Khawatir Kerusuhan dan Penjarahan Terulang, Warga Prancis Berbondong-bondong Membeli Senjata; 70.000 Aparat Disiagakan

erabaru.net
1 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia.com Setelah bentrokan kekerasan besar baru-baru ini melanda Prancis, pemerintah akan mengerahkan 70.000 personel polisi pada Sabtu (24/10/2026) untuk berjaga-jaga di jalanan guna mencegah terulangnya gelombang kerusuhan, perusakan, dan penjarahan. Setelah para perusuh mengamuk dan menjarah toko-toko hingga kosong, muncul pula tren yang disebut sebagai “gelombang persenjataan masyarakat”, dengan warga berbondong-bondong membeli senjata untuk melindungi diri.

Berikut laporan wartawan NTD Chen Wanyan dari Paris, Prancis.

Wartawan Chen Wanyan: “Saat ini saya berada di Place de la République, Paris. Pada 17 Oktober, selama aksi demonstrasi dan pawai di Paris, terjadi bentrokan kekerasan serta penjarahan toko-toko. Hari ini, kami akan menemui warga di sekitar lokasi untuk mengetahui dampak peristiwa tersebut terhadap kehidupan sehari-hari mereka.”

Warga Paris: ‘Pada malam itu, warga setempat, semua orang yang tinggal di sini, secara spontan turun ke jalan untuk membersihkan lokasi. Mereka menyingkirkan puing-puing sisa kebakaran dan berbagai bekas kekacauan. Warga setempat bergerak bersama dan memulihkan ketertiban. Jadi, kehidupan kami sebenarnya tidak banyak berubah akibat kejadian tersebut.”

wartawan NTD Chen Wanyan dari Paris, Prancis.

Untuk mencegah terulangnya kerusuhan, pemerintah Prancis akan mengerahkan 70.000 personel polisi pada Sabtu, dengan dukungan pasukan khusus untuk menghadapi gelombang demonstrasi baru. Jumlah personel keamanan di jalanan Prancis diperkirakan bertambah 10.000 orang dibandingkan pekan sebelumnya.

Deepak Rajput, warga asal India: “Pemerintah memiliki berbagai sumber daya dan sebenarnya bisa memperkirakan berapa banyak orang yang akan turun ke jalan pada 17 Oktober. Namun, mereka gagal melakukan analisis yang memadai dan membiarkan kekerasan menyebar ke jalanan.”

Sejumlah pemilik toko juga mulai membeli senjata untuk melindungi diri. Menurut laporan media Prancis, stok model tertentu pistol gas air mata di toko senjata telah habis terjual.

Deepak Rajput: “Hari ini, para pemilik toko beramai-ramai menutup bagian depan toko mereka dengan papan kayu. Pada akhirnya, semua itu terjadi karena mereka takut kepada para perusuh. Mereka mengkhawatirkan masa depan mereka. Para pemilik toko di Paris berasal dari berbagai latar belakang, termasuk kelompok minoritas.”

Menteri Dalam Negeri Prancis, Laurent Nuñez, sebelumnya menuduh kelompok-kelompok sayap kiri ekstrem berada di balik layar dan menghasut aksi kekerasan, perusakan, serta pembakaran.

Sejumlah analis berpendapat bahwa akar kerusuhan di Prancis adalah globalisasi ekonomi yang, menurut mereka, dimanfaatkan Partai Komunis Tiongkok (PKT) untuk menggerus pasar kapitalis Barat. Hal ini dinilai memperdalam pertentangan sosial dan memperburuk kondisi ekonomi.

“Globalisasi telah menyebabkan seluruh pasar Eropa dieksploitasi secara besar-besaran oleh PKT. Produk-produk murah dari Tiongkok membanjiri pasar di seluruh Eropa. Ini bisa dikatakan sebagai bentuk invasi ekonomi yang bersifat predatoris terhadap perekonomian Eropa,” kata Lan Shu, jurnalis senior. 

“Konflik sosial yang mendalam ini kemudian dimanfaatkan oleh kelompok sayap kiri di Barat, terutama di Prancis, Italia, Spanyol, dan negara-negara lainnya. Sebenarnya, penyandang dana terbesar di balik kerusuhan ini adalah PKT. Kita telah melihat hasil investigasi Fox News yang menunjukkan bahwa pihak yang sesungguhnya memberikan pendanaan adalah Neville Singham,” jelasnya. 

Fang Wei, jurnalis senior: “Neville Singham adalah pengusaha Amerika yang didukung PKT. Kini ia berada di Shanghai dan diduga memberikan pendanaan dari jarak jauh serta mengarahkan gerakan komunis dan revolusi kekerasan di Amerika Serikat maupun negara-negara Barat.”

“Singham adalah warga Amerika, tetapi sekarang bahkan tidak berani kembali ke Amerika Serikat. Kongres sudah mengirimkan surat panggilan kepadanya. Organisasi yang didanainya antara lain BreakThrough News dan Code Pink.”

Para analis juga berpendapat bahwa peristiwa ini bukan sekadar gerakan mahasiswa atau aksi sosial biasa. Menurut mereka, kerusuhan tersebut diperparah oleh gabungan kelompok sayap kiri ekstrem, organisasi yang didanai PKT, badan intelijen Rusia, serta kekuatan ekstremis dari Timur Tengah.

Mereka menilai pemerintah Prancis saat ini terlalu berpegang pada prinsip “kebenaran politik” dan globalisasi sehingga tidak mampu menangani kekacauan, yang pada akhirnya dapat membawa negara itu menuju kehancuran dari dalam.

Pengamat memperkirakan bahwa aksi protes pada Sabtu akan berlangsung dalam skala yang lebih besar. Karena itu, Kementerian Kebudayaan Prancis memutuskan untuk menutup sejumlah museum utama di Paris, termasuk Museum Louvre.

Saul Gonzalez, wisatawan asal Meksiko: “Sebelumnya, setelah melihat berbagai berita di media sosial, saya memang merasa sedikit khawatir. Namun, setelah berbicara dengan penduduk setempat, mereka mengatakan bahwa tempat ini sebenarnya aman bagi wisatawan. Meski begitu, suasananya memang terasa agak aneh. Seolah-olah ada kegelisahan di udara, seakan-akan sesuatu masih akan terjadi dalam beberapa hari ke depan.”

Laporan dari Paris, Prancis, oleh wartawan NTD Chen Wanyan, Wang Ziyi, dan Alireza.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Lewis Hamilton Tercepat di Latihan Bebas GP Amerika Serikat 2026, Ferrari Ungguli Red Bull dan Mercedes
• 8 jam lalupantau.com
thumb
Yusril Buka Suara soal Usulan Perubahan Definisi Korupsi: Masih Memerlukan Pendalaman
• 6 jam lalukompas.tv
thumb
Harga Emas Antam Stagnan di Rp2,540 Juta/Gram Hari Ini
• 6 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Mendagri Dukung Program 3 Juta Rumah melalui Kemudahan Regulasi bagi MBR
• 19 jam laludisway.id
thumb
Bayern Munchen Janji Lindungi Vincent Kompany dari Beban Kerja Berlebihan
• 10 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.