Profil MH Thamrin, Tokoh Pro Rakyat dari Betawi di Lembaran Uang Rp2.000

metrotvnews.com
1 jam lalu
Cover Berita

Jakarta: Di balik uang kertas pecahan Rp2.000 yang digunakan sehari-hari, terdapat sosok Mohammad Husni (MH) Thamrin, salah satu tokoh pergerakan nasional asal Betawi. Namanya diabadikan dalam uang rupiah sebagai bentuk penghormatan terhadap perjuangannya bagi masyarakat dan bangsa Indonesia.

Bank Indonesia mencatat MH Thamrin sebagai tokoh pahlawan nasional yang ditampilkan pada bagian depan uang kertas Rp2.000 tahun emisi 2022. Uang tersebut diterbitkan pada 17 Agustus 2022. 
 

Baca Juga :

Mengenal Djuanda Kartawidjaja, Pahlawan Pemersatu Laut Nusantara di Uang Rp50.000

Sosok MH Thamrin bukan sekadar gambar pada mata uang. Ia memiliki perjalanan panjang dalam memperjuangkan kepentingan rakyat pada masa pemerintahan kolonial Belanda.

MH Thamrin lahir di Sawah Besar, Batavia, pada 16 Februari 1894. Ia tumbuh di lingkungan masyarakat Betawi dan kemudian dikenal sebagai salah satu tokoh yang berperan dalam pergerakan kebangsaan.

Perjuangannya dilakukan melalui jalur politik, dengan memanfaatkan lembaga pemerintahan kolonial untuk menyampaikan persoalan yang dihadapi masyarakat pribumi. Keterlibatan Thamrin dalam pergerakan mulai terlihat pada 1916. Ia bergabung dengan perkumpulan pemilih Melayu atau Kies Vereeniging Melajoe. 

Pada periode yang sama, Ia turut mendirikan organisasi Kaoem Betawi bersama Masserie. Organisasi tersebut menjadi salah satu wadah untuk menghimpun masyarakat Betawi dalam kehidupan sosial dan politik.

Pada 1919, Thamrin diangkat menjadi anggota Dewan Kota Batavia. Melalui posisi tersebut, ia menyuarakan persoalan yang berkaitan dengan kehidupan warga, termasuk kondisi sosial dan sanitasi. 

Perhatian terhadap masalah sehari-hari masyarakat menjadi salah satu ciri perjuangannya, terutama ketika kebijakan pemerintah kolonial belum memberikan kondisi kehidupan yang layak bagi penduduk pribumi.

Perjuangan Thamrin kemudian berlanjut melalui Volksraad atau Dewan Rakyat pada masa Hindia Belanda. Ia memanfaatkan forum tersebut untuk menyampaikan kritik terhadap kebijakan pemerintah kolonial. 

Keberadaannya di lembaga itu tidak membuatnya berhenti memperjuangkan kepentingan rakyat, melainkan menjadi kesempatan untuk membawa persoalan masyarakat ke dalam pembahasan politik.

Salah satu sikap kritis Thamrin terlihat ketika ia bersama Mr. Kusumo Utojo melakukan peninjauan ke Sumatra. Keduanya memeriksa kondisi buruh pribumi yang bekerja di perkebunan milik pemerintah kolonial. 

Temuan dari peninjauan tersebut kemudian disampaikan Thamrin dalam sidang Volksraad pada 27 Januari 1930. Langkah itu menunjukkan upayanya mengangkat persoalan perlakuan terhadap buruh ke ruang pembahasan resmi.

Dalam pergerakan kebangsaan, Thamrin juga berperan dalam memperjuangkan pembentukan Volksraad dan memprakarsai Fraksi Nasional.  Dia dikenal menjembatani kelompok pergerakan yang menempuh jalur kerja sama dengan pemerintah kolonial dan kelompok yang menolak pendekatan tersebut. Perannya memperlihatkan bahwa perjuangan menuju kemerdekaan berlangsung melalui berbagai cara dan ruang politik.


Museum M.H. Thamrin di Jakarta. Foto: Tangkapan layar laman Museum M.H. Thamrin.

Jejak perjuangannya masih dapat ditelusuri melalui Museum MH Thamrin di Jakarta. Museum tersebut menjadi salah satu tempat untuk mengenal lebih jauh kehidupan dan kiprah tokoh Betawi itu dalam sejarah pergerakan nasional. 

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga mengabadikan namanya melalui pembangunan patung sebagai bentuk penghormatan sekaligus sarana mengenalkan sosoknya kepada generasi muda.

MH Thamrin meninggal dunia pada 11 Januari 1941, sebelum Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya. Kiprahnya dalam menyuarakan kepentingan masyarakat dan menentang ketidakadilan pada masa kolonial menjadi bagian dari perjalanan panjang bangsa menuju kemerdekaan.

Kini, potret Thamrin pada uang Rp2.000 menjadi pengingat bahwa sejarah perjuangan bangsa dapat dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Mengenal sosok di balik uang rupiah bukan hanya tentang mengetahui nama seorang pahlawan, tetapi juga memahami gagasan, keberanian, dan kontribusinya yang menjadi bagian dari sejarah Indonesia.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Tekan Polusi Udara dan Suhu Panas, Modifikasi Cuaca Digelar di Jakarta
• 8 jam laluidxchannel.com
thumb
Jelang Demo Nasional, Jendela Pertokoan di Paris Ditutup Papan Kayu
• 7 jam laludetik.com
thumb
Dugaan Kekerasan terhadap Siswa, DPRD Jember Segera Panggil Kepala Sekolah Rakyat
• 14 jam laluberitajatim.com
thumb
Kabar Joshua Baker Gabung Timnas Indonesia Picu Kekhawatiran Vietnam
• 17 jam lalubola.com
thumb
Diduga Cemburu karena Chat Mesra, Pria di Probolinggo Bacok Seorang Penghulu
• 7 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.