Mengenal Ainun, Guru Tunanetra di Tasikmalaya yang Buktikan Keterbatasan Bukan Penghalang Sabet Gelar Magister di UPI

tvonenews.com
1 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, tvOnenews.com - Ketidaksempurnaan penglihatan bukan menjadi alasan bagi Ainun, seorang guru di Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Tasikmalaya, untuk berhenti mengejar pendidikan tinggi.

Ainun berhasil menuntaskan studi magister (S2) Pendidikan Khusus di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), setelah sebelumnya meraih gelar sarjana (S1) Pendidikan Sejarah di perguruan tinggi yang sama.

Keberhasilan Ainun menyelesaikan pendidikan S2 menjadi bukti kondisi disabilitas tidak harus membatasi kesempatan seseorang untuk berkembang. Perjalanannya menempuh pendidikan tinggi juga memperlihatkan pentingnya dukungan teknologi serta akses pendidikan yang inklusif bagi mahasiswa penyandang disabilitas.

Keputusan Ainun mengambil program magister Pendidikan Khusus didasari pengalaman panjangnya mengajar di Sekolah Luar Biasa (SLB). Meski memiliki latar belakang pendidikan sejarah, ia sejak awal berkarier sebagai tenaga pendidik di sekolah khusus.

Kesempatan melanjutkan studi kemudian dimanfaatkan untuk memperdalam ilmu yang sesuai dengan pekerjaan sehari-harinya. Program Pendidikan Khusus, yang sebelumnya dikenal sebagai Pendidikan Luar Biasa (PLB), dinilainya relevan dengan kebutuhan profesinya sebagai guru.

"Makanya sekarang ada kesempatan mengambil S2 di pendidikan khusus. Itu biar sesuai dengan lapangan kerjanya, tempat kerjanya," kata Ainun dilansir dari laman resmi UPI, Minggu (25/10/2026).

Perjuangan Ainun Kuliah di Tengah Keterbatasan

Ainun mengingat masa kuliah S1 sekitar dua dekade silam sebagai periode yang penuh tantangan. Pada waktu itu, teknologi penunjang bagi penyandang tunanetra belum berkembang seperti sekarang. 

Ketersediaan komputer bicara dan laptop dengan fitur pembaca layar masih terbatas, sehingga ia harus mengandalkan bantuan reader atau orang lain untuk membacakan bahan perkuliahan.

Selain menghadapi kendala tersebut, Ainun juga mengalami persoalan keluarga yang membuat perjalanan akademiknya tidak selalu mudah. 

Namun demikian, berbagai hambatan itu tidak menghentikannya untuk terus belajar hingga akhirnya kembali ke bangku kuliah pada jenjang magister.

Pengalaman saat menempuh S2 terasa berbeda berkat kemajuan teknologi. Ainun kini memanfaatkan laptop yang dilengkapi pembaca layar NVDA untuk mengetik, membaca materi digital, serta menyelesaikan tugas perkuliahan secara mandiri.

Ia mengakui bahwa, teknologi tersebut membuat aktivitas akademiknya lebih praktis. Kehadiran teknologi itu juga mengurangi ketergantungan pada bantuan orang lain.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
MotoGP Australia 2026 Resmi Dibatalkan, Sirkuit Phillip Island Gagal Gelar Balapan Terakhir
• 5 jam lalutvonenews.com
thumb
Kirim Chat Mesra ke Istri Orang, Penghulu di Probolinggo Kena Amuk hingga Dibacok
• 2 jam lalutvonenews.com
thumb
Perkuat Permodalan hingga Rp3 T & Aset Tumbuh Positif, MNC Bank Tegaskan Kondisi Perseroan Sehat
• 10 jam laluidxchannel.com
thumb
Leo/Daniel Gagal ke Final French Open 2026 Usai Takluk dari Malaysia, Dua Ganda Putra Indonesia Tersingkir di Semifinal
• 8 jam lalupantau.com
thumb
Mantan Panglima TNI Laksamana Widodo AS Meninggal Dunia, Ini Rekam Jejaknya
• 1 jam lalucumicumi.com
Berhasil disimpan.