Kawasan M Bloc Space di Jakarta Selatan pekan ini menghadirkan nuansa berbeda. Dua festival desain dan arsitektur berskala besar, yakni Jakarta Architecture Festival (JAF) 2026 dan M Bloc Design Week (MBDW), tengah digelar secara bersamaan hingga 1 November 2026 mendatang.
Tahun ini, JAF yang diinisiasi oleh Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Jakarta mengusung tema "Ambang Ruang". Tema tersebut menyoroti krusialnya perancangan ruang transisi di ibu kota, seperti jalur pejalan kaki dan halte, demi menjaga kenyamanan mobilitas warga di tengah padatnya aktivitas kota.
Ketua Panitia JAF 2026, Toton Suhartanto, menjelaskan bahwa daya tarik utama dari rangkaian festival ini adalah tersedianya layanan klinik arsitektur gratis yang beroperasi setiap pukul 11.00 hingga 19.00 WIB.
"Melalui Lembaga Bantuan Arsitek, masyarakat umum bisa berkonsultasi tentang rumah sehat. Kami ingin menjelaskan bahwa rumah sehat dengan tata cahaya dan sirkulasi udara yang baik di lahan terbatas adalah hal mutlak yang harus dipahami masyarakat sejak awal mendesain rumah," papar Toton, dikutip dari Metro Siang, Metro TV, Minggu 25 Oktober 2026.
Selain konsultasi desain, JAF juga menggandeng Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk memfasilitasi warga yang ingin berkonsultasi langsung mengenai pengurusan izin Persetujuan Bangunan Gedung (PBG).
Baca Juga :
Tren Hunian Modern Dorong Inovasi Industri Material BangunanSejalan dengan visi JAF, MBDW turut memperkaya festival ini melalui tema "Daur Rupa". Pameran ini menampilkan ragam karya inovatif yang menyulap limbah menjadi produk bernilai guna tinggi, mulai dari fesyen, interior, hingga mainan anak. Pengunjung bahkan dapat langsung menghubungi desainer untuk melakukan pembelian karya.
Program Manager MBDW, Dirgantara, menambahkan bahwa acara ini juga merangkul semua kalangan melalui berbagai diskusi interaktif.
"Kami menghadirkan talkshow, salah satunya MBDW Forum, yang membahas bagaimana membuat bangunan dan ruang publik yang berkelanjutan, minim limbah, dan menggunakan material ramah lingkungan. Kami juga berdiskusi soal penciptaan pameran yang inklusif agar bisa dinikmati oleh warga berkebutuhan khusus," jelas Dirgantara.
Kolaborasi dua festival ini diharapkan mampu mengedukasi publik bahwa indikator desain dan arsitektur yang baik bukanlah pada kemewahan materialnya, melainkan pada aspek keberlanjutan, inklusivitas, dan jaminan kenyamanan hidup bagi seluruh lapisan masyarakat.




