JAKARTA – Perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dalam industri musik memunculkan tantangan baru bagi kreativitas dan kemampuan bermusik para seniman. Di tengah perkembangan teknologi tersebut, Festival Parade Band Sejabodetabek 2026 menjadi ruang bagi musisi untuk menampilkan kemampuan, mengembangkan aransemen, dan menjaga interaksi antarpelaku musik.
Festival yang digelar Dewan Pimpinan Daerah Persatuan Artis Penyanyi, Pencipta Lagu dan Pemusik Republik Indonesia (DPD PAPPRI) DKI Jakarta bersama Ussy Pieters Entertainment itu berlangsung di DeHeng House, Jakarta, Ahad (25/10/2026). Sebanyak 24 grup band dari Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) tampil membawakan berbagai genre musik.
Baca Juga
Menyongsong 25 Tahun Perjalanan Musik MALIQ & D’Essentials
Tujuh Tahun Vakum dari Panggung Musik, Syahrini Kembali Lewat Lagu Baru 'Kau Yang Utama'
Ketua DPD PAPPRI DKI Jakarta Ussy Pieters menilai perkembangan AI membawa tantangan tersendiri bagi industri musik, terutama terkait proses penciptaan karya. Dia mengkhawatirkan penggunaan teknologi tersebut dapat mengurangi peran kreativitas manusia ketika musik maupun suara dapat dihasilkan secara otomatis.
“Kalau bagi saya, AI itu merusak. Dia merusak musik. Karena dia bisa bikin suara yang sebetulnya tidak bagus juga,” kata Ussy di Jakarta, Ahad (25/10/2026).
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Menurut Ussy, kemampuan seorang musisi tidak hanya diukur dari hasil akhir sebuah lagu, tetapi juga dari proses kreatif dalam mengolah komposisi dan aransemen. Dia mencontohkan pengalamannya mengaransemen lagu secara mandiri agar menghasilkan karakter musik yang berbeda dari versi aslinya.
“Jadi kalau bagusnya dalam bermain musik itu, aransemen sendiri. Jadi tidak mengikuti yang aslinya,” ujarnya.
Ussy menilai perkembangan musik saat ini sebenarnya cukup positif, termasuk di kalangan generasi muda. Dia melihat semakin banyak musisi yang mengeksplorasi musik alternatif, rock, dan funky dengan karakter masing-masing.
Namun, dia mengingatkan bahwa kemampuan memainkan instrumen perlu disertai pemahaman mengenai teori musik. Penguasaan notasi, akor, dan teknik aransemen dinilai penting agar musisi dapat mengembangkan karya secara lebih matang.
Ussy mencontohkan masih adanya pemain musik yang mampu memainkan instrumen, tetapi belum memahami nama maupun struktur akor yang digunakan. Menurut dia, pemahaman teori musik dapat membantu musisi mengembangkan kemampuan di luar sekadar memainkan lagu.
Di tengah perubahan industri musik tersebut, PAPPRI DKI Jakarta berupaya menghidupkan kembali kegiatan komunitas melalui Festival Parade Band Sejabodetabek 2026. Ussy mengatakan, kegiatan tersebut merupakan langkah awal kepengurusannya setelah aktivitas organisasi di Jakarta sempat vakum selama dua tahun.
Festival ini juga dilatarbelakangi keinginan mempertemukan kembali para musisi setelah aktivitas pertunjukan musik sempat terhenti selama pandemi Covid-19. Menurut Ussy, pertemuan langsung dapat menjadi kesempatan bagi musisi untuk menjaga hubungan dan membangun kembali semangat berkarya.
“Jadi saya bikin ini lagi, sebenarnya bukan event. Ini silaturahim musisi agar mereka ketemu lagi untuk bangkit lagi,” ujarnya.
Sebanyak 24 grup band yang tampil menghadirkan berbagai aliran musik, mulai dari keroncong, dangdut, Melayu, disko klasik, R&B, hingga musik Latin. Penyelenggara sengaja membatasi jumlah peserta meskipun terdapat lebih banyak kelompok musik yang ingin berpartisipasi.
Ussy menjelaskan, keberagaman genre menjadi pertimbangan utama dalam menentukan peserta. Festival tersebut tidak menggunakan sistem kompetisi atau penilaian untuk menentukan grup band terbaik.
Menurut dia, kegiatan ini lebih mengutamakan kesempatan tampil dan interaksi antarmusisi daripada persaingan. Para pemain musik dari berbagai kelompok juga dapat kembali bertemu dengan rekan-rekan yang pernah bekerja sama.
Festival tersebut tidak secara khusus ditujukan bagi musisi muda karena melibatkan kelompok musik dari berbagai generasi. Meski demikian, Ussy berencana membuka lebih banyak ruang bagi generasi muda dalam kegiatan PAPPRI berikutnya.
Selain festival band, PAPPRI DKI Jakarta tengah menyiapkan festival penghormatan terhadap lagu-lagu populer era 1970-an, 1980-an, dan 1990-an. Namun, rencana menjadikan Festival Parade Band Sejabodetabek sebagai kegiatan rutin masih belum diputuskan.
Ussy berharap para musisi tetap mengembangkan kemampuan dan menghasilkan karya di tengah perubahan teknologi serta industri musik. Dia menekankan pentingnya inisiatif untuk terus berkarya tanpa harus menunggu kesempatan dari pihak lain.
“Harapan saya biar mereka harus tetap semangat berkarya. Jadi jangan patah semangat, jangan menunggu. Harus tetap berkarya,” katanya.