Gresik (beritajatim.com) – Infrastruktur pelabuhan di Kabupaten Gresik terus dioptimalkan untuk menopang kelancaran arus distribusi barang dan bahan baku industri nasional. Tiga dermaga utama yang beroperasi kini memiliki kapasitas pelayanan gabungan hingga 8,47 juta ton per tahun.
Keberlanjutan operasional layanan kepelabuhanan tersebut diperkuat melalui penandatanganan perjanjian kerja sama antara PT Petrokimia Gresik dan Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas II Gresik.
Kesepakatan ini menyusul diterbitkannya persetujuan perpanjangan kedua izin Terminal untuk Kepentingan Sendiri (TUKS) agar sementara dapat melayani kepentingan umum.
Penandatanganan dokumen kerja sama dilakukan oleh Direktur Operasi dan Produksi PT Petrokimia Gresik, Majus Luther Sirait, bersama Kepala KSOP Kelas II Gresik, Capt. Herbert Elisa Paruntungan Marpaung.
Direktur Operasi dan Produksi Petrokimia Gresik, Majus Luther Sirait, menyampaikan bahwa pemanfaatan fasilitas pelabuhan oleh pihak eksternal diharapkan mampu memperlancar rantai pasok sekaligus meningkatkan nilai produktivitas aset yang ada.
“Pelabuhan memiliki peran vital dalam menjaga kelancaran rantai pasok industri. Infrastruktur yang tersedia harus memberikan manfaat lebih luas, baik untuk mendukung operasional internal perusahaan maupun kebutuhan logistik pelaku industri sekitar,” ujar Luther, Minggu (25/10/2026).
Rincian Kapasitas Dermaga dan Potensi Pendapatan Tambahan
Dari total empat dermaga yang dimiliki Petrokimia Gresik, tiga di antaranya telah beroperasi secara aktif.
Dermaga Utama memiliki kapasitas sebesar 6,5 juta ton per tahun dan sanggup melayani sandar kapal hingga bobot 60.000 deadweight tonnage (DWT). Sementara Dermaga C berkapasitas 1,5 juta ton per tahun, serta Dermaga UBB mencapai 470.000 ton per tahun yang keduanya mampu melayani tongkang hingga 10.000 DWT.
Sejak mengantongi izin pelayanan untuk kepentingan umum pada 2022 lalu, fasilitas kepelabuhanan ini telah dimanfaatkan oleh sejumlah perusahaan industri besar. Untuk periode kerja sama 2026–2028, PT Smelting dan PT PWD tercatat sebagai pengguna jasa pelabuhan tersebut.
Selain menunjang konektivitas logistik industri di kawasan Gresik, optimalisasi ini juga berpotensi memberikan pendapatan tambahan (revenue generator) di luar bisnis utama perusahaan di sektor pupuk dan bahan kimia.
“Optimalisasi fasilitas kepelabuhanan ini diharapkan memperkuat kelancaran distribusi barang, meningkatkan nilai guna aset, serta memberikan dampak pertumbuhan ekonomi bagi mitra usaha dan kawasan industri setempat,” pungkas Luther. [dny/but]




