagian mengisap rokok ketika abunya jatuh, dialah yang harus meminum racikan tersebut. Menurut sudut pandang mereka itu permainan seru-seruan, tetapi menurut saya sebagai orang dewasa, tindakan anak-anak ini sudah melampaui batas," tegas Kunardi.
Kunardi menuturkan, pihak sekolah pertama kali menerima laporan mengenai dugaan perundungan tersebut dari Bhabinkamtibmas dan orang tua siswa pada Senin malam. Kunardi menegaskan, sekolah tetap berfokus pada pembinaan dan pendampingan, serta memperketat deteksi dini dengan bekerja sama dengan pihak kepolisian dan orang tua murid agar kejadian serupa tidak terulang.
"Pada hari Jumat, semua orang tua murid yang terlibat sudah kami panggil ke sekolah untuk berkoordinasi meningkatkan pengawasan pergaulan anak," kata dia.
Demikianlah kronologi 14 siswi SMP di Tangsel diduga dibully senior. (*)
Artikel Asli




