Viral Aksi Pelari Nekat Terobos Pembatas Demi Medali, Dimas Seto Beri Sentilan Menohok: Lari Itu Lawan Diri Sendiri

grid.id
6 jam lalu
Cover Berita

Grid.ID – Fenomena olahraga lari yang tengah digandrungi masyarakat belakangan tercoreng oleh ulah segelintir peserta yang nekat melanggar aturan. Aksi memotong rute hingga menerobos pagar pembatas Cut-Off Time (COT) demi mengincar medali finisher pun ramai menuai kritik di media sosial.

Menanggapi fenomena tersebut, aktor sekaligus pegiat lari, Dimas Seto, turut buka suara. Suami Dhini Aminarti ini menilai kekacauan di sejumlah ajang lari tidak bisa sepenuhnya dilimpahkan kepada satu pihak, melainkan karena minimnya edukasi.

"Kalau kami melihat ya, semua itu tidak bisa disalahkan sepenuhnya. Salah satu yang juga menjadi perhatian adalah sebetulnya sosialisasi, edukasi, itu perlu," kata Dimas Seto saat ditemui di kawasan Bintaro, Tangerang Selatan, Sabtu (24/10/2026).

Menurut Dimas, akar masalah utama dari kenekatan para peserta adalah rasa gengsi dan tren ikut-ikutan alias FOMO (Fear of Missing Out), tanpa menakar kesiapan fisik masing-masing.

"Banyak kesalahan orang lari itu karena banyak juga sekarang lari ini FOMO, pengin ikut-ikutan, pengin punya medali, akhirnya ikut kategorinya itu tidak sesuai dengan kemampuannya," tegas Dimas.

Pria yang telah menekuni lari sejak 2013 ini pun membandingkan sistem perlombaan di luar negeri yang jauh lebih disiplin dalam menegakkan aturan batas waktu.

"Di luar negeri pun major-major segala macam juga ada COT, malah lebih tertib. Itu di belakang pelari itu belakangnya bus ngikutin tuh. Kalau udah lewati itu diangkut naik bus. Kalau di sini kan tutup, pada loncat segala macam," papar Dimas.

Padahal, menurutnya, aturan batas waktu dibuat ketat demi keselamatan pelari itu sendiri dan kepentingan pengguna jalan raya lainnya.

"Demi keselamatan, karena kan jalan ini jalan publik berbagi sama masyarakat pemakai jalan. Jadi memang itu balik lagi untuk menjaga keamanan para peserta," lanjutnya.

Terakhir, Dimas juga mengingatkan para pelari untuk kembali ke esensi utama berolahraga, bukan sekadar mengejar validasi di media sosial.

"Lari itu bukan jago seberapa cepat ya, seberapa kuat, enggak. Lari itu sebetulnya kita bertanding melawan diri kita sendiri, konsistensi. Menjalankan hobi bukan merugikan orang lain atau sampai merugikan banyak orang, janganlah gitu ya," pungkas Dimas Seto.

 

Sebelumnya diketahui isu ini mencuat usai insiden di Jakarta Running Festival (JRF) pada Sabtu (24/10/2026), ketika ratusan peserta nekat merobohkan barikade Cut-Off Point (COP) karena tidak terima tereleminasi usai melewati batas waktu maksimal. Aksi dorong-dorongan massa sempat viral di media sosial. (*)

 

Artikel Asli


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Prof. Muryanto Amin Pimpin ICMI Sumut, Perkuat Kontribusi Cendekiawan untuk Umat
• 8 jam lalukompas.tv
thumb
Jadwal Final French Open 2026: Ubed Harapan Terakhir Indonesia
• 12 jam lalumedcom.id
thumb
Barcelona vs Madrid, Hansi Flick: Saya Percaya Diri
• 34 menit lalukompas.tv
thumb
Cek Jadwal Pelayanan Klinik Hewan Keliling Jakarta Selatan 26-31 Oktober
• 15 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Komisi VIII DPR Dorong Lingkungan Belajar yang Inklusif dan Humanis
• 22 jam laluokezone.com
Berhasil disimpan.